Life, stranger than fictions..

Welcome to my blog! It's a pleasure to have you here reading my hyperbolic scribbles. Some are archived stuff from my other blogs (inactive ones), some are brand new ideas. My words will be too much, overrated, out of line, dysfunctional, confusing, impractical and sometime don't make any sense. But in a hand, they have released my tense.
So enjoy these imaginarium of free mind. In a case you are interested to drop a line, or jes wanna appreciate any posts, don't be hesitate. Do your deed! Release those hustle-bustle inside your brain!

Showing posts with label my poem. Show all posts
Showing posts with label my poem. Show all posts

Friday, May 27, 2011

ya, aku ingat semua

Juni sudah di ambang pintu, suasana hati tambah tak karuan. apa jadinya aku nanti, ya? apakah akan lebih baik, atau malah terpuruk sedih? sampai detik ini tak satu pun kesempatan yang aku tanggapi. anehnya, mereka tak jua menepi. padahal aku sedang galau, bahkan untuk tertidur sejenak melupakan kerisauan saja aku rasanya tak sanggup.


di luar segala macam gelombang peristiwa yang mengombang-ambing di masa reses ini, kesadaran atas indahnya kehidupanku kian tebal. betapa hidup layak untuk disyukuri dan dinikmati! tak ada keraguan atas fakta ini.


ingatkah? aku sudah makin piawai dan mentas di bidang ini. bidang yang setengah mati aku geluti dan pelajari, dan bertahun-tahun ia menafkahi kehidupanku dan orang-orang terkasih di sekitarku.


ingatkah? sudah kukenal dan kugauli masyarakatnya, tokoh-tokohnya, orang-orangnya. mereka menjadi idola, guru, teladan, sahabat, saudara, teman, musuh, rekanan kerja. dari mereka kutahu cara yang terbaik, yang terlicik, yang terlucu, dan yang terburuk. dari mereka pula aku pelajari indahnya bersahabat, manisnya berbagi, pahitnya dikecewakan.


ingatkah? tak satu pun teman yang tetap dapat kau percayai. mereka berubah, berevolusi, berganti di setiap musim. tak banyak yang tetap setia di sampingku, tak sedikit yang mencaruti kepercayaanku dan tak sungkan menusuk dari belakang. tapi aku syukuri konsistensi melayani mereka sebagai teman yang baik. aku bangga mengenal mereka.


ingatkah? saat-saat dimana aku rasanya ingin menangis menjerit, memohon ampunan Tuhan atas beban pikiran yang tak kunjung meringan. lalu aku jatuh tergolek, digerogoti penyakit kejiwaan. aku tertatih-tatih memegang tiang terdekat, berusaha bangkit dan berlari lagi. meskipun lukaku tlah sembuh, bekasnya selalu ada dan menjadi kenangan; betapa jalan hidup ini kadang berbatu, tajam dan melukai.


ingatkah? ketika impian seakan sudah di pelupuk mata, dan dalam sekali kedipan ia menghilang entah kemana? hati ini remuk-redam, kedua telapak tanganku lembap, air mata itu meluncur tanpa bisa kukendalikan. bak ukiran es dalam pesta resepsi yang meleleh karena disinari panas yang membara, aku hancur tak berbentuk. puing-puing itu menyatu lagi hanya karena cinta seorang ibu.


ingatkah? bersujud dalam kepasrahan, meminta ampunan dan kekuatan dari-Nya di Negeri Seberang. lalu aku malah dihadapkan kepada keadaan yang duniawi dan rasanya sudah tak penting lagi. namun kobar semangat hidupku menyala, menjilati dahan ranting tertinggi dari harapan dan cita-cita. hingga aku sekarang siap untuk hidup dan menghidupi.




"The Persistence of Memory" by Salvador Dali






































ya, aku ingat semua...

Saturday, May 14, 2011

aku bertanya kepada hayat


aku: kalau ada satu waktu yang ingin kau ulang dan koreksi, momen apa itu?

kelahiranku; aku ingin tiada! biar tak kurasakan cendawan-cendawan asa dan cinta yang menyusutkan jiwa bebasku



aku: kalau kau memiliki kuasa mengatur, apa yang ingin kau ubah?

ketamakan dan ketidakpuasan



aku: kalau kau dapat kesempatan untuk melawan perubahan, apa yang kau lakukan?

menciptakan perubahan yang bermakna



aku: kalau kau diberi waktu untuk menyaksikan akhir dunia, apa rencanamu?

mengakhiri sandiwara ini, segera!



aku: sampai kini kau hidup dan menghidupi, apa yang kau cerna?

cinta tak selalu indah dan mewah



aku: tahap hidup mana kau paling kau suka?

masa depan yang tak pasti



aku: apakah yang paling kau takuti?

aku takut tak bisa mati!



Saturday, April 09, 2011

Berhenti berbicara [archieve]

malam ini aku menulis lagi. dalam arti literal; pena dan kertas. aktivitas yang dulu menjadi momen-momen penting 'tuk melegakan rongga-rongga pikiran, dan membuatku lebih waras dan awas. 


setahun ini aku acuhkan jurnal itu. aku alihkan luapan gejolak kata-kata di otak ini yang meronta ingin dibebaskan. aku lantas giat berbicara, mengumbar sejuta ucapan yang kadang bias dan bermakna banyak. aku malah jadi sakit jiwa. aku lumpuh karena tak sempurna berekspresi, tidak berkata jujur, tak sanggup berempati, berduka, memaki dan memuji. serangkaian ucapan oral yang seringkali tak ku mengerti maknanya mengalir deras bak arus sungai. aku galau dalam repertoirku sendiri.

kosong. nista. kehilangan pijakan!

aku lebih baik diam dan menulis saja. pikiranku ternutrisi, perasaanku damai, mata hatiku kian tercerahi. membaca kehidupan, lalu menulis perasaanku. bukankah itu yang diajarkan-Nya? aku sungguh insan bodoh yang tak juga mengerti penjelasan alam semesta lewat tanda-tanda!

di sinilah sekarang aku terdiam dalam sunyi yang abadi. namun ada ocehan-ocehan ribut dalam relung jiwaku. cerita-cerita tragedi, komedi, ironi. semua yang ku alami setiap hari. tidak, mulutku terkunci rapat. biar penaku yang menari lincah mengejawantahkannya di atas kertas-kertas ini. biar aku sendiri yang tergelak, menangis, atau tersenyum. sebentuk asa ingin ku rajut kembali, agar jiwaku penuh, lukaku kering. biar aku mampu untuk kembali jujur dalam memuji, memaki, meratap, mengapresiasi. lakukan, lakukanlah ini selalu!

berhentilah terlalu banyak berbicara!


courtesy of silviakusada.wordpress.com

Tuesday, January 25, 2011

Releasing [my poem]

harusnya kita bertemu.
tapi rasa takut mengalahkan keinginanmu.
entah apa, kamu diam seribu bahasa.
mungkin takut semuanya akan berjalan sesuai harapan.
kadang yang didamba lebih baik tidak menjadi kenyataan 'kan?

lalu aku bagaimana?
aku harusnya sedih, marah, kecewa.
aku sedih, marah, kecewa.
tapi apa gunanya?
aku sudah lelah.

hidup telah begitu baik & penuh pengertian.
apakah aku harus merusaknya?
insiden ini sekadar bumbu penambah nikmatnya kenangan.
aku akan tersenyum saja ketika mengingatnya.
meski ada saat aku akan menangis juga.

tapi, kini aku sudah memaafkanmu.
tak ada lagi ragu & pagu.
yang lalu biar berlalu.
waktu yang akan membantu.



seperti katamu dulu.