Life, stranger than fictions..

Welcome to my blog! It's a pleasure to have you here reading my hyperbolic scribbles. Some are archived stuff from my other blogs (inactive ones), some are brand new ideas. My words will be too much, overrated, out of line, dysfunctional, confusing, impractical and sometime don't make any sense. But in a hand, they have released my tense.
So enjoy these imaginarium of free mind. In a case you are interested to drop a line, or jes wanna appreciate any posts, don't be hesitate. Do your deed! Release those hustle-bustle inside your brain!

Showing posts with label Love. Show all posts
Showing posts with label Love. Show all posts

Thursday, February 03, 2011

[archieve] Penelope: Saatnya menerima keunikan

Penasaran banget waktu diajak nonton screening film ini. Selain ada nama James Mc Avoy, ada pula Christina Ricci yang konon kurang bagus hoki keaktrisannya di belantara Hollywood. Lebih aneh lagi, terseliplah nama Reese Witherspoon sebagai pemeran pembantu. Kok mau jadi pembantu? Hm, mungkin dengan dukungan aktor-aktor hebat, hoki si Christina Ricci bisa berubah...


Kenapa Reese enggak jadi pemeran utamanya?


Anyway, film ini bercerita tentangg perjalanan hidup seorang gadis yang lahir dengan hidung babi (it’s true! babi, pig. yes, that oink-oink creature!) bernama Penelope. Penelope dapat hidung babi gara-gara kutukan yang menimpa nenek moyangnya. Konon orang-orang (dan keluarganya) percaya bahwa kutukan itu bisa hilang kalau Penelope dinikahi oleh pria berdarah biru yang total mencintainya. Fairy tale banget ya?


Seisi kampung gempar dengan kehadiran anak berhidung babi!
Nah, secara si Penelope golongan bangsawan, ortunya over-protektif karena segala tindak-tanduk mereka menjadi konsumsi publik. Mereka setiap hari dikejar-kejar paparazzi. Emaknya Penelope pernah memukul seorang wartawan bernama Lemon yang ketangkap basah bersembunyi di dapurnya, sampai-sampai satu mata si wartawan itu buta dan dia trauma banget sama emaknya Penelope!


Lemon, paparazzi yang kehilangan satu mata oleh emaknya Penelope.
Merasa anaknya 'aneh' dan in general buruk rupa karena berhidung babi, si emak pun nggak membiarkan Penelope bersosialisasi di luar rumah karena menyangka orang-orang hanya akan menyakiti hati Penelope. Sampai akhirnya Penelope sudah cukup besar untuk menikah, emaknya pun nyewa jasa EO untuk mengadakan audisi calon suami. Tentunya dengan syarat berlatar belakang keluarga bangsawan, seperti tuntutan kutukan zaman nenek moyangnya Penelope dulu. Dan biar filmnya seru, prosesnya dibuat nggak gampang. Banyak calon yang gagal karena setelah lihat wajah perempuan berhidung babi itu, mereka langsung loncat dari lantai 2 saking jijaynya. Bahkan ada satu kandidat yang sampai benci banget sama Penelope. Tapi ya ada juga satu yang akhirnya fall in love with her.. Yah tipikal drama komedi romantis, lah! 


Salah satu peserta audisi, Edward, syok melihat penampakan Penelope.
Max jatuh hati dengan kecerdasan Penelope, bahkan tanpa tahu penampakan si hidung babi itu.
Trusnya, bla-bla-bla, yada-yada-yada. Silakan ditonton sendiri. Terus terang secara cerita film ini nggak terlalu menarik utk saya, tapi ada hal yg menonjol dr film ini: art directing-nya bagus. Setiap frame kelihatannya direncanakan dengan hati-hati. Semua items--property, warna, wardrobe--dipadu-padan dengan bagus. Meski kontras, tapi harmonis. Jadilah presentasi film ini (menurut saya) sedap dipandang mata. Hampir sekelas dengan Amelie, atau The Boy in Stripped Pajamas.


James Mc Avoy looks very cute in this movie..

Salah satu frame visual yang jadi favorit saya di film ini. Cakep!
Btw, mau kasih bocoran nih untuk yang belum nonton filmnya. Sedikit. Ternyata kutukan Penelope hilang bukan karena ciuman dari si pangeran berkuda putih seperti dugaan orang-orang. Tapi justru ketika si gadis berhidung babi itu dengan full-consciousness merasa utuh dengan segala apa yg ada pada dirinya. What's the problem with hidung babi? Beda-beda tipis kan sama orang-orang yang berperut busung bak babi? Hehehe, bukan gitu ding pesannya... Maksudnya, terima aja apa yang sudah dikaruniai oleh Sang Pencipta. Kalau ada yang rasanya 'kurang', jangan terlalu fokus ke situ. Masih banyak yang wajib disyukuri dan digali potensinya, biar bisa jadi manusia yang 'utuh'. 



Ayo, ayo, ditonton! :)
Dalem pisannn.

Sunday, January 30, 2011

Sonata di stasiun kereta [teaser part 01]

Sudah lama Soni menunggu di bangku Stasiun Kota, hampir genap dua jam. Tidak biasanya dia bisa bertahan selama itu. Sungguh sebuah dorongan moral yang kuat yang meneguhkan dirinya untuk menanti dalam ketidakpastian. Ini gila, serunya dalam hati. Mana mungkin perempuan itu memegang janjinya? Kita baru bertemu sebentar, belum banyak hal yang dia ketahui darinya. Mengapa aku bisa sebodoh ini, makinya. Kepalanya tertunduk dalam-dalam.

“Kepada para calon penumpang kereta ekspres jurusan Bogor, diharap menunggu di jalur empat.”

Itu sudah kali ketiga kereta yang harusnya dia tumpangi melintas dan menertawai kekukuhannya. Ada apa bung? Engkau pikir di zaman ini masih ada romantisme picisan macam novel-novel angkatan pujangga baru; yang memberi selembar sapu tangan (bukan terbuat dari sutra pula!) untuk mengikat janji? Aku pasti sudah usang dan kelu terhadap dunia yang selalu ku anggap munafik dan penuh tipu-daya sehingga bisa dengan mudahnya aku mempercayai kenaifan dan ketulusan yang terpancar dari sepasang mata itu. Soni merutuk sendiri.

Tapi, dia lantas terpesona pada ingatannya.

Mata itu. Aku belum pernah melihat kelembutan dan kepasrahan yang sebegitu jelasnya. Sinarnya. Ya, sinar matanya laksana lentera yang mencerahkan. Tiba-tiba kekuatan yang sempat memapar jiwanya menebal lagi. Teringat dia pada pancaran sepasang mata yang, --wah, sebenarnya tidak ada yang begitu istimewa dari mata itu, sungguh. Malah agak kuyu. Ya, begitulah. Tapi pandangannya cerdas, lembut, menenangkan. Sepertinya si pemilik sudah seringkali menjadi saksi atas bermacam tragedi sehingga tak ada lagi yang perlu dikhawatirkan dalam hidupnya.

“Gila!” seru Soni lagi sambil menepis peluh yang mengalir perlahan dari dahinya. Dia tersenyum saja melihat jarum jam tangannya bergeser pelan, mengarah ke pukul 8. “Seharusnya aku sudah di rumah!”



***



Awal ceritanya bermula ketika Soni berangkat ke kantor seperti biasanya dari Stasiun Bogor. Senin, sekitar pukul 7, jelas Soni sudah tertinggal kereta ekspres yang hari itu berangkat tepat waktu di pukul 6.40. Karena kereta selanjutnya baru muncul pukul 7.40, maka dia serta-merta menaiki kereta ekonomi pukul 7.15. Soni paham konsekuensi menumpang kereta non-ekspres; selain tidak nyaman, kereta ini patuh berhenti di setiap stasiun. Mulai dari Cilebut, Citayam, Depok, sampai stasiun-stasiun kecil seperti UI atau Cawang. Dan pemberhentiannya adalah di Stasiun Gambir, kereta ekonomi tidak diperkenankan berhenti di sana. Soni sudah mengantisipasi dengan turun di Stasiun Juanda, lantas naik ojek ke kantornya yang terletak di bilangan Thamrin. Terbayang dirinya akan mengalami hari yang panjang saat itu. Tapi, Soni tidak menyesalinya…

Setelah bergerak lamat-lamat meninggalkan Stasiun Kalibata, sekelompok orang masuk mendorong penumpang-penumpang lain yang sudah bergelantungan sejak dari Stasiun Lenteng Agung. Sesaat dia tak memperhatikan suasana di sekelilingnya dan terus mendengarkan musik yang dialunkan dari iPod-nya, namun dalam sejurus Soni mendongakkan kepala ke arah perempuan yang kini berdiri di hadapannya. Perempuan itu sedang memandang kosong ke arah pemandangan di luar jendela di depannya, sambil satu tangannya mencengkram tuas kereta dan tangan lainnya memegang sebuah tas kulit coklat. Dari pakaiannya Soni menebak dia pasti bukan orang kantoran, karena meskipun memakai atasan blus formal tetapi dipadu bawahan jins yang sudah pudar warnanya. Perempuan ini tampak tidak memakai riasan yang tipikal karyawati, ya begitulah. Hanya bedak dan, oh dia tidak memakai pewarna bibir pula. Sepatunya pun model kasual, solnya karet dan rata saja. Entah pekerja di pusat perbelanjaan, agen asuransi, atau mungkin mahasiswi sebuah perguruan tinggi.

Ketika sedang asyik memperhatikan, tiba-tiba mata Soni bersirobok dengan perempuan itu. Itulah kali pertama dia tersambar eforia yang tak dimengertinya. Tidak diduga pandangan dari perempuan itu sama sekali tidak mengintimidasinya, tidak seperti pengalaman-pengalaman lain ketika dia usil tertangkap basah sedang memperhatikan seseorang. Justru Soni merasa disapa dengan ramah dan ada aliran gelombang persahabatan yang secara elektris disalurkan dari sinar mata itu. Alih-alih mengalihkan pandangan, Soni tersenyum dan tanpa sadar mengucap “halo,” yang kemudian dibalas dengan sopan oleh perempuan itu. Dia lalu memalingkan pandangannya kembali ke pemandangan di luar sana.

Soni menunduk. Mengapa dia ingin sekali melanjutkan pembicaraan? Apa kira-kira topik yang dapat menarik minat perempuan ini?








Wednesday, January 26, 2011

Kisah Saraswati & Bima: Pertemuan [teaser 3]

(the agony ends here)



“Saras!”

Rasanya jantungku berhenti berdegup. Di musim dingin yang berkepanjangan ini suasana hatiku tidak karuan, selalu emosional. Mungkin pengaruh kedinginan, atau kebosanan akut akibat empasan badai-badai salju yang jadi menahanku berdiam di apartemen. Kedinginan yang tak hanya jasmani, juga rohani. Hans, suamiku, pun tak mampu menghangatkan jiwaku. Karena sejak aku menerima lamarannya sepuluh tahun lalu, aku sadar aku akan hidup dalam kebohongan. Dia hanya pelarianku. Pelarian dari sosok lelaki di hadapanku kini. Lelaki yang sekarang wajahnya terlihat lebih tirus, kulitnya lebih gelap, rambutnya lebih berantakan. Sebentuk tas ransel tua hinggap di punggungnya. Punggung itu, aku ingat dulu pernah merengkuhnya. Dulu sekali. Aku tak pasti, mungkin 12 tahun yang lalu. Ya, 12 tahun yang lalu.




“Aku mau bilang sesuatu.”

Tangan lelaki itu menggapaiku. Ada aliran elektrik menjangkiti kulitku yang tersentuh kulit tangannya. Ya Tuhan, aku benar-benar membeku! Tapi darahku mengalir deras, tubuhku kepanasan. Dan, oh apa ini yang membuat dadaku tiba-tiba berdebar keras? Kedua kaki ini, mengapa lemas sekali? Telapak tanganku pun mulai melembab, rasanya aku tak akan lama bertahan dalam kesadaran..





“Saras, aku.. aku..”

Aku tak tahan lagi. Mengapa harus ada penjelasan, mengapa? Tak perlu ada kata-kata, aku bahkan tak butuh apa-apa lagi. Toh jiwaku sudah hancur berantakan dihantam pukulan gulir masa dan kenangan yang kejam menertawai pertahanan lemahku. Bagai seuntai bulu aku tertiup hasratku sendiri, laju menuju pelukan lelaki itu. Dan pertemuan dua fisik ini seperti yang seharusnya; seperti kayu yang tersambar api dan mereka menyatu, dan tak mungkin terpisahkan lagi. Dan aku merasa waktu berhenti berjalan. Damai. Tiada beban keduniawian yang melelahkan. Tiada suara-suara rengekan ketiga anakku, suara dramatis penyiar televisi yang menyebar kekalutan dari setiap tragedi, suara alarm pagi yang memecahkan syaraf otakku, suara mesin kopi dan microwave laknat yang menghilangkan kenikmatan makan. Tiada apa-apa lagi. Hidupku sudah tercukupi sekarang. Aku siap mati, Sang Pencipta!





“Saras?”





“Sshh.. Bima, tak perlu. Peluk aku saja.”









Den Haag, South Holland. Mid of November 2010

Tuesday, January 25, 2011

Do you love me? [Rumi]

A lover asked his beloved,
Do you love yourself more
than you love me?

The beloved replied,
I have died to myself
and I live for you.

I’ve disappeared from myself
and my attributes.
I am present only for you. 


I have forgotten all my learning,
but from knowing you
I have become a scholar.

I have lost all my strength,
but from your power
I am able.



If I love myself
I love you.


If I love you
I love myself.








Releasing [my poem]

harusnya kita bertemu.
tapi rasa takut mengalahkan keinginanmu.
entah apa, kamu diam seribu bahasa.
mungkin takut semuanya akan berjalan sesuai harapan.
kadang yang didamba lebih baik tidak menjadi kenyataan 'kan?

lalu aku bagaimana?
aku harusnya sedih, marah, kecewa.
aku sedih, marah, kecewa.
tapi apa gunanya?
aku sudah lelah.

hidup telah begitu baik & penuh pengertian.
apakah aku harus merusaknya?
insiden ini sekadar bumbu penambah nikmatnya kenangan.
aku akan tersenyum saja ketika mengingatnya.
meski ada saat aku akan menangis juga.

tapi, kini aku sudah memaafkanmu.
tak ada lagi ragu & pagu.
yang lalu biar berlalu.
waktu yang akan membantu.



seperti katamu dulu.








Wednesday, January 19, 2011

Kisah Saraswati & Bima: Surat perpisahan Saraswati [teaser 2]

to: Bima 
fr: Saraswati 

ketika kamu membuka surat ini, aku sudah pergi jauh. aku memutuskan untuk mengambil beasiswa ke Negeri Kincir Angin itu, seperti saranmu. aku harap ini dapat kulakukan dengan baik karena sesungguhnya aku tak mau pergi. aku tak yakin aku bisa menjalaninya. 

bukan, bukan aku meragukan kemampuan akademisku. seperti yg sering ku ungkapkan, rancang bangun sudah menjadi motor yang menggerakkan jiwaku. aku akan mati tanpa menggali pengetahuan teknik sipil & arsitektur. kamu tau kan bagaimana kelakuanku saat kita menyusuri bangunan-bangunan tua yang indah di Jakarta Kota, Singapura, dan London? aku trance! aku bisa hidup di saat itu saja, kamu tau? rasanya aku sudah pulang ke rumah, aku tak perlu kemana-mana lagi.. 

tapi Bima, belakangan gairahku tidak semata untuk bangunan. jiwaku memang haus akan pengetahuan seputar teknik sipil & arsitektur. tapi ragaku butuh yang lain; dia mendambakan kamu. kamu! aku bisa membayangkan ekspresi wajahmu yg siap-siap terbahak. tertawalah, Bima! namun ini bukan bahan candaan yang biasa aku buat. ini dari dalam hatiku, yang terdalam. 

ya Tuhan, aku ngomong apa sih? aku juga bingung, Bima. aku selalu bertanya, mengapa lelaki semenarik kamu bisa berjam-jam menghabiskan waktu dengan perempuan seperti aku? tahukah kamu bahwa keberadaanmu di dekatku merupakan siksaan terberat hidup ini? aku tersiksa! kamu mau tau kenapa? karena seluruh tubuhku, mulai dari ujung rambut sampai ujung kuku kaki ini, sangat ingin merengkuhmu! 

aku mulai merasakan getaran-getaran aneh itu saat kita membahas desain interior museum seni new york di pojok perpustakaan nasional sore itu. kamu masih ingat? saat kamu tak sengaja menyentuh tanganku ketika ingin menunjukkan halaman 234? aku seperti kena setrum saat itu. aneh. aku tak tau itu apa, tapi aku tau aku harus menjauh darimu. tapi mengapa saat kita di warung roti bakar dua malam selanjutnya, kamu malah menangkup wajahku? aku tidak bisa kamu sentuh, mengerti? malamnya tubuhku meraung, meronta, menjerit, meminta sentuhanmu lagi! 

aku bersyukur setelah itu kamu sibuk dan banyak pekerjaan. telpon-telponku pun jarang kamu angkat. terima kasih, Bima. aku tau aku bodoh dan sakit, tapi aku mendapat pelajaran yang tersirat. aku lalu memaksakan diri untuk bergaul kembali dengan Ita, Rintha, Dewi dan Sanggar. perempuan-perempuan itu pembicaraannya tak aku mengerti! tentang sepatu, baju, salon, pria-pria pesolek yang lemah, orang-orang kaya yang tak tahan terkena pancaran sinar mentari dan terlalu mengagungkan nilai materi.. 

jadi, aku terima saja beasiswa itu. aku sudah tak tahan lagi dalam jerat ini. pagi tadi aku sudah terbang ke seberang sana. aku tak sanggup berpamitan denganmu, maafkan aku. aku tidak bisa lama-lama dekat denganmu. aku tau pertahananku akan luluh saat melihat wajahmu, menjabat tanganmu, memeluk tubuhmu... 

semoga kamu mengerti tindakanku selama ini. aku tau kamu tak mungkin balik mendamba aku. aku semata teman diskusimu tentang rancang bangun 'kan? seperti katamu selama ini. aku merasa tak pantas berdampingan denganmu. teruskanlah hubunganmu dengan Alice, atau Karin. mereka perempuan-perempuan yang sempurna untukmu. aku mendoakan semoga salah satu dari mereka akan menjadi pilihan hatimu. 

aku lega bisa jujur denganmu, meski lewat tulisan. sekarang aku akan belajar melupakanmu. melupakan siksaan nikmat saat di dekatmu. aku tau ini berat, tapi adalah yang terbaik bagi kita. 

jaga dirimu baik-baik, ya? 

temanmu, selamanya.. 

SARASWATI 






Saturday, January 15, 2011

The end of the affair: Ketika cinta berakhir, dimana Tuhan berada?

“Kau tak perlu takut. Cinta tidak berakhir, hanya karena kita tidak saling bertemu. Bukankah orang tetap mencintai Tuhan, meski seumur hidup mereka tak pernah bertemu denganNya?”
“Bukan seperti itu cinta kita.”
“Kadang-kadang aku tak percaya ada cinta yang lain dari itu.”
 

Itulah sepenggal percakapan antara Maurice Bendrix, seorang novelis, dan Sarah Miles, istri sahabatnya, yang menjalin cinta rahasia dengan latar perang dunia kedua di London. Kisah fiksi dramatis mereka—dikarang oleh Graham Greene di buku “The End of The Affair”—baru selesai saya baca. Novel setebal 370-an halaman ini punya multitasking content dan memiliki semua aspek yang saya cari di sebuah fiksi: drama, misteri, intrik percintaan, pencarian atas makna kehidupan, dan ironi. Dialog-dialog setiap karakter (baik di antara mereka atau dengan diri sendiri) terasa begitu dalam, bersayap, dan menyentuh perasaan. Di luar intrik perselingkuhan cinta yang penuh hasrat dan mengalami pasang-surut sesuai kepingan fakta yang satu per satu tersusun hingga akhir cerita, esensi novel ini tak lain mempertanyakan keberadaan Tuhan: apakah Dia selalu membuat penderitaan bagi manusia sebagai ‘tanda’ bahwa mereka masih hidup? 

Begini kisah percintaan terlarang Bendrix dan Sarah dimulai: Maurice Bendrix hendak menulis novel yang salah satu karakternya berprofesi sebagai pegawai pemerintah. Untuk menghidupkan karakternya, Bendrix berkenalan dan berteman dengan Henry Miles, pegawai di sebuah departemen. Henry tak menyadari dirinya dijadikan obyek sampai novel Bendrix akhirnya diluncurkan. Dalam proses penulisan, Bendrix banyak berinteraksi dengan istri Henry, Sarah. Sarah adalah wanita yang cantik, anggun, dan tampak percaya diri. Ketika mereka terjerumus ke perselingkuhan, banyak hal yang sedikit demi sedikit mereka padu dari masing-masing kelemahan. Dan selalu menjadi ironi dari hubungan yang tidak wajar; mereka rupanya malah saling menemukan dan tak punya apa-apa lagi untuk dibagi, selain saling menyakiti! 



Mereka lalu menjaga jarak. Bendrix pergi dan menghindari Sarah. Karena kelihatannya tak ada usaha Sarah untuk menghubunginya, Bendrix terperangkap dalam rasa dendam dan kebencian—terutama kepada Tuhan, sampai suatu saat ia bertemu lagi dengan Henry. Keinginan Bendrix untuk mengetahui kabar Sarah menggelora. Mereka pun bertemu lagi, kali ini Bendrix berusaha menutupi kerinduannya dan tampil sebagai seseorang yang kuat. Tapi Sarah malah mengajaknya makan siang di tempat kenangan mereka, dan pertautan terjalin kembali. Lalu perasaan cinta tumbuh dengan subur. 

Tapi cinta kemudian menjadi sebuah keadaan yang membingungkan. Ketika Bendrix yang tak percaya Tuhan dan selalu meragu, dan Sarah yang terlihat tegar namun rapuh di dalamnya, menyadari bahwa mereka sudah menguras habis cinta mereka dan tak ada lagi yang tersisa untuk orang lain, mereka malah harus menghadapi musuh terbesar kehidupan: kematian. Saat tidak ada lagi cara untuk menemukan kebahagiaan bagi satu karakter karena karakter pasangannya sudah tiada, apakah ada cara lain untuk membuat kehidupan jadi bermakna saat obyek kasih sayang direnggut kematian? 



Saya penggemar berat Romo Mangun’s ‘Burung-burung Manyar’, dan novel ini mampu mengembalikan keasikan yang sama. Setiap kalimatnya menghidupkan imajinasi tentang kehidupan gloomy ala London pra-perang dunia kedua, pertemuan-pertemuan rahasia Bendrix dan Sarah, bom-bom yang meledakkan sebagian gedung-gedung di London, dan tingkah-polah mr. Parkis dan anaknya ketika sedang menguntit mrs. Miles. Dan tidak heran kalau Graham Greene piawai benar menggambarkan ambient di cerita ini, karena cerita ini konon pernah dialami sendiri oleh mantan jurnalis di The Times - London, agen rahasia di Sierra Leone, pengelana yang pernah berkeliling dunia dan saksi dari beragam insiden penindasan kelompok minoritas di dunia ini. 



Kisah Saraswati & Bima [teaser 1]



sejenak cerita ttg agoni..


di suatu masa, tersebutlah seorang pria bernama BIMA yang lebih nyaman dengan dirinya sendiri. dia pikir hidupnya sudah cukup, tak perlu kemewahan untuk didampingi lawan jenis yang tentu tak mungkin akan memenuhi semua kriteria dari seseorang yang dianggapnya sempurna. 

tapi Pemilik Hidup memberinya kejutan. tiba-tiba, perempuan itu berwujud, solid berada di depan batang hidungnya: SARASWATI!

memang, tak ada sisi fisik yang menarik hasrat untnk dekat dengan dia; wajahnya biasa, tubuhnya biasa, rambutnya biasa, hidungnya tak bangir, kulitnya pun coklat biasa. itu tadi kalau tak mau kasar menyebut kekurangan fisik si perempuan yang bentuk tubuhnya tak proporsional di segala sudut. ya, gambaran perempuan biasa saja yang di keramaian begitu membaur, kecuali dia memakai baju berwarna seronok..

tapi Bima tak perlu sulit-sulit mencari wajah perempuan itu di benaknya. kenangan tentang Saraswati tak pernah lekang dari alam pikiran Bima. bukan, bukan wajah bulat berdahi lebarnya yang di beberapa tempat ditumbuhi jerawat itu yang membuat Bima kadang tersenyum sendiri. bukan pula bibir tebal kecoklatan atau dada ratanya, atau selera buruk berpakaian perempuan itu. bukan. masih ada 1001 perempuan lain yang lebih indah untuk diingat penampilannya oleh Bima, percayalah.

sesuatu lainnya yang membuat Bima tak henti ingin selalu meluangkan waktu dengan Saras: kegembiraan saat mereka menghabiskan waktu mendiskusikan hal-hal yang terkadang dipikir Bima hanya dia saja yg menyukai dan mengetahui; kenyamanan saat suara perempuan itu mengagumi dan mengapresiasi fakta atau informasi baru yang dia berikan (sejak dia kenal Saraswati, Bima tak kenal waktu menggali segala hal yang disukai Saraswati); dan yang lebih membingungkan namun dirindukannya adalah sensasi yang menyeruak di bawah kulitnya hingga sekonyong-konyong darah di nadinya memburu--seolah-olah ingin pecah--setiap saat mereka sedang berdekatan!

apa yang terjadi padaku? tanya si pria. tak ada yang istimewa dari Saraswati, pikir Bima. tak ada. kecuali ketulusannya memperhatikan kesehatan dirinya yang gemar merokok dan tidur hingga larut malam. hanya itu. dan mungkin kesediaannya mendengar keluh-kesah di saat dia terperangkap masalah pekerjaan. ditambah, kata-katanya yg entah bagaimana dapat mendamaikan jiwa. itu saja, ya. ah, satu lagi. kepeduliannya terhadap sesama, termasuk kepada binatang-binatang telantar yang dengan suka-cita dipelihara di rumahnya yang sudah penuh sesak dengan binatang. dan tentu, kesukaannya membawa hasil masakan eksperimental, yang tak jarang rasanya luar biasa tidak enak!

dan sekarang Saraswati seakan berada di benua yang lain, dengan teman-teman barunya. perempuan itu bagai burung yang terbang lepas di angkasa, sulit utk dijerat kembali ke penangkaran hati Bima. dia sudah melupakanku, pikir Bima. pasti karena kata-kataku yang menyakiti hatinya. kata-kataku menyakiti hatinya, iya, mungkin begitu. "Aku terlalu sibuk dengan diriku dan pekerjaanku. Aku dapat apa? Aku kehilangan Saraswati." Bima menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.

Bima merasakan bagaimana hari demi hari berlalu dengan hampa. ada yang hilang dan meninggalkan celah kosong di hatinya. lubang itu menganga, namun tiada yang mampu menutupnya. tak juga kesibukan kerja atau wajah-wajah perempuan cantik yang setiap hari ditemui dan dicoba untuk diakrabinya. tetap tak bisa.

di relung hatinya bersemayam pertanyaan yang tak kunjung dicarikan jawabnya: akhir apa yang kau kehendaki, Bima?



"Women Sadness" by Keti Haliori [visit her at www.keti-haliori.com]

Love has nothing to do with the five senses [Rumi]





Love has nothing to do with
the five senses and the six directions:

its goal is only to experience
the attraction exerted by the Beloved.

Afterwards, perhaps, permission
will come from God:

the secrets that ought to be told with be told
with an eloquence nearer to the understanding
that these subtle confusing allusions.

The secret is partner with none
but the knower of the secret:


in the skeptic's ear
the secret is no secret at all.








Mathnawi III, 1417-1424