Life, stranger than fictions..

Welcome to my blog! It's a pleasure to have you here reading my hyperbolic scribbles. Some are archived stuff from my other blogs (inactive ones), some are brand new ideas. My words will be too much, overrated, out of line, dysfunctional, confusing, impractical and sometime don't make any sense. But in a hand, they have released my tense.
So enjoy these imaginarium of free mind. In a case you are interested to drop a line, or jes wanna appreciate any posts, don't be hesitate. Do your deed! Release those hustle-bustle inside your brain!

Showing posts with label movie reviews. Show all posts
Showing posts with label movie reviews. Show all posts

Saturday, September 01, 2012

The Thieves: Adu Pintar Antar Pencuri


Pekan ini sebuah film produksi Korea Selatan bertema pencurian barang berharga dan tipu-daya di antara para pencurinya tayang di jaringan bioskop Blitz.


 Sekelompok orang yang berprofesi sebagai pencuri barang-barang berharga di Korea Selatan pimpinan Popeye (Lee Jung-jae) ‘diundang’ untuk ikut dalam sebuah rencana besar mencuri sebentuk berlian bernilai 20 juta dollar yang disimpan di sebuah brangkas di Kasino yang ada di Hongkong. Berlian yang dinamai “Air Mata Mentari” (Tear of the Sun) ini sudah lama diincar seorang pencuri buronan polisi, Macao Park (Kim Yoon-seok), yang pernah bekerja sama dengan Popeye dan Pepsi (Kim Hye-soo) di masa lampau. Saat itu, Macao Park terlibat kisah romantis dengan Pepsi, namun ia menghilang dengan hasil curian berupa emas seberat 68 kg. Dalam rencana aksinya, Macao Park juga mengundang kelompok pencuri dari daratan Cina pimpinan Chen (Simon Yam). Chen yang merupakan pencuri kawakan, menyimpan kisah lama dengan berlian bermata jingga itu. Ia pernah sekali waktu berhasil mencuri berlian itu dan berusaha menjualnya kepada penadah barang-barang curian, Wei Hong (Ki Gook-seo), yang tak lain pemilik tangan pertama dari Air Mata Mentari. Namun, pertemuan jual-beli itu tidak sesuai kesepakatan; Wei Hong dengan sadis menghabisi rekan Chen, dan hanya memberinya 500 dollar dan kesempatan untuk melanjutkan hidup.


 Konflik di film berdurasi 2 jam lebih ini terbilang tak habis-habis; setiap karakter memiliki jejaring masalah yang kaitannya kadang luar biasa 'aya-aya wae'. Tapi jangan salah, meskipun temanya terbilang gampang terjebak kisah klise yang sering membuat para pembuat film Hollywood mati akal, The Thieves justru fresh dan sangat menghibur. Tak hanya aksi para pencuri yang membuat penonton tak sempat punya waktu memikirkan hasrat buang air kecil, namun humor, kejadian-kejadian tragis, serta bumbu percintaan yang romantis sukses ditampilkan tanpa menimbulkan kesan dipaksakan. Lancar dan natural sekali. Bahkan, teman-teman yang saya ajak turut menonton--yang notabene perempuan-perempuan yang tak begitu suka film action--merasa sangat puas. Tentunya penampilan bintang-bintang muda Korea Selatan yang tak hanya ciamik aktingnya, namun juga 'segar dipandang mata' memberi kontribusi atas kekhusyukan teman-teman perempuan tadi menyimak film panjang ini. Dan, saya sangat merekomendasikan film ini untuk Anda tonton juga, baik dengan teman perempuan, lelaki, maupun banci. Asalkan, tidak bersama anak-anak kecil.



Wednesday, June 22, 2011

Catatan Harian Si Boy: NOT the return of mas boy and the gang

Legaaa banget habis nonton film Catatan Harian Si Boy (CHSB) di press screening yang ambil tempat di XXI Epicentrum-Kuningan kemarin. Mengejutkan, filmnya segar & menghibur! Padahal terus terang saya sudah sarkastik aja, prejudis & pesimis karena sutradaranya masih anak baru, nggak punya portofolio bikin film pula. Sementara beban serial Catatan Si Boy (Cabo) terdahulu kan cukup berat tuh...


The poster. Nggak jelek..


Kalau belum tahu gimana legendarisnya film Cabo, serial yang sekuelnya sudah 4 biji ini bak film James Bond; selalu dinanti. Di zaman sekarang ya seri Hary Potter dan Twilight Saga. Bedanya, Cabo berawal dari sandiwara radio yang rutin diputar radio remaja paling hit di tahun 80-90'an, Prambor's Rasisonia. Zaman itu sandiwara radio sedang booming, dan yang segmen pendengarnya anak remaja gaul ya Cabo ini. Dengan setting kota Jakarta masa itu yang sedang tumbuh makmur dan banyak konglomeratnya (hasil KKN), maka generasi keduanya digambarkan hedon, melek fashion dan punya bahasa sendiri. Karakter utama ceritanya, si Boy, anak tajir yang demen ke disko tapi tak pernah lupa sholat 5 waktu dan rajin kuliah. Banyak icon-icon yang menjadi tren remaja diserap dr film ini: BMW ala mas Boy, tasbih yang digantungkan di kaca spion tengah, bahasa slang Boy dkk, celana jins baggy & kacamata "cengdem", dan tentu aja soundtrack klasik macam theme song Catatan Si Boy yang dinyanyikan Ikang Fawzi, Boy I Love You-nya Fairuz, Emosi Jiwa-nya Yana Julio & Lita Zein, dan Terserah Boy-nya Atiek CB.


Nah, terbayang dong gimana CHSB ini diharapkan mampu mengimbangi hip yang pernah dibuat sama 5 film Cabo? Bagi fans serial Cabo, mereka pasti berdoa supaya CHSB nggak ngrusak kenangan indah mereka tentang konflik percintaan si Boy dengan beberapa perempuan, tentang penggambaran kehidupan hedon kaum jetset lokal yg terlihat 'normal', tentang Kendi yang ganteng & jago brantem, dan tentu tingkah-laku Emon yang sangat dinanti.


Ario Bayu, "Mas Boy" buat generasi baru.

Saya enggak ngikutin gosip pra-produksi film ini, tapi terdengar cerita dari teman bahwa si sutradara (Putratama Tuta) sempat diwawancara. di sesi itu dia dipojokkan, ditanya apakah film ini remake dari seri Cabo terdahulu. Konon Tuta berulang kali menjelaskan bahwa film debutnya ini nggak menceritakan kelanjutan konflik si Boy di Cabo, melainkan memakai medium buku harian sebagai alibi memakai cast & setting yang kadung klasik itu. Tapi si wartawan nge-push, minta ada pernyataan yang mengarah ke kaitan film dengan Cabo. Jadilah sambil berseloroh si sutradara lulusan sekolah film di Aussie ini menyebut bintang utama filmnya ini adalah buku catatan harian si Boy, bukan si Boy-nya. Semua yang ada di sesi itu pun tertawa.

Dan ternyata, itu bukan gurauan. Film ini memang bukan film tentang mas Boy di Cabo dulu. Ini film yang meminjam bukunya untuk membangun sikuen cerita. Agak dipaksakan sih, tapi masih di ambang normal kok. Filmnya sendiri menceritakan kisah persahabatan Satrio (Ario Bayu), Nina (Poppy Sovia), Andi (Abimana Satya), dan Herry (Albert Halim). Mereka berempat beraktivitas di bengkel mobil dengan peran yang berbeda. Konflik muncul setelah Satrio bertemu Tasha (Carissa Putri) & pacarnya di kantor polisi. Bla, bla, bla.. yada, yada, yada. Yak, silakan tonton sendiri.


Adegan yang menurut saya keren banget angle kameranya.


Adegan pembuka di awal film--yang ujug-ujug memperlihatkan Onky Alexander sedang terburu-buru menuju ke heli pad--memang bikin misleading penonton. terutama saya, yang benar-benar kuatir kalo ini semata-mata film yang ingin numpang kebekenan seri Cabo! Tapi seiring berjalannya scene demi scene, tampaklah permainan angle kamera yang dinamis dan atraktif, visual film yang ala luar negeri (nggak taunya post-produksi dikerjain di Thailand), daaan akting Poppy Sovia & Abimana yg jempolan.. Maka saya dengan sukses menyimpulkan bahwa film berdurasi 1 jam 40 menit ini bukan remake seri Cabo. Definitely not. Yang ini beda, memakai icon-icon yang sesuai dengan zamannya, segar, dan boleh banget ditonton karena sangat menghibur.




Seluruh pemain dan kru berfoto bersama saat konferensi pers.














Buktikan aja sendiri!

Tuesday, June 14, 2011

Red Riding Hood: A Misleading (Treatment) Version Upon A World's Classic


siapa yang enggak tahu kisak klasik si jubah merah yang hampir jadi santapan serigala licik karya Grim bersaudara, A Little Red Riding Hood? sebagai penggemar karya-karya Grim yang notabene aliran pembantaian ini, hati saya girang tak terperi waktu awal tahun lalu dapat bocoran dari Rotten Tomatoes bahwa Hollywood sedang memproduksi versi layar lebarnya, yang katanya dikemas ala gothic dengan cerita yang super-twisted. double yay! YAY, YAAAY!!!

sampai akhirnya penantian lama saya berakhir kemarin. saya dapat DVD bajakannya! well as we know, we couldn't watch it in our local theaters for that tax politic. so this is probably the only solution for a less-fortunate movie-goers like moi--not that I support piracy, jes cannot afford going abroad for these. whatever.

tanpa mandi dulu, langsung saya putar cakramnya di laptop jadul...


15 menit di awal film...


...ada Billy Burke...


...werewolf-nya kayak pernah lihat? di mana, ya...


...adegan lari-lari di hutan, adegan percintaan di alam terbuka, dialog-dialog ala film India...


...rebutan cewek, deh! trus ceweknya plin-plan, malah memilih lekong yang lagaknya misterius...


...nah lho, ada yg kena gigitan, berubah jadi vampire deh! eh, werewolf ding...



same plot, same angle, same director *duhh



























*DING!*



kok kayak lagi nonton film Twilight ya?


Mook-up Twilight benerrr...




Garyyy, ngapain sih ikut maen pelm kayak giniiii???
Billy Burke, aktingnya masih Twilight banget!



The only one with good acting performance (and sexy outfit): Amanda Seyfried
Hayooo, ini sapa? Bukan Pattinson loh!





SHIIITE! This movie is directed by Catherine Hardwiiicke!








Tuesday, April 05, 2011

Dream Home: A Story of Realistic Obsessive Mind [archieve]


21 Desember 2010, saya dan teman di redaksi sebelah diundang press-screening sebuah film slasher buatan Hongkong berjudul Dream Home. Film ini tak lain adalah 'surprise movie' festival film horror dan fantasi (INAFFF) 2010 lalu. Saya dua kali datang ke festival itu; dua-duanya enggak kebagian tiket! Salut untuk tim INAFFF 2010. Semoga tahun depan lebih sukses lagi!

Back to Dream Home. Awalnya saya (agak) under estimate film yang dibintangi oleh Josie Ho ini. Meskipun saya curiga juga, kenapa film buatan Hongkong yang penampakan posternya asosiatif sama film-film Hongkong tipikal kelas B ini bisa jadi surprise filmnya INAFFF 2010. Ketika saya baca kritiknya, film ini disebut terlalu sadistis dan penuh bumbu seks. Terbayang sudah film-film horror yang penuh cipratan darah akibat tusuk-tusukan dan "tusuk-tusukan", hehehe..

Ternyata eh ternyata, to tell you the truth, menurut saya ini film slasher yg paling touchy dan realistis yang pernah saya tonton! Okelah kalau disebut penuh bumbu seksual, tapi mungkin memang itu penggambaran yang paling nyata dari kehidupan metropolitan di kota sekelas Hongkong. Diceritakan seorang gadis telemarketing yang bekerja menawarkan produk perbankan, Cheng Lai Sheung. Ia terobsesi membeli apartemen mewah yang menghadap ke arah pelabuhan. Obsesi itu berawal dari kejadian-kejadian di masa kecilnya. Sebagai anak seorang kuli bangunan, Sheung tinggal di salah satu kompleks apartemen kumuh, yang pada tahun 90-an (pasca penyerahan administrasi pemerintahan dr Inggris ke Cina) mulai 'diteror' kaum kapitalis yang ingin membangun apartemen kelas atas. 

Sheung yang pekerjaannya punya konsekuensi dimaki dan didamprat klien-kliennya itu secara psikis sudah memendam bara api dalam dirinya. Selain beban janji membelikan apartemen yang layak (baca: mewah) sebelum sang ibu meninggal, ia juga bekerja 2 shift sebagai sales di butik kecil dan telah mati-matian menabung (ia selalu menolak tawaran hura-hura rekan-rekan kerjanya setiap kali mereka habis mendapat bonus).

Perjuangan keras Sheung hampir sampai di titik puncak ketika tabungannya mencukupi (setelah mendapat klaim asuransi jiwa dari kematian ayahnya--yang tidak ia tolong waktu terjadi serangan sesak napas) dan agen propertinya berhasil membuat kesepakatan dengan pemilik salah satu unit di apartemen dambaan. Tapi naas tak bisa ditolak. Karena datang terlambat dan isu moneter, sang pemilik unit tiba-tiba menaikkan harga. Sheung pusing 7-keliling, 8-putaran...

Sebenarnya apa yang saya ceritakan di atas tidak menggambarkan penuturan visual film ini. Alur cerita yang sesungguhnya loncat-loncat, pindah-pindah semaunya. Tapi bukannya bikin yang nonton jadi keder lantas hilang selera. Justru teknik flashbacking ini membuat seluruh tindakan kriminal Sheung dapat dipahami oleh penonton. Enggak ujug-ujug berbuat sesuatu saja, seperti kebanyakan film lainnya (enggak cuma di genre horror), yang bikin kita penonton rasanya bodooo bener. 

Saya juga sangat mengapresiasi penokohan Sheung yang dibuat begitu nyata, begitu manusiawi. Sangat berbeda dg tokoh-tokoh di film horror pada umumnya yang sepertinya super-power, dilindungi oleh dewa-dewi, selalu beruntung, dan anti-sakit meskipun kena pukul atau kejatuhan macam-macam benda tumpul atau pun tajam. Sheung beberapa kali tampak sial, salah sendiri, kesakitan, hampir celaka, dll. Dia benar-benar gambaran perempuan seperti saya, Anda, ibu Anda, teman wanita Anda, yang manusia lemah itu!

Tapi kekuatan obsesi dan tekanan hidup membuat Sheung nekad menghabisi 11 nyawa tanpa ampun. Dia membawa peralatan bangunan peninggalan ayahnya, yang terdiri dari palu besar, golok dan pahat, menyerusuk masuk ke unit tepat di samping unit yang ia ingin beli. Saat itu ada 2 wanita di dalamnya; majikan yang sedang hamil tua, dan pembantu RT dari Indonesia. (Iya, beneran! Dia digambarkan lagi merapikan bed cover sambil telpon-telponan dengan pembokat Indo lain. Btw, si embak ini montogggh. Tipikal korban-korban di film-film horror Indonesia jadul, hehe). Mau tau gimana mereka dihabisi Sheung? Si embak dipukul pakai palu sampai matanya copot (dan kelak, mata itu tak sengaja terinjak tuannya!), sementara si nyonya perdarahan hebat setelah disengkat dan terjatuh ke arah depan. Lalu, kepalanya dimasukin ke kantong plastik dan dihisap pakai vacuum cleaner... 

Sembilan korban lainnya tewas dengan cara yang lebih kacau lagi. Tapi kematian mereka sebenarnya enggak sengaja, jauh dari rencana Sheung, dan cara-cara menghabiskan nyawanya seperti pembantaian yang membabi-buta (a.k.a blind pig, hehe). Well, namanya juga kepepet. Jadinya emang sadis banget. Asli sadis. Tonton saja kalau enggak percaya.

Film ini mungkin enggak akan membuat Anda ketakutan pergi ke kamar kecil sendirian, atau jadi mikir 1000 kali utk beli unit apartemen. Malahan, membuat kita kontemplasi tentang dampak sosial hidup di kota yang penuh tuntutan dan minim nilai-nilai religi; apakah kita mau (siap) diperbudak nafsu dan menghalalkan segala cara untuk memiliki yang sesuatu yang superfisial?



Wednesday, March 23, 2011

Let me in: this remake isn't that sucks! [archieve]

Akhirnya Hollywood bikin remake film horror paling keren tahun 2008, "Let The Right One In". Film Swedia yang berkisah tentang persahabatan bocah 12 tahun yang rajin di-bully teman-teman sekolahnya dengan seorang anak perempuan yang ternyata vampir ini sukses membuat film Twilight jadi garingggg banget. Well, meskipun at the end yang laris manis bak kacang goreng emang the silly one.. (pis ya, penggemar Twilight). Tapi yang banyak dapat penghargaan dan puja-puji dari pecinta film horror (dan produk audio visual secara general) adalaaaah "let the right one in" :)

Gembar gembor film remake yang judulnya diperpendek jadi "Let Me In" ini sudah santer dari awal tahun 2010. Hebohnya sampai ke diskusi panjang tentang poster yang representatif untuk film ini. Secara 'kan poster film versi Swedia-nya super keren. Jadi para fans berharap poster remake-nya bisa menyamai semua pertimbangan desain yang ciamik dari versi terdahulu. Dan, voila! Dramatis sekali.



Considerable movie poster: manusia di musim dingin akan menghembuskan asap kabut dari mulutnya (kanan). Yang kiri enggak.
Kritik pedas banyak diterima oleh film ini di awal penayangannya di bioskop. Selain cast yang kurang pas (padahal sutradara sudah habis-habisan niru versi aslinya), enggak tahu kenapa si sutradara seperti copy cat seluruh plot dan alur film aslinya, alias enggak ada modifikasi yang memberi sentuhan berbeda. Wajah sendunya Chloe Moretz (bermain sebagai adiknya Joseph Gordon-Levitt di 500 Days of Summer) memperlihatkan betapa Matt Reeves ngeri bereksperimen lebih jauh. Saya merasa Dakota Fanning lebih pantas mainin cast Abby. Ekspresi Chloe kurang haus darah, hehe. Terlalu innocent. Kalo Lina Leandersson (Eli, little vampire di versi aslinya), bisa mengeluarkan ekspresi yang terlihat sangat buas. Meskipun wajah anak-anaknya cukup meyakinkan ketika adegan 'normal'.


Wajah Chloe lebih pantas jadi korban!
Bandingkan dengan wajahnya Lina Leandersson ini.
Setting ceritanya dipilih di New Mexico, kota kecil yang (katanya) sepi dan jauh dari kehidupan kota-kota besar Amerika lainnya. Persis dengan setting terdahulu yang diambil di Blackeberg yg identik dengan kesuraman. Aduh, bener-bener dah, Matt Reeves enggak berani mengubah banyak di filmnya ini!

Meskipun versi remake ini enggak seromantis dan sesadis versi aslinya, film ini enggak jelek sama sekali. Apalagi bagi mereka yang belum nonton versi aslinya, pasti terasa 'sedap' deh. Langsung setuju bahwa film ini jauuuh lebih romantis dibanding Twilight yang maksa banget itu, hehe. Dan bagi yang sudah nonton versi aslinya, well this one is lighter and entertaining!



Atas: Eli meluk Oskar (romantiiisss banget). Bawah: Abby meluk Owen (Owen kurang chemistry).
Kiri: Kodi Smit-McPhee, aktor cilik berbakat Australia yang bakal jadi the next Leonardo DiCaprio.


PS: Enjoy the blood! ;-)

Thursday, March 17, 2011

Ada apa di bawah pohon? [archieve]

Kalau ada film berjudul “Under The Tree,” lantas apa yang tersirat di benak Anda? Inilah catatan ringan saya (khayalan menyesatkan!) sebelum pergi menonton peluncuran film besutan sutradara Garin Nugroho di Blitz GI Kamis lalu. 


Under The Tree = Undur-undur. 
Mungkin cuma saya yang langsung mengasosiasikan frasa itu dengan binatang kecil ini. Konon, sewaktu masih kecil saya doyan mengorek-orek sarang mereka. Well frankly I often did to any other, such as black ant and earthworm. Saya suka memperhatikan mereka dari jarak dekat; bentuknya bulat seperti kutu caplak, badannya berbuku-buku, dan punya sepasang claws yang cukup seram dalam pembesaran 10 kali lipat. Sebenarnya rada mirip binatang di zaman dinosaurus, nggilani juga kalau bermutasi ke ukuran seekor kucing…

Under The Tree = Parpol Zaman Orba.
Ngerti dong maksud saya? Secara sekarang sudah dekat wayahnya PEMILU, jadi parno ke situ. Mungkinkah Parpol mengintervensi area sinematografi? Possible. Begini tagline-nya: "Di bawah naungan pohon beringin, rakyat Indonesia akan meraih kembali masa-masa keemasan. Harga bahan pokok terkendali, rakyat makmur, negeri aman tentram loh jinawi…"

Under The Tree = Adem, semilir angin. Jadi pengen tidur, deh!
Ah, kalau yang ini persepsinya si Iw-iw. Terbukti benar. Tak lama film diputar, dia langsung pasang kuda-kuda molor. Mengangguk-angguk seperti anak ayam mau tidur gitu. Beberapa kali sukses terbentur bangku di sebelah kirinya. Anyway, kita nontonnya di tangga (maklum penyusup).

Under The Tree + Garin = Garin(g).
Adegan mendayu-dayu, berpanjang-panjang di simbolisasi, ending menggantung, eksploitasi perempuan dengan gerakan-gerakan tubuhnya, casts yang cantik dan ganteng, cameo seniman/figur publik, semi-dokumentasi. Buat yang biasa nonton film Hollywood, action pula, jangan coba-coba!

Under The Tree + Marcella Zalianty = Infotainmen.
Dia lagi kasus ‘kan… Pasti laler-laler media menyerbu datang, berharap si nona muncul di sana. Ini mah ditanggung terbukti. TERBUKTI! Makanya kita-kita sampai enggak dapat jatah bangku…




Last Chance Harvey: Percintaan yang dewasa? [archieve]



BEGITU ADA NAMA EMMA THOMPSON di deretan casts-nya, saya langsung tertarik dengan film ini. Saya belum pernah kecewa menonton film-film dia, even yang paling silly macam Junior dan Nanny McPee. Jadi, waktu saya bawa pulang DVD bajakannya, sudah terbayang tontonan yang menyenangkan mata dan hati.

Benar aja. Meskipun film drama percintaan komedi ini berkisah tentang romansa manusia hampir-lanjut-usia, tapi ada segi-segi lainnya yang cukup menarik dan jadi bumbu pemikat (selain akting bu Emma yang okeh banget itu): tentang hubungan anak-ortu yang broken home, tentang tindak-tanduk tetangga baru yang aneh dan mencurigakan, tentang blind date, daaan tentu saja latar kota Paddington, Inggris, yang cuwantik banget!

Excellent acting performance by miss Thompson.

Plot ceritanya masih tipikal drama romantis: ada pertemuan insidental, konflik, opposite attraction, pertemuan yang gagal karena salah satu karakter tidak sengaja mendapat musibah, ilham tiba-tiba yang membuat kedua karakter bertemu lagi, dan tentu happy ending. Masih begitu ramuannya.

Tapi film ini layak ditonton. Terutama untuk orang-orang yang mulai merasa 'sendirian' dan kehabisan kesempatan bertemu tambatan hati di usia hampir-lanjut-usia. Hubungan yang dikisahkan lewat karakter Harvey Shine (Dustin Hoffman) dan Kate Walker (Emma Thompson) memang rada unik. Dewasa, begitu saya menyebutnya. Tenang, lebih ke feeling, komunikatif, dalam. Tidak menggebu-gebu, bergairah, fisikal dan artifisial (or superficial?) seperti umumnya percintaan anak muda. Kedekatan mereka bukan terjadi karena ketertarikan fisik yang seksi nan menggoda atau perilaku cool dan kharismatik tiap karakter; justru karena 'kenyamanan' yang dirasakan setiap karakter dari karakter lain lewat percakapan-percakapan ringan seputar hal-hal yang mungkin kurang menarik bagi kebanyakan orang: buku.

Harvey dan Kate adalah representasi orang-orang pada umumnya yang selama hidupnya berdedikasi pada profesi mereka (baca: kaum proletar), kurang bergaul secara sosial, dan penampilan fisiknya ordinary banget. Harvey membuat musik untuk tv commercial, punya obsesi ingin menjadi pianis jazz. Dia workoholic, dan berusaha bertahan di kantornya di New York yang mulai diisi tenaga-tenaga muda. Suatu hari dia pergi ke London untuk menghadiri pernikahan putrinya dari perkawinannya yang gagal. Tapi apa daya, karena tak pandai bersosialisasi, Harvey tersingkir dari peran pendamping pernikahan putrinya itu, digantikan oleh suami baru mantan istrinya. Harvey patah hati. Jadilah di akhir acara malam pertemuan keluarga, dia kabur dan berencana lebih awal balik ke Amrik. Dasar sial (dasar film percintaan komedi!), taksi yang ditumpanginya terjebak kemacetan dan ketika tiba di Heathrow pesawatnya sudah take-off. Kesialannya ditambah lagi dengan pemecatan dirinya lewat telepon genggam. Keuntungannya: dia jadi pengen minum-minum dan di lounge bertemu dengan Kate. Lelaki kalau sudah minum kan jadi berani tuh? Nah, terjadilah percakapan-percakapan yang membuat mereka tak sadar menghabiskan sore bersama. Adegan Harvey dan Kate bercakap-cakap sambil jalan kaki di pinggir danau (or sungai?) di kota Paddington itu mirip film Before Sunset dan Before Sunrise. Bedanya, enggak ada physical attraction di sini. Purely about personality. Tak ada adegan ciuman juga. Hanya sekali, itu pun enggak lust. Meaningful kiss--whatever it means.

Best scene: walking-talking through Paddington's river.

Kate sendiri masih melajang di usia 40 karena dia merasa tak pandai bergaul. Dia lebih senang baca buku, mengejar impiannya menjadi penulis dengan ikut kursus 2 kali seminggu, dan menemani ibunya yang baru punya tetangga baru. Teman-teman Kate sering menjodohkan dengan sejumlah pria, tapi belum ada yg cucok. Sampai akhirnya di suatu siang dia ditegur tamu bandara di lounge saat dia sedang asyik membaca buku. Well, you'll never know when the thunder strike right? Could be anytime, anywhere..

Tonton saja sendiri filmnya. Saya enggak ingat film ini sudah pernah masuk bioskop di Jakarta atau belum. Akting jempolan Emma Thompson di film ini menghasilkan nominasi Golden Globe Award utk Best Actress. Jadi, don't ever miss it and go melow!



Thursday, March 10, 2011

Thai Movies, I'm In Love!

setelah "mabuk kepayang" dengan film horror made-in Thailand, sekarang saya mengaku tergila-gila dengan genre komedi dramanya. dalam kurun waktu 1/2 tahun, saya sudah mondar-mandir ke Blitz untuk 4 filmnya; Bangkok (Traffic) Love Story, Hello Stranger, Crazy Little Thing Called Love, dan yang terakhir The Little Comedian. semuanya bukan gratisan, hehe. film-film drama itu sebenarnya dipresentasikan dengan 'ajaib' dan konyol tak terperi. tetapi, ada satu hal yang bikin saya kepincut habis: semuanya enak ditonton!


Thai cultures attack!

oke, oke. apa pula yang dimaksud dengan enak ditonton? dalam persepsi saya, keberhasilan sebuah film menyangkut lima hal: 1) alur dan plotnya lancar dan sederhana, 2) cerita, konflik dan solusi masalahnya masih realistis atau dekat dengan kenyataan (kecuali memang film science-fiction), 3) visualnya cakep, 4) akting casts-nya mendukung cerita, alias 'normal', dan 5) ada kesan menghibur setelah ditonton. cuileeeh, kayak teori apa saja. tapi benar kok, kalau sudah begitu biasanya sehabis nonton saya akan tetap di kursi, sejenak terdiam mencerna pesan moral dari film, dan keluar teater dengan 1/2 pikiran masih mengenang fragmen-fragmen bagus film barusan...

industri perfilman Thailand memang bangkit dari kubur sejak sewindu belakangan. sebuah studio film lokal yang produktif membuat karya-karya bagus, namanya GTH--anak perusahaan dari GMM, konglomerat media hiburan di Thailand--memproduksi film-film kelas dunia, salah satunya Shutter. film horror ini yang pertama kali membuat saya kepengen terus-terusan menonton film horror Thailand (Asia) dan langsung ditaksir Hollywood.

Shutter mengangkat fenomena hantu tertangkap jepretan kamera
film-film horror GTH (dan Thailand secara umum) memiliki ciri tersendiri, sering mematahkan persepsi dominan film-film horror Hollywood yang visualnya lebay dan selalu memenangkan manusia ketika bertarung melawan kekuatan jahat/setan. dengan visual khas yang berkesan disturbing serta teknik kamera yang cantik dan dramatis, di tangan GTH cerita-cerita sederhana pun bisa berubah menjadi sangat menegangkan. contoh film horror lain produksi GTH yang patut diacungi jempol adalah Alone, sutradaranya yang dulu membuat Shutter. kisah psycho-drama yang tak terduga ending-nya ini bikin saya tercengang dan heboh mencari DVD bajakannya, lalu menonton berulang-ulang. belum lagi 4Bia dan sekuelnya, Phobia 2, juga luar biasa. kompilasi kisah-kisah yang bikin otak dan pantat menegang ini sebenarnya sangat sederhana, baik dari sisi cerita, alur dan visual. tak ada sisi yang berlebihan, bahkan banyak ceritanya diambil dari akar budaya lokal. saya rasa justru karena demikianlah mereka jadi tontonan yang menarik dan 'menghibur'.

Poster film Alone yang sederhana tapi nggilani!
salah satu film horror GTH yang sedikit slasher, tapi sangat menghibur: Body #19. asli banjir darah dan aksi kekerasan, tapi enggak semata-mata mau pamer efek saja seperti umumnya film-film di genre ini. ceritanya itu lho, dan ending-nya.. wah! apalagi konon berdasarkan kisah nyata, jadi wajar deh kalau film ini box office di negeri Tom Yam itu.

Cover DVD Body #19: Creepy banget.

haduh, keasyikan ngomongin genre horror, padahal mau pamer yang komedi drama. hehe susah memang kalau sudah kadung kagum :) well, marilah saya mulai dari pengalaman pertama menonton film Bangkok (Traffic) Love Story (BLS), shall we?

film ini enggak sengaja saya tonton. beneran. dari penampilan poster filmnya sudah tidak memikat hati. terbayang film slapstick nan blo'on ala komedi-komedi Hongkong yang dari ceritanya saja bikin enggak betah nerusin nonton. belum lagak dibuat-buat para pemainnya, wah sori dah! tapi konon, suatu hari itu saya sedang blo'on dan butuh waktu khusus menertawai sesuatu (halah, dramatisss). dan, saya merelakan satu-satunya uang limapuluh ribuan (yang lain seratus ribu, hehe) berpindah ke kasirnya Blitz...

apakah saya tertawa miris di dalam teater Audi kala itu? jawabnya: ya. tapi, saya tertawa terbahak-bahak! aduduuuh, ini film yang konyolnya tulus banget! unlike Warkop's style yang leluconnya bikin hati dan IQ sedang saya pilu, BLS sungguh mampu memberi makna lain terhadap 'serangan cinta' dan kekuatannya. you'll never know when the thunder strike 'kan? belum lagi konfliknya adalah tentang harapan seorang wanita usia 30-an yang ditinggal menikah teman-teman karibnya, lalu tersadar dia sendiri yang masih jomblo! klise tapi sangat dekat dengan fenomena di masyarakat.

Posternya enggak banget!




banyak fragmen konyol di BLS yang berpotensi bikin kita screaming 'boo', tapi karena pemainnya begitu alami menjalankan perannya jadi malah tampak manusiawi. misalnya, waktu Mei Li mabuk dan nekat mengendarai mobil, dia menabrak beton pembatas jalan dan spionnya terbang masuk ke dalam mangkok bakso Loong. atau ketika Mei Li dandan habis ketika diajak berkencan di family gathering kantornya Loong.

kegembiraan menonton film komedia drama berlanjut di film Hello Stranger (HS). saya kenal banget (maksudnya familiar) dengan pemain prianya; dia main di film horror Coming Soon, yang luarrr biasa menegangkan. tidak disangka, di film HS dia mampu berubah jadi konyol sekali. film ini menceritakan kisah perjalanan liburan dua orang asing yang tak sengaja berkenalan dalam tur ke Korea Selatan. di sana mereka gila-gilaan, berjanji tidak saling mengetahui identitas masing-masing, dan menanggung perasaan cinta yang diam-diam tumbuh. yang hebat, ending-nya. ah, mending nonton sendiri saja deh!

Dua orang gila yang bikin penonton tertawa gila. Hahaha!
setelah HS, saya tak sengaja menonton Crazy Little Thing Called Love (CLTCL). sebenarnya itu excuse saja agar bertemu teman-teman tertentu, untuk minta wangsit dan penguatan. lagi-lagi saya beruntung bisa menyaksikan film super-keren ini, selain bertemu teman-teman tadi. CLTCL merupakan format film komedi drama yang nyaris sempurna, sangat indah di visual, dan realistis di cerita dan konflik-konfliknya. pantas dalam promonya mereka bilang film ini merupakan kisah nyata dari percintaan semua orang. karena salah satu konfliknya pasti pernah kita alami di jaman awal sekolah dulu...

So sweet deh :)
sukses dengan CLTCL, saya jadi kerajingan pengen nonton film Thai di genre ini lagi. langsung buka situs Blitz, voila! The Little Comedian (TLC). gagal mengajak teman-teman biasa untuk nonton, saya pergi dengan kolega di redaksi sebelah. meskipun baru mulai pukul 20.15 dan berdurasi 120 menit, tapi film ini sungguh layak ditonton oleh semua orang. 

TLC bercerita tentang Tock, anak laki-laki usia belasan yang lahir di keluarga pelawak. ayahnya berharap dia akan menjadi penerusnya dan pelawak yang lucu. tapi apa daya, Tock tidak lucu sama sekali! malahan, adik perempuan Tock yang lebih berbakat dalam hal melucu. Tock sangat sedih. dia berpikir ayahnya tidak mencintainya. lalu dia tidak sengaja bertemu dengan seorang dermatologis cantik, yang selalu tertawa ketika Tock melawak. Tock yang sedang masuk usia puber pun jatuh cinta dengan Dr Ice (diperankan Pauline Taylor, bintang iklan Pond's). kemudian kejadian-kejadian silih berganti; sang dokter menemukan dirinya hamil, Tock bersedia menjadi ayahnya, Tock pergi menyusul Dr Ice ke Bangkok, etc. etc. nonton aja sendiri, hehe..

Pauline has ruined the focus of this movie..

film ini memang masih belum secara adil menggali konflik Plern dan Tock. padahal konflik ayah-anak pasti akan sangat menarik. sebabnya, terdistraksi urusan pubertasnya Tock! plus, wajah cantik Dr Ice yang rugi juga kalau tidak dieksploitasi. tapi ya lumayan lah, menghibur banget. perasaan penonton dicampur-aduk dengan bertubi-tubi; dari senyum, ketawa, terdiam, terharu, bahkan sampai meneteskan airmata. betul lho, film ini worth watching!


demikian hebatnya industri perfilman Thailand bisa dengan metoda dan kepercayaan diri memenangkan hati penonton di dalam dan di luar negerinya. setelah terpatri dengan mantap di genre horror, kini genre komedi drama yang mulai mengambil alih pikiran saya. kapan kira-kira animasi dari negeri gajah ini akan mulai menyingkirkan dominasi Amerika? ayo Thailand, jadilah negara produsen film bagus dan menghibur. hancurkan dominasi Hollywood, Bollywood, dan Korea! I'm 100% on your back :)