Life, stranger than fictions..

Welcome to my blog! It's a pleasure to have you here reading my hyperbolic scribbles. Some are archived stuff from my other blogs (inactive ones), some are brand new ideas. My words will be too much, overrated, out of line, dysfunctional, confusing, impractical and sometime don't make any sense. But in a hand, they have released my tense.
So enjoy these imaginarium of free mind. In a case you are interested to drop a line, or jes wanna appreciate any posts, don't be hesitate. Do your deed! Release those hustle-bustle inside your brain!

Tuesday, April 24, 2012

hampir setahun..

Sebentar lagi April akan usai. Mei datang. Mei, setahun yang lalu saya dan teman-teman resmi dipecat dari perusahaan yang sudah hampir 11 tahun menampung kreativitas saya. Tidak ada kesal atau sesal, justru berkat tersendiri karena niatan untuk meninggalkan kantor itu sudah saya rencanakan setahun sebelumnya. Dan ketika kabar itu datang, saya seperti menjadi makhluk Tuhan yang paling beruntung karena bisa mewujudkan rencana resign dan dapat duit pesangon pulak! Dan alhamdulillah langsung mendapat tempat bounching di sebuah penerbit buku yang mengizinkan saya pergi umroh di awal-awal kerja.

Anyway. Setelah keluar dari perusahaan media cetak terbesar di Indonesia itu hidup saya bagai biduk di lautan yang ganas ombaknya (ih, model lirik lagu slow-rock teteh Nike Ardilla saja ini!); setelah 7 bulan tersiksa menjabat posisi manajer redaksi sebuah penerbitan buku (ah saya memang tidak bisa jadi bos!), selanjutnya hampir setiap bulan saya gonta-ganti proyek kerjaan yang sering kali tak jelas deskripsi dan honornya. Mulai dari ghost writer di lembaga konservasi alam, penerjemah lepas, panitia pameran buku, penggalang massa awak media, tukang survei calon narasumber, pemandu pewarta dokumentasi asing, kontributor situs kumpulan ibu-ibu sosialita, kontributor majalah organisasi tanggap bencana, hingga staf rupa-rupa di ikatan alumni kampus. Semua tidak direncanakan. Jangan kata terpikir, kadangkala ketika di tengah menjalaninya saya merasa sangat takjub bisa ada di situasi itu. Seperti antara sadar dan tak sadar, tapi tak berdaya untuk mengatur atau berbalik badan. 

Kalau diingat-ingat, sebenarnya apa yang saya hadapi saat ini merupakan pemberian Tuhan yang telah lama saya idamkan: eventually I become an independent writer. Wooow, pintu itu sudah terbuka luaaas buat sayaaaa *girang-girang nari sesuka hati, ala orang gila*

Nggak ngerti kenapa foto ini yang saya upload.
Perhaps I really had a wonderful trip when I was here.
Thanks to Nia, my far away buddy ;-)
Namun, ya gitu deh. Segala sesuatu yang baru dimulai pastilah tidak mudah alias susah dan banyak tantangannya. Apalagi saya sudah terbiasa hidup dengan gaji bulanan dan bonus-bonus kejutan ala kantor lama. Dan sepertinya hidup memang tak akan pernah jauh dari aneka masalah dan tantangan. Begitu juga dengan 'hidup baru' saya. Setelah eforia punya duit banyak dan pekerjaan baru yang relatif keren di penerbit itu lewat, kini saya sungguh-sungguh memulai dari nol. Uang yang tersisa sudah habis saya pakai membangun rumah idaman (ibu) saya. Bles! Tinggal simpanan dalam bentuk reksa dana, asuransi, dan mobil kunyit Chevy Spark yang saya beli gara-gara kelelahan harus ganti angkot 5 kali plus ojek sekali ketika kerja di Ciputat. Ya, mungkin terdengar silly untuk sebagian orang yang pernah dalam kondisi lebih ekstrem. Tapi kondisi ini buat saya berat. Saya tipikal orang yang selalu dalam posisi keuangan yang aman. Seburuk-buruknya keuangan, paling tidak saya punya dana likuid 20 juta di tabungan. Kali ini, saya cuma punya tak sampai separuhnya!

Syukurlah dalam satu tahun ini tak ada gangguan kesehatan yang berarti menghinggapi tubuh. Paling rada sakit mental sih karena deraan tugas-tugas baru yang tak jarang sangat melelahkan dan tinggi frekuensi perubahannya. Saya betul-betul mulai menjaga komunikasi dengan tubuh, mendengarkan semua tanda-tanda yang ia berikan; kalau sudah capek saya berhenti, kalau ada kesempatan makan saya akan masak dan makan, saya memaksa diri berhenti mengkonsumsi gorengan dan minuman bergula tinggi dan berkarbonat. Sayur-mayur juga saya kurangi. Pokoknya, jangan sampai sakit, apalagi tipes kambuh. Amit-amit! Sudah nggak ada back-up medical ini!

Dan masuk ke penggenapan tahun pertama dengan status freelance, saya dengan bangga lantang menyebut diri sebagai kontributor lepas di sejumlah media, selain aktif di sejumlah organisasi profesional. Puji syukur yang tak terhingga saya ucapkan kepada Dia yang Maha Mendengar dan Memberi. Kepada teman-teman yang sangat berjasa membuat saya tetap waras dan sedikit banyak membukakan jalan dan mata hati sehingga saya terus bersemangat melakoni peran baru ini -- ada bos Melvi, bos Iwan Seti, bos Atiek, bos Tutut, bos Verena, bos Fitri Didi, Mia, Dani, mbak Ina, my buddy Ening, kawanan genduk-genduk AWD (Nika, Wulan, Yoan, Cindy), bude Ayu & Liconk, teman-teman Sesat, teman-teman ED 93, teman-teman Komunitas Dongeng Minggu, teman-teman IKAPI Pusat. Thanks from the deepest of my hearts. Halah, ini seperti speech pas menerima penghargaan apa ajah...

Anyway lagi. Sampai detik ini saya betul-betul belum bisa menentukan akan ke arah mana profesionalisme saya. Saya masih mengalir dengan arus rasa ingin tahu dan keinginan mencicipi beraneka profesi yang ada di hadapan mata. Semuanya kini terlihat begitu menantang dan sulit ditolak. Uangnya mungkin tak seberapa, tapi pengalaman dan ilmu yang didapat sungguh mahal harganya.

Yah biarlah saya menjadi pengelana kebebasan dulu. Sebelum nanti si tuan aneh yang gila musik itu sadar bahwa sudah saatnya perempuan di seberang benua ini mulai gila sungguhan dan harus segera diselamatkan. Ah, kapan itu akan terjadi? Daripada lelah menunggu lebih baik saya jalani peran-peran ini demi kemaslahatan..

Wednesday, April 18, 2012

At Last, My Turquoise House!

Been A while I haven't had any post here. I was busy (oh so cliche) with prev project in Bali, that once I never thought I could involve in. It was done nicely, many people said it's a big success--consider the January's postponing and how the pengurus always behave regarding to it.


Anyhow. I jes wanna share the last improvement of my Spanish house project. It was finally came to its full shape by the mid of March 2012. With lots of imperfection--especially in finishing part--I shall say I am quite satisfied by the result. It's not so big, but pretty spacious, tall, and handsome (eh?). And turquoise, that's the best part of all.


Little by little I began to buy furniture to complete the house; I bought this dinning set (that can be used as ironing table as well) in Informa while they offered special price. Also these 5-rack compaq compartment, I bought 2. And a shoes buffet, that I turned into bedroom buffet. Well. It was an impulsive spending, I know. Just can't wait to see my house ready.


I have to be very carefull with my spend since the house has dried up all my PHK's money. But, nevermind. Now I have my own house. How cool is that?


Bien venue! S'il vous plait :)


Facial look of my house. The colour is not this blue. It's a bit green, it's turquoise.

Front window, right before the kitchen. A new thing for the neighborhood.

Knock-knock. Who's there?

View from inside to the door, ready to welcome all the guests.

These are actually set for terrace. I put them inside since I haven't had sofa set.

Entering the house living room. This antique set where I will put a telephone or facsimile.

A glimpse to the master bed room. Err, it is a small one though.
The kitchen! That's the dinning set I talked about, in the right far.
Now, what are we gonna have for dinner?

Tuesday, February 28, 2012

kupu-kupu kecil & criminal mind


kupu-kupu kecil itu hinggap di pucuk pohon anggrek peliharaanku yang sudah tak terurus. kepaknya lamat-lamat menjadi pelan, lalu sama sekali berhenti. terlihat jelas sirat motif retakan hitam di latar kuning pucat, yang muaranya di sebuah bulatan besar hitam pula. mirip jalur sungai di peta. aku tak tahu pasti masuk jenis apa serangga ini. baru sekali aku merasa sangat tertarik kepada seekor kupu-kupu. menurutku, lebah dan capung masih lebih asyik untuk diamati dibanding kupu-kupu. tapi hari ini tak ada seekor lebah atau capung pun yang mengisi cakrawala pandanganku.

kini tatapanku terpaku pada sosok cantik yang selintas terlihat lemah itu. kupu-kupu kecil yang mungkin sudah ratusan bahkan ribuan kali mendatangi kebun kecil di depan rumahku ini. sambil memerhatikan tindak-tanduknya, aku berharap binatang itu menolehkan kepalanya dan mengatakan sesuatu padaku. apa saja; bisa kabar baik, bisa kabar buruk, atau sekadar kalimat yang tak bermakna, aku tak peduli. aku lantas berandai-andai, jika kupu-kupu kecil itu sungguh menoleh dan membuka mulutnya.. lalu ia bilang, "sudah jelas kamu akan masuk neraka!"


***********************************************


ah, gila! mengapa keyakinan yang sudah aku kumpulkan beberapa hari belakangan ini berubah menjadi kutukan dan penyesalan? setelah penolakan dan derita tekanan mental, apa aku masih salah untuk melakukan perlawanan? aku ini manusia, punya perasaan, punya keterbatasan, punya hasrat untuk membebaskan diri. apakah semua yang dikatakan baik itu pasti tak berunsur kejahatan? dan sebaliknya, apakah kejahatan itu hakikinya harus dieliminasi? ada apa dengan azas keseimbangan di alam raya? semua sistem yang bekerja sesuai kitahnya sehingga kehidupan menjadi abadi, termaktublah elemen baik-jahat, kuat-lemah, pandai-bodoh, cinta-benci. semuanya padu dan saling mengisi, toh?

jadi harusnya aku tidak masuk neraka karena sudah menghabisi nyawa ayahku. ia membelengguku dari cita-cita ingin menjadi pramugari, hanya karena omongan tanpa bukti orang-orang di sekitarnya yang memercayai pekerjaan ini hina. "mereka gundik penumpang, umpan bagi lelaki kaya yang jahil, dan pemuas birahi para pilot," begitu katanya. jelas saja aku tidak terima. aku sudah lolos tes kesehatan, tes terakhir sebelum mereka memberi pelatihan tentang keselamatan di udara. bahkan tubuhku sudah diukur untuk dibuatkan seragam.

aku sudah di seperempat jalan menuju impianku, tak bisa berhenti lagi. tiga jam lalu aku mencolokkan pengering rambutku ke saklar listrik, kabelnya sudah kulukai. pengering rambut itu kugeletakkan di lantai pancuran, keset handuk akan menjadi kamuflasenya. begitu ayah mandi, maka ia akan tersetrum listrik. semuanya akan seperti kecelakaan saja. dan rencanaku berjalan mulus.


***********************************************


kupu-kupu kecil itu tiba-tiba terbang meninggalkan kebunku. mungkin ia terbang menuju tempat yang sudah ia impi-impikan. seperti juga diriku, aku ingin menuju ke tempat yang ku impi-impikan. aku berdiri dari tangga di depan rumah, menepuk-nepuk debu di rok merah yang padu dengan blus motif batik kemerahan. seragam baruku. pandanganku menerawang ke seluruh penjuru kebun. semuanya diam. semuanya memahami tindakanku, aku yakin. segala sesuatu terjadi karena sudah suratan. aku digariskan menghabisi ayahku, kurasa tak ada yang salah dengan itu.

tak lama terdengar klakson mobil. aku bergegas menarik koper berodaku menuju pintu pagar depan. mobil jemputan kru. 
selamat datang, masa depan!

Wednesday, February 01, 2012

Finally, The Printil Printil Begins!

Ola!

After a series of tiring months of Dec and mid January, my Spanish house was constructedly done by the third week of January. Then came the far, far more tiring and purse-wrecking process; preparing the printil-printil. That'll be included mix-matching colours for tiles, walls paintings, sanitary appliances, etc. It's waaay taking too much time and concentration for me since I adore all the colours of this universe :P

Although it took a lot of my time and money, I enjoyed the process so much. I started mingle with some contruction mega stores, like Mitra 10, Depo Bangunan and Bazaar Bangunan to observe their collection and ponder the possibility of using 'em. I had to face some reality (that bit) some materials that once I wanted to applied in my house were too pricey for my budget, then I replaced with the lower (price and quality *sob*) ones. Like my tile story: firstly I wanted to applied granite, ended up with low-end ceramics (that I'll never regret at all!). And that kitchen set story, at last I purchased 4 items of Royal's. It's cheaper, more flexible and I guess easier to maintain.

Now the tricky part: BATH ROOM!

Having a priceless experience of renovating my mom's, I kinda have a subtle knowledge about building a good, nice bath room. Mix-matching tiles color was still my never-easy dillema (LOL), and tendency to use high-quality accessories will always ironically hit the budget sheet. Shite. Yet, the universe endorsed me to have more natural-look ones (I'm gonna have 2 bath rooms, alright). There goes, one small greenish shower cube (with water heater, yay!), and one a bit bigger teracota's kampung-style (with gentong jar) wet bath room. Enuff.

I'm still collecting small pieces to complete the whole pics of every room of my house. Really it's fun and somehow challenging in its own way. I just hope I won't spend something unusefully waste since I still need a lot of Rups to renovate the front gate.

Oh well, let's take a break for a while. Here are some latest pics of my Spanish house:

Voila! The roof tiles are almost done.
Finishing the facial look. Tall, isn't she?

A view from front window. Those circle air ventilations
are the trade-mark of this house.

Preparing the 2nd storey.

This is gonna be my kitchen window. Excellent.

A view from inside.


A view from above. Sooo high!

The incidental 2nd storey part is making the house look gigantic.
This is the last progress of my Spanish house appearance
by the end of January. Pretty, isn't she?

The tall construction gives a sense of spacious, elegant building.

Look what I found! Yuuum..

Tuesday, January 03, 2012

Reach To The Top!

Hari ini, tepat tanggal 3 Januari 2012, ada dua kejadian yang butuh disyukuri. Pertama, HUT bapak saya ke-73 tahun. Kedua, pemasangan tiang teratas rumah kampung saya.

Mari kita skip kejadian yang pertama, berfokus saja ke syukuran kedua di proses pembangunan rumah bergaya (sok) Spanyol itu. Sebetulanya sudah dari kemarin Mas Tono kasih informasi bahwa sudah saatnya pasang tiang teratas, dan hari kemarin dan sekarang itu wetonnya bagus. Weh, bukannya enggak mau mengadakannya kemarin, lha kasih taunya udah siang. Belum siap lah, mas! Belanja kebutuhannya saja belum.

Maka strategi pun diatur. Karena hari itu ada janji makan siang dengan eks- agen Reksa Dana dan diteruskan makan malam perayaan ultah editor di Majalah Suara PMI, saya menarget belanja ayam dan telur sepulang beraktivitas. Sayur-mayur, beras, kelapa dan bumbu-bumbu bisa besok pagi. Ini didasarkan pengalam syukuran awal pembangun rumah dulu, yang lancar jaya meski cukup mendadak belanjanya. Singkat cerita, rencana penyiapan tumpeng syukuran berjalan mulus. Acara pun alhamdulillah kembali dipimpin Pak Jimin, ustadz spesialis mendoakan rumah di Jalan Kenangan :D

Anyway, berikut evolusi penampakan rumah masa depan saya, dari akhir tahun 2011 hingga tiga hari pertama 2012 ini:

Akhir tahun 2011, Mas Tono menyiapkan gunungan ketiga untuk landasan kayu-kayu kaso.

Tepat tanggal 1 Januari 2012, gunungan sudah lengkap dan tembok mulai diplester.
Yak, inilah penampakan rumah saya yang sudah masuk tahap pemasangan kayu atap.

Ini bagian ruang depan yang bakal jadi semacam ruang tamu.

Sepasang kelapa hijau dan setandan pisang, sebagai tanda syukur atas
pencapaian kerja dan permohonan agar terus dilancarkan dalam prosesnya. Amiiin!

Pak Jimin memimpin doa: semoga rumahnya diparingi berkah, keamanan, kenyamanan,
kebahagiaan, banyak jodoh pria-pria ganteng, baik hati, lucu dan pintar (eh?)

Ini kok Mas Tono cs posisinya kayak abdi dalem menghadap sang raja, hehe.

Tumpeng dipotong! Piring pertama saya persembahkan kepada pak ustadz. Ma'aci ya, Pak Jimin..

Senyuuum :)

Serbu!

Menu kesukaan saya: urap sayur-mayur dan tempe orek teri. Nyaaam!

Om Tomi secara simbolis menanam paku emas ke dalam lubang di batang kayu
yang nanti akan dipasang di puncak teratas rumah saya. Bismillah..

Lubang di kayu tadi lalu dipasang pasak, dibungkus
Bendera Merah Putih, dan dipaku. Siap dipasang!

Sunday, December 25, 2011

The Progress Still Carries On.. And On..

Ok, ini masih ngomongi perkembangan pembangunan rumah kampung saya. Per tanggal 24 kemarin, rumah yang tingginya akan mencapai 4.5 meter ini tampak terlihat menonjol di antara rumah-rumah tetangganya. Yuk, lihat foto-foto dokumentasi saya :)

Welcome! :)

Dari tanah, pondasi bangunan sudah dinaikkan 30 cm, jadi kudu naik tangga
untuk masuk ke teras depan. Ayo, untuk latihan cardio *lebay*

Yang ada bangku plastik merah itu adalah bakal teras depan, yang begitu saya perjuangkan
eksistensinya (semoga nggak sia-sia, amiiiin).

Ruang tamu depan yang akan disematkan jendela dengan bagian atas setengah lingkaran.
Bakal outstanding banget! *yang lain nggak mau pakai karena kuno, hahaha*

Tumpukan hebbel di sebelah kiri itu menggenapi jumlah 12 kubik.

Hari ini, tanggal 25 Desember 2011, laju pembangunan rumah saya seperti tak tertahankan. Sambil menunggu datangnya kusen-kusen jendela dan pintu, 2 kubik sisa hebbel pun dipesan (utang, huhuuu). Sementara itu, Mas Tono yang cuti 4 hari pulang kampung, sudah kembali bekerja bersama tim. Tadi siang saya tengok ke sana, si Mbah sedang siap-siap menyelesaikan atas garasi. Rencananya atap garasi ini akan di-dak biar area atasnya bisa dimanfaatkan untuk duduk-duduk, berkebun, atau menjemur pakaian.

Berikut dokumentasi pembangunan rumah per hari ini:

Adakadabra! Tumpukan hebbel sudah berubah menjadi susunan tembok.

Ruang teras depan, dengan model lubang lengkung kuno ala rumah-rumah kampung.

Si Mbah dkk sedang menyiapkan garasi.
Menurut Mas Tono, proses susun hebbel memang relatif cepat jika dikerjakan sesuai kapasitas anggota tim. Yang akan memakan waktu adalah saat finishing, seperti plestering, pasang ubin dan plafon, permak WC dan dapur, gitu-gitu lah. Wah, kebayang nanti saya pasti occupied banget dengan printil-printilnya.. Mudah-mudahan lancar. Amin...

Friday, December 23, 2011

My Sweet Homey-Home, Progressing Too Fast!

Sejak penanaman batu pertama tanggal 16 Desember lalu, luar biasa banget perkembangan pembangunan rumah Spanyol (kampung) saya; per hari ini (tanggal 23 Desember, berarti sudah 8 hari) sudah 14 kubik hebbel terpasang, dari perkiraan 18 kubik yang dihabiskan. Itu artinya tak lama lagi kerangka atap rumah akan segera dipasang. Kalau menurut perkiraan dan kebiasaan para tukang bangun rumah, kemajuan yang dicapai ini paling tidak memakan waktu 3 minggu. Tim mas Tono memang kesetanan kerjanya, hahaha..

Inilah wajah aseli rumah saya. Foto diambil tanggal 12 Desember 2011.
Tampak 'enggak banget' deh, ya?
Om Tomi berdiri pas di depan lahan kosong yang bakal jadi garasi.
Mas Tono dan si mbah lagi nyusun batang-batang besi menjadi tiang pancang.
Cukup 3 hari saja, kelar semua!
Pemilik rumah meringis, tak sabar proyek ini dapat segera selesai.
Foto per tanggal 17 Desember, sehari setelah momen peletakan batu pertama.
Hebbel 4 kubik siap disusun. Rapi terpasang dalam 2 hari! Ck, ck, ck...
Tim Mas Tono rajin bener kerjanya, hadeh..
Belum lama sudah harus pesan hebbel lagi *pusing bayarnya*
Voila! Dalam 1 hari sudah seperti ini perubahannya. Ck, ck, ck..
Ok, karena para tukang bangunan itu seperti pasukan Bandung Bondowoso, maka saya juga mengimbangi dengan segera memesan pintu, jendela dapur (depan) dan kusen-kusen pintu bagian dalam. Cukup sulit menentukan modelnya karena desain rumah ini total eksperimental dengan pemanfaatan bahan-bahan lama dalam rangka pengiritan dana. Jadinya, gitu deh... Tapi perasaan saya baik banget sama pembangunan rumah ini lho. Bakal jadi landmark di Jalan Kenangan, deh! *toyooor*

Jendela besar dengan atas melengkung seperti itu yang akan saya terapkan
untuk ruang tamu depan. Lubang anginnya akan bulat, lalu ada besi tempa menyilang seperti di bunker.

Model pintu yang saya pilih. Seperti pintu penjara ya? Maklum anggota The Gerwanis...
Model dapurnya seperti ini. Minus meja miring itu.
Jendela dapur depannya niru yang ini. Nanti jendela kiri-kanan itu terbuka dari bawah ke depan.
Yang tengah jendela mati, alias nggak bisa dibuka. Innalillahi...


Daaan, inilah perkembangan rumah kampung saya per tanggal 23 Desember 2011. Tepuk tangan, nunduk penghormatan atas prestasi tim Mas Tono yang luaaar biasa cepat kerjanya.. *ngusap keringat di jidat*

Wah, sudah tampak seperti rumah! Sabar mas, kerjanya jangan buru-buru...
*dompet jebol, dueeer!*