Life, stranger than fictions..

Welcome to my blog! It's a pleasure to have you here reading my hyperbolic scribbles. Some are archived stuff from my other blogs (inactive ones), some are brand new ideas. My words will be too much, overrated, out of line, dysfunctional, confusing, impractical and sometime don't make any sense. But in a hand, they have released my tense.
So enjoy these imaginarium of free mind. In a case you are interested to drop a line, or jes wanna appreciate any posts, don't be hesitate. Do your deed! Release those hustle-bustle inside your brain!

Showing posts with label My fictions. Show all posts
Showing posts with label My fictions. Show all posts

Tuesday, February 28, 2012

kupu-kupu kecil & criminal mind


kupu-kupu kecil itu hinggap di pucuk pohon anggrek peliharaanku yang sudah tak terurus. kepaknya lamat-lamat menjadi pelan, lalu sama sekali berhenti. terlihat jelas sirat motif retakan hitam di latar kuning pucat, yang muaranya di sebuah bulatan besar hitam pula. mirip jalur sungai di peta. aku tak tahu pasti masuk jenis apa serangga ini. baru sekali aku merasa sangat tertarik kepada seekor kupu-kupu. menurutku, lebah dan capung masih lebih asyik untuk diamati dibanding kupu-kupu. tapi hari ini tak ada seekor lebah atau capung pun yang mengisi cakrawala pandanganku.

kini tatapanku terpaku pada sosok cantik yang selintas terlihat lemah itu. kupu-kupu kecil yang mungkin sudah ratusan bahkan ribuan kali mendatangi kebun kecil di depan rumahku ini. sambil memerhatikan tindak-tanduknya, aku berharap binatang itu menolehkan kepalanya dan mengatakan sesuatu padaku. apa saja; bisa kabar baik, bisa kabar buruk, atau sekadar kalimat yang tak bermakna, aku tak peduli. aku lantas berandai-andai, jika kupu-kupu kecil itu sungguh menoleh dan membuka mulutnya.. lalu ia bilang, "sudah jelas kamu akan masuk neraka!"


***********************************************


ah, gila! mengapa keyakinan yang sudah aku kumpulkan beberapa hari belakangan ini berubah menjadi kutukan dan penyesalan? setelah penolakan dan derita tekanan mental, apa aku masih salah untuk melakukan perlawanan? aku ini manusia, punya perasaan, punya keterbatasan, punya hasrat untuk membebaskan diri. apakah semua yang dikatakan baik itu pasti tak berunsur kejahatan? dan sebaliknya, apakah kejahatan itu hakikinya harus dieliminasi? ada apa dengan azas keseimbangan di alam raya? semua sistem yang bekerja sesuai kitahnya sehingga kehidupan menjadi abadi, termaktublah elemen baik-jahat, kuat-lemah, pandai-bodoh, cinta-benci. semuanya padu dan saling mengisi, toh?

jadi harusnya aku tidak masuk neraka karena sudah menghabisi nyawa ayahku. ia membelengguku dari cita-cita ingin menjadi pramugari, hanya karena omongan tanpa bukti orang-orang di sekitarnya yang memercayai pekerjaan ini hina. "mereka gundik penumpang, umpan bagi lelaki kaya yang jahil, dan pemuas birahi para pilot," begitu katanya. jelas saja aku tidak terima. aku sudah lolos tes kesehatan, tes terakhir sebelum mereka memberi pelatihan tentang keselamatan di udara. bahkan tubuhku sudah diukur untuk dibuatkan seragam.

aku sudah di seperempat jalan menuju impianku, tak bisa berhenti lagi. tiga jam lalu aku mencolokkan pengering rambutku ke saklar listrik, kabelnya sudah kulukai. pengering rambut itu kugeletakkan di lantai pancuran, keset handuk akan menjadi kamuflasenya. begitu ayah mandi, maka ia akan tersetrum listrik. semuanya akan seperti kecelakaan saja. dan rencanaku berjalan mulus.


***********************************************


kupu-kupu kecil itu tiba-tiba terbang meninggalkan kebunku. mungkin ia terbang menuju tempat yang sudah ia impi-impikan. seperti juga diriku, aku ingin menuju ke tempat yang ku impi-impikan. aku berdiri dari tangga di depan rumah, menepuk-nepuk debu di rok merah yang padu dengan blus motif batik kemerahan. seragam baruku. pandanganku menerawang ke seluruh penjuru kebun. semuanya diam. semuanya memahami tindakanku, aku yakin. segala sesuatu terjadi karena sudah suratan. aku digariskan menghabisi ayahku, kurasa tak ada yang salah dengan itu.

tak lama terdengar klakson mobil. aku bergegas menarik koper berodaku menuju pintu pagar depan. mobil jemputan kru. 
selamat datang, masa depan!

Friday, October 07, 2011

kisah si pemelihara tanaman dalam pot-pot kecil

tangannya masih memegang garpu rumput kecil yang ketiga "jari"nya siang tadi tak henti ia asah dengan kikir penajam pisau. pandangannya menerawang. ini sudah 3 jam ia hanya memegang-megang garpu itu, dipindahkan dari tangan kiri ke tangan kanan. dan sebaliknya. sesekali dilihatnya garpu itu, tapi segera alihkan pandangan ke obyek-obyek yang ada di sekitarnya: gerobak kecil untuk mengangkut pot-pot tanaman yang tersuruk di sudut pagar, 3 pot kosong yang pinggirannya mulai ditumbuhi lumut, sebatang pohon mangga tua yang dedaunannya dipenuhi serbuk-serbuk putih yang tak lain adalah hama, dan tentu saja tumpukan rumput teki yang mulai layu.

siapa sangka grafik hidupnya esok akan turun menukik mengempas landasan, setelah 4 bulan masa indah bak mimpi yang terwujud?

irfan dulunya petani tanaman hias di pot-pot kecil. ia sangat berdedikasi dengan pekerjaannya itu, meskipun penghasilannya tak sebaik para petani Anggrek dan Anturium di blok sebelah. baginya, tanaman-tanaman kecil itu adalah bakal dari kehidupan pohon-pohon dewasa. kalau ia tak suburkan tunas-tunas itu, mana ada nanti yang menggantikan tanaman yang besar?

namun, seiring waktu dan kekecewaan karena pot-pot kecil itu selalu dipandang kecil dan tak berarti, irfan mulai mati akal. hidupnya sudah habis untuk pekerjaannya. ia bahkan tak sempat menikmati jerih payah untuk sedikit menghibur diri. maka ia memutuskan berhenti mengurus pot-pot kecil itu di saat hama wereng putih menyerang blok-blok pemelihara tanaman hias itu.

irfan tahu, ia seharusnya bertahan, membuat obat anti-hama, dan mengajarkan petani lain bagaimana menyelamatkan tanaman mereka. tapi ia diam saja, dan tanaman di pot-pot kecilnya berguguran. ia diam saja. sampai 3 bulan kemudian tanaman-tanaman kecilnya habis oleh hama wereng...

keesokan harinya irfan datang ke bloknya sambil membawa berikat-ikat rumput teki. oh, rupanya sebelum tanaman-tanaman di pot-pot kecilnya benar-benar binasa, ia didatangi penanam modal yang ingin ia mengembangkan rumput teki di blok tanaman hiasnya. pantaslah ia diam saja terhadap nasib tanaman-tanaman kecil di pot-pot kecil itu! irfan sudah memperkirakan jika dalam sebulan tanaman-tanaman dalam pot-pot itu seluruhnya terkena serangan hama, maka ia dapat mulai menyemaikan bibit rumput teki. dan sebulan kemudian memindahkan bibit-bibitnya masuk ke pot-pot kecil yang sudah bersih dari tanaman-tanaman sebelumnya. ah, sempurna!

tapi 4 bulan yang penuh harapan dan kebahagiaan itu punah sudah. sang penanam modal tak mau memberinya tambahan uang untuk membeli pupuk dan sedikit lainnya untuk perbaikan blok. lihat, pagar blok irfan sudah harus diganti, bukan? belum lagi selang air dan peralatan berkebunnya sudah usang begitu. padahal para petani rumput teki yang suka dilihatnya di televisi, selalu tampil rapi jali. bloknya bagus terawat, peralatannya pun tampak modern dan baru. sementara punya irfan? oh..

sengit tadi ia menjelaskan pentingnya tambahan uang itu. meski dengan wajah tetap tenang dan intonasi serta tatanan bahasa yang baik, irfan sebenarnya dongkol tak terkira. penanam modal tak kalah tenang dan tak terbaca air mukanya. tapi keputusan mereka bulat; hanya menambah dana 10%.

aduduh, bisa apa irfan dengan tambahan segitu? gila betul! ini bukan sekadar memperbaiki pagar dan peralatan, sungguh. ini tentang dambaan yang terpendam untuk hidup lebih baik! setelah mimpi lama yang dikubur paksa, kini mimpi yang kedua hanya seperti serdawa?

irfan seperti kehilangan napas. ia memutar-mutar garpu rumput itu dengan satu tangan. otot-ototnya mengencang, berkilau karena keringatnya terkena cahaya matahari. lengan yang tampak kekar dan kuat itu menegang. dan dalam gerakan yang cepat, "jap!"

"aaaah!"

irfan menancapkan garpu berjari 3 yang tiap jarinya sudah ia asah dengan kikir sejak 3 jam lalu itu ke tenggorokannya. ia tahu rasanya akan sakit sekali, tapi ia juga tahu akibat fatal dari tindakan itu. sejenak ia merasakan sensasi alat tajam merobek saluran nasal di bawah mulutnya, tak sanggup ia meraung mengumbar sakit. terasa aliran cairan membasahi sekujur dada. sekelilingnya mulai berputar, pandangan irfan kian buram. pelan-pelan ia dudukkan dirinya. rasa sakit sudah tak menguasai syaraf-syarafnya.

irfan sadar waktunya sudah dekat. ia bergeser pelan mendekati 3 pot kecil yang pinggirnya mulai ditumbuhi lumut. ia mendekap ketiganya dengan hati-hati. irfan terjungkal pelan dan masih memeluk pot-pot itu. kini ia lurus mengikuti kontur tanah. tidur dalam kedamaian yang luar biasa. cairan yang masih belum berhenti mengalir itu membuatnya seperti patung gnome yang disiram cat merah.




dan kini irfan memandang blok pemelihara tanaman hias dari atas nirwana..

Sunday, January 30, 2011

[archieve] Apa benar badai pasti akan berlalu?

through all the problems and barriers, humankinds carry on their virtuous civilization to the end of time..




01
suatu malam seorang gadis pergi menembus berjuta rintangan untuk menemui belahan jiwanya. sudah lama ia menantikan momen ini. gadis itu menderita sesak karena rindu, mengkhayalkan kebahagian bila kekasih hatinya hadir di setiap gerak-hidupnya, dan sering terlelap dalam mimpi-mimpi indah bersamanya. belasan tahun berlalu. setelah rute panjang dan penuh halangan terlalui, kini karpet merah yang anggun terbentang di hadapannya. di ujungnya, sang tambatan jiwa menunggu sambil membuka kedua tangannya. tapi gadis itu tak melangkah maju. ia terdiam mematung. ia memandang sosok di hadapannya dan berharap dirinya-lah yg menghampirinya..

02
lelaki bertubuh hitam kemilau karena peluh itu mengangkut karung-karung berat berisi umbi-umbian dari sebuah truk sayur-mayur. hari ini ia ingin menyelesaikan pekerjaannya seorang diri, biar hasilnya ia saja yg menerima. sudah ditetapkan hati untuk menguras semua tenaga dan kemampuan ototnya. semua demi memperbaiki rumah gubuknya yang nyaris roboh termakan keganasan alam. tapi ia tahu usahanya akan sia-sia. tubuhnya kian lemah karena gizi yang buruk. terlalu banyak penghematan yang ia buat sehingga makan pun tak lagi terasa nikmat. dan gubuk itu pada akhirnya akan terhempas mencium landasan. namun lelaki itu terus mengangkut karung-karung berat berisi umbi-umbian tanpa hirau akan rasa ngilu di sekujur tubuhnya.

03
sepasang sahabat berlainan jenis sedang menghabiskan waktu bersama. mereka berbincang, bersenda-gurau, mengenang masa lalu yang indah. tiba-tiba ada hasrat lain yang singgah di relung jiwa yang terdalam. keduanya terkesiap, saling berpandang, menanti letupan kecil yang pasti mampu memicu leburnya pertahanan. mereka sesungguhnya sudah tak kuasa menahan lagi. tapi tak ada yg terjadi. mereka hanya terus saling memandang hingga sang surya hilang di ufuk yang berubah jingga.

04
seorang istri menatap nanar suaminya yang lagi-lagi tak mampu membuatnya bahagia. lelaki di hadapannya menutup wajah dengan kedua telapak tangan, dadanya bergetar, ada isakan suara tangis. ia berusaha menenangkan, mencabut kata-kata perpisahan yang sempat tak sengaja terlontar dari mulut laparnya. tapi tak lama ia menarik diri, kembali menatap nanar suaminya yang kini bergelung bak jabang bayi di ranjang yang ditutupi helai kain berhias benang emas. ia tak tahu apakah kesempurnaan hidup semata-mata hanya dapat terpenuhi oleh hal yang satu itu?



Tetapi jika kamu tergelincir setelah bukti-bukti yang nyata sampai kepadamu, ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana. [02:209]








Sonata di stasiun kereta [teaser part 01]

Sudah lama Soni menunggu di bangku Stasiun Kota, hampir genap dua jam. Tidak biasanya dia bisa bertahan selama itu. Sungguh sebuah dorongan moral yang kuat yang meneguhkan dirinya untuk menanti dalam ketidakpastian. Ini gila, serunya dalam hati. Mana mungkin perempuan itu memegang janjinya? Kita baru bertemu sebentar, belum banyak hal yang dia ketahui darinya. Mengapa aku bisa sebodoh ini, makinya. Kepalanya tertunduk dalam-dalam.

“Kepada para calon penumpang kereta ekspres jurusan Bogor, diharap menunggu di jalur empat.”

Itu sudah kali ketiga kereta yang harusnya dia tumpangi melintas dan menertawai kekukuhannya. Ada apa bung? Engkau pikir di zaman ini masih ada romantisme picisan macam novel-novel angkatan pujangga baru; yang memberi selembar sapu tangan (bukan terbuat dari sutra pula!) untuk mengikat janji? Aku pasti sudah usang dan kelu terhadap dunia yang selalu ku anggap munafik dan penuh tipu-daya sehingga bisa dengan mudahnya aku mempercayai kenaifan dan ketulusan yang terpancar dari sepasang mata itu. Soni merutuk sendiri.

Tapi, dia lantas terpesona pada ingatannya.

Mata itu. Aku belum pernah melihat kelembutan dan kepasrahan yang sebegitu jelasnya. Sinarnya. Ya, sinar matanya laksana lentera yang mencerahkan. Tiba-tiba kekuatan yang sempat memapar jiwanya menebal lagi. Teringat dia pada pancaran sepasang mata yang, --wah, sebenarnya tidak ada yang begitu istimewa dari mata itu, sungguh. Malah agak kuyu. Ya, begitulah. Tapi pandangannya cerdas, lembut, menenangkan. Sepertinya si pemilik sudah seringkali menjadi saksi atas bermacam tragedi sehingga tak ada lagi yang perlu dikhawatirkan dalam hidupnya.

“Gila!” seru Soni lagi sambil menepis peluh yang mengalir perlahan dari dahinya. Dia tersenyum saja melihat jarum jam tangannya bergeser pelan, mengarah ke pukul 8. “Seharusnya aku sudah di rumah!”



***



Awal ceritanya bermula ketika Soni berangkat ke kantor seperti biasanya dari Stasiun Bogor. Senin, sekitar pukul 7, jelas Soni sudah tertinggal kereta ekspres yang hari itu berangkat tepat waktu di pukul 6.40. Karena kereta selanjutnya baru muncul pukul 7.40, maka dia serta-merta menaiki kereta ekonomi pukul 7.15. Soni paham konsekuensi menumpang kereta non-ekspres; selain tidak nyaman, kereta ini patuh berhenti di setiap stasiun. Mulai dari Cilebut, Citayam, Depok, sampai stasiun-stasiun kecil seperti UI atau Cawang. Dan pemberhentiannya adalah di Stasiun Gambir, kereta ekonomi tidak diperkenankan berhenti di sana. Soni sudah mengantisipasi dengan turun di Stasiun Juanda, lantas naik ojek ke kantornya yang terletak di bilangan Thamrin. Terbayang dirinya akan mengalami hari yang panjang saat itu. Tapi, Soni tidak menyesalinya…

Setelah bergerak lamat-lamat meninggalkan Stasiun Kalibata, sekelompok orang masuk mendorong penumpang-penumpang lain yang sudah bergelantungan sejak dari Stasiun Lenteng Agung. Sesaat dia tak memperhatikan suasana di sekelilingnya dan terus mendengarkan musik yang dialunkan dari iPod-nya, namun dalam sejurus Soni mendongakkan kepala ke arah perempuan yang kini berdiri di hadapannya. Perempuan itu sedang memandang kosong ke arah pemandangan di luar jendela di depannya, sambil satu tangannya mencengkram tuas kereta dan tangan lainnya memegang sebuah tas kulit coklat. Dari pakaiannya Soni menebak dia pasti bukan orang kantoran, karena meskipun memakai atasan blus formal tetapi dipadu bawahan jins yang sudah pudar warnanya. Perempuan ini tampak tidak memakai riasan yang tipikal karyawati, ya begitulah. Hanya bedak dan, oh dia tidak memakai pewarna bibir pula. Sepatunya pun model kasual, solnya karet dan rata saja. Entah pekerja di pusat perbelanjaan, agen asuransi, atau mungkin mahasiswi sebuah perguruan tinggi.

Ketika sedang asyik memperhatikan, tiba-tiba mata Soni bersirobok dengan perempuan itu. Itulah kali pertama dia tersambar eforia yang tak dimengertinya. Tidak diduga pandangan dari perempuan itu sama sekali tidak mengintimidasinya, tidak seperti pengalaman-pengalaman lain ketika dia usil tertangkap basah sedang memperhatikan seseorang. Justru Soni merasa disapa dengan ramah dan ada aliran gelombang persahabatan yang secara elektris disalurkan dari sinar mata itu. Alih-alih mengalihkan pandangan, Soni tersenyum dan tanpa sadar mengucap “halo,” yang kemudian dibalas dengan sopan oleh perempuan itu. Dia lalu memalingkan pandangannya kembali ke pemandangan di luar sana.

Soni menunduk. Mengapa dia ingin sekali melanjutkan pembicaraan? Apa kira-kira topik yang dapat menarik minat perempuan ini?








Wednesday, January 26, 2011

Kisah Saraswati & Bima: Pertemuan [teaser 3]

(the agony ends here)



“Saras!”

Rasanya jantungku berhenti berdegup. Di musim dingin yang berkepanjangan ini suasana hatiku tidak karuan, selalu emosional. Mungkin pengaruh kedinginan, atau kebosanan akut akibat empasan badai-badai salju yang jadi menahanku berdiam di apartemen. Kedinginan yang tak hanya jasmani, juga rohani. Hans, suamiku, pun tak mampu menghangatkan jiwaku. Karena sejak aku menerima lamarannya sepuluh tahun lalu, aku sadar aku akan hidup dalam kebohongan. Dia hanya pelarianku. Pelarian dari sosok lelaki di hadapanku kini. Lelaki yang sekarang wajahnya terlihat lebih tirus, kulitnya lebih gelap, rambutnya lebih berantakan. Sebentuk tas ransel tua hinggap di punggungnya. Punggung itu, aku ingat dulu pernah merengkuhnya. Dulu sekali. Aku tak pasti, mungkin 12 tahun yang lalu. Ya, 12 tahun yang lalu.




“Aku mau bilang sesuatu.”

Tangan lelaki itu menggapaiku. Ada aliran elektrik menjangkiti kulitku yang tersentuh kulit tangannya. Ya Tuhan, aku benar-benar membeku! Tapi darahku mengalir deras, tubuhku kepanasan. Dan, oh apa ini yang membuat dadaku tiba-tiba berdebar keras? Kedua kaki ini, mengapa lemas sekali? Telapak tanganku pun mulai melembab, rasanya aku tak akan lama bertahan dalam kesadaran..





“Saras, aku.. aku..”

Aku tak tahan lagi. Mengapa harus ada penjelasan, mengapa? Tak perlu ada kata-kata, aku bahkan tak butuh apa-apa lagi. Toh jiwaku sudah hancur berantakan dihantam pukulan gulir masa dan kenangan yang kejam menertawai pertahanan lemahku. Bagai seuntai bulu aku tertiup hasratku sendiri, laju menuju pelukan lelaki itu. Dan pertemuan dua fisik ini seperti yang seharusnya; seperti kayu yang tersambar api dan mereka menyatu, dan tak mungkin terpisahkan lagi. Dan aku merasa waktu berhenti berjalan. Damai. Tiada beban keduniawian yang melelahkan. Tiada suara-suara rengekan ketiga anakku, suara dramatis penyiar televisi yang menyebar kekalutan dari setiap tragedi, suara alarm pagi yang memecahkan syaraf otakku, suara mesin kopi dan microwave laknat yang menghilangkan kenikmatan makan. Tiada apa-apa lagi. Hidupku sudah tercukupi sekarang. Aku siap mati, Sang Pencipta!





“Saras?”





“Sshh.. Bima, tak perlu. Peluk aku saja.”









Den Haag, South Holland. Mid of November 2010

Wednesday, January 19, 2011

Kisah Saraswati & Bima: Surat perpisahan Saraswati [teaser 2]

to: Bima 
fr: Saraswati 

ketika kamu membuka surat ini, aku sudah pergi jauh. aku memutuskan untuk mengambil beasiswa ke Negeri Kincir Angin itu, seperti saranmu. aku harap ini dapat kulakukan dengan baik karena sesungguhnya aku tak mau pergi. aku tak yakin aku bisa menjalaninya. 

bukan, bukan aku meragukan kemampuan akademisku. seperti yg sering ku ungkapkan, rancang bangun sudah menjadi motor yang menggerakkan jiwaku. aku akan mati tanpa menggali pengetahuan teknik sipil & arsitektur. kamu tau kan bagaimana kelakuanku saat kita menyusuri bangunan-bangunan tua yang indah di Jakarta Kota, Singapura, dan London? aku trance! aku bisa hidup di saat itu saja, kamu tau? rasanya aku sudah pulang ke rumah, aku tak perlu kemana-mana lagi.. 

tapi Bima, belakangan gairahku tidak semata untuk bangunan. jiwaku memang haus akan pengetahuan seputar teknik sipil & arsitektur. tapi ragaku butuh yang lain; dia mendambakan kamu. kamu! aku bisa membayangkan ekspresi wajahmu yg siap-siap terbahak. tertawalah, Bima! namun ini bukan bahan candaan yang biasa aku buat. ini dari dalam hatiku, yang terdalam. 

ya Tuhan, aku ngomong apa sih? aku juga bingung, Bima. aku selalu bertanya, mengapa lelaki semenarik kamu bisa berjam-jam menghabiskan waktu dengan perempuan seperti aku? tahukah kamu bahwa keberadaanmu di dekatku merupakan siksaan terberat hidup ini? aku tersiksa! kamu mau tau kenapa? karena seluruh tubuhku, mulai dari ujung rambut sampai ujung kuku kaki ini, sangat ingin merengkuhmu! 

aku mulai merasakan getaran-getaran aneh itu saat kita membahas desain interior museum seni new york di pojok perpustakaan nasional sore itu. kamu masih ingat? saat kamu tak sengaja menyentuh tanganku ketika ingin menunjukkan halaman 234? aku seperti kena setrum saat itu. aneh. aku tak tau itu apa, tapi aku tau aku harus menjauh darimu. tapi mengapa saat kita di warung roti bakar dua malam selanjutnya, kamu malah menangkup wajahku? aku tidak bisa kamu sentuh, mengerti? malamnya tubuhku meraung, meronta, menjerit, meminta sentuhanmu lagi! 

aku bersyukur setelah itu kamu sibuk dan banyak pekerjaan. telpon-telponku pun jarang kamu angkat. terima kasih, Bima. aku tau aku bodoh dan sakit, tapi aku mendapat pelajaran yang tersirat. aku lalu memaksakan diri untuk bergaul kembali dengan Ita, Rintha, Dewi dan Sanggar. perempuan-perempuan itu pembicaraannya tak aku mengerti! tentang sepatu, baju, salon, pria-pria pesolek yang lemah, orang-orang kaya yang tak tahan terkena pancaran sinar mentari dan terlalu mengagungkan nilai materi.. 

jadi, aku terima saja beasiswa itu. aku sudah tak tahan lagi dalam jerat ini. pagi tadi aku sudah terbang ke seberang sana. aku tak sanggup berpamitan denganmu, maafkan aku. aku tidak bisa lama-lama dekat denganmu. aku tau pertahananku akan luluh saat melihat wajahmu, menjabat tanganmu, memeluk tubuhmu... 

semoga kamu mengerti tindakanku selama ini. aku tau kamu tak mungkin balik mendamba aku. aku semata teman diskusimu tentang rancang bangun 'kan? seperti katamu selama ini. aku merasa tak pantas berdampingan denganmu. teruskanlah hubunganmu dengan Alice, atau Karin. mereka perempuan-perempuan yang sempurna untukmu. aku mendoakan semoga salah satu dari mereka akan menjadi pilihan hatimu. 

aku lega bisa jujur denganmu, meski lewat tulisan. sekarang aku akan belajar melupakanmu. melupakan siksaan nikmat saat di dekatmu. aku tau ini berat, tapi adalah yang terbaik bagi kita. 

jaga dirimu baik-baik, ya? 

temanmu, selamanya.. 

SARASWATI 






Monday, January 17, 2011

The Assistant [teaser]

Preambul:
Berikut ini potongan cerita fiksi yang sudah lama saya simpan. Idealnya mau diolah lagi sampai jadi skenario untuk film layar lebar. Menurut saya, masuk genre "thriller-mystery" dan secara D.O.P harus divisualisasi dan dibikin frame-frame dramatis seperti film "Crash" atau "The Dead Girl".

Mohon doa restu, input, kritik, beras, baju-baju bermerk layak pakai..



Frame 12, "The Assistant", by Cippi

Masih pukul 9. Dia akan datang satu jam dari sekarang. Itu artinya aku punya kesempatan memeriksa semua hal. Semuanya, rencanaku tak boleh gagal. Ok, mari kita buka lagi. Materi untuk si Ibu, siap. Materi dari Mas Jiwo, siap. Cakram presentasi Budi, siap. Kertas kosong dan pena untuk peserta rapat, siap. Sekarang aku bisa menyiapkan teh untuk si Ibu. 


Ini saatnya aku memanggil mbak Shinta. Ah, itu telponnya, di meja sudut. 3-3-0, nah sudah terhubung. “Mbak Shinta, saya sudah di ruang rapat. Teh untuk Bu Chandra belum dibuatkan Yanto, ya? Yanto sedang mengantar Mbak Sukma? Ya sudah, saya buatkan. Ada, saya kebetulan bawa teh celup. Iya, teh hijau. Si Ibu sudah datang? Iya, saya sudah bilang ke beliau bahwa saya duluan ke ruang rapat. Saya mau menyiapkan materi presentasi saya.” Beres. 
Mas Jiwo, dan seluruh peserta rapat pagi ini sudah aku beritahu bahwa pertemuan diundur 45 menit karena si Ibu harus ke dokter dulu. Aku punya waktu 45 menit untuk menyelesaikan ini. Dan ini harus selesai, harus!


Campurkan sedikit saja, si Ibu tak akan mungkin mengenali baunya. Si bodoh itu akan merasa high, tak lama perutnya akan bergejolak, dan panggilan alam pun tiba. Di situlah aku harus cepat bertindak.


Di mana aku sembunyikan tongkat itu? Ah, di balik pintu toilet. Gerendel dalam pintu kamar mandi sudah aku lepas, dia tak akan bisa mengunci pintu. Aku sudah menyiapkan ember penuh air dan gayung di dekatnya. Dia akan menggunakannya untuk menutup pintu sementara hasrat buang air besarnya tak tertahankan lagi. Pasti ketika ide cemerlang itu terlintas, dia merasa sejenius McGyver. Saat itulah aku menerobos masuk…


Ini saatnya. Kau tak perlu takut, dia adalah penghalang kebahagiaan hidupmu. Hidup semua orang di divisi ini. Kau akan menjadi pahlawan, kau membebaskan beban berat yang dirasakan teman-temanmu. Kecemasan, ketakutan, depresi akut akibat dianiaya secara mental. Kau bisa melanjutkan hidupmu, kesenanganmu bekerja. Kau berhak atas itu. 



Kau berhak, Tini…


courtesy of www.executivecoachingforbusinesssuccess.com

Saturday, January 15, 2011

Kisah Saraswati & Bima [teaser 1]



sejenak cerita ttg agoni..


di suatu masa, tersebutlah seorang pria bernama BIMA yang lebih nyaman dengan dirinya sendiri. dia pikir hidupnya sudah cukup, tak perlu kemewahan untuk didampingi lawan jenis yang tentu tak mungkin akan memenuhi semua kriteria dari seseorang yang dianggapnya sempurna. 

tapi Pemilik Hidup memberinya kejutan. tiba-tiba, perempuan itu berwujud, solid berada di depan batang hidungnya: SARASWATI!

memang, tak ada sisi fisik yang menarik hasrat untnk dekat dengan dia; wajahnya biasa, tubuhnya biasa, rambutnya biasa, hidungnya tak bangir, kulitnya pun coklat biasa. itu tadi kalau tak mau kasar menyebut kekurangan fisik si perempuan yang bentuk tubuhnya tak proporsional di segala sudut. ya, gambaran perempuan biasa saja yang di keramaian begitu membaur, kecuali dia memakai baju berwarna seronok..

tapi Bima tak perlu sulit-sulit mencari wajah perempuan itu di benaknya. kenangan tentang Saraswati tak pernah lekang dari alam pikiran Bima. bukan, bukan wajah bulat berdahi lebarnya yang di beberapa tempat ditumbuhi jerawat itu yang membuat Bima kadang tersenyum sendiri. bukan pula bibir tebal kecoklatan atau dada ratanya, atau selera buruk berpakaian perempuan itu. bukan. masih ada 1001 perempuan lain yang lebih indah untuk diingat penampilannya oleh Bima, percayalah.

sesuatu lainnya yang membuat Bima tak henti ingin selalu meluangkan waktu dengan Saras: kegembiraan saat mereka menghabiskan waktu mendiskusikan hal-hal yang terkadang dipikir Bima hanya dia saja yg menyukai dan mengetahui; kenyamanan saat suara perempuan itu mengagumi dan mengapresiasi fakta atau informasi baru yang dia berikan (sejak dia kenal Saraswati, Bima tak kenal waktu menggali segala hal yang disukai Saraswati); dan yang lebih membingungkan namun dirindukannya adalah sensasi yang menyeruak di bawah kulitnya hingga sekonyong-konyong darah di nadinya memburu--seolah-olah ingin pecah--setiap saat mereka sedang berdekatan!

apa yang terjadi padaku? tanya si pria. tak ada yang istimewa dari Saraswati, pikir Bima. tak ada. kecuali ketulusannya memperhatikan kesehatan dirinya yang gemar merokok dan tidur hingga larut malam. hanya itu. dan mungkin kesediaannya mendengar keluh-kesah di saat dia terperangkap masalah pekerjaan. ditambah, kata-katanya yg entah bagaimana dapat mendamaikan jiwa. itu saja, ya. ah, satu lagi. kepeduliannya terhadap sesama, termasuk kepada binatang-binatang telantar yang dengan suka-cita dipelihara di rumahnya yang sudah penuh sesak dengan binatang. dan tentu, kesukaannya membawa hasil masakan eksperimental, yang tak jarang rasanya luar biasa tidak enak!

dan sekarang Saraswati seakan berada di benua yang lain, dengan teman-teman barunya. perempuan itu bagai burung yang terbang lepas di angkasa, sulit utk dijerat kembali ke penangkaran hati Bima. dia sudah melupakanku, pikir Bima. pasti karena kata-kataku yang menyakiti hatinya. kata-kataku menyakiti hatinya, iya, mungkin begitu. "Aku terlalu sibuk dengan diriku dan pekerjaanku. Aku dapat apa? Aku kehilangan Saraswati." Bima menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.

Bima merasakan bagaimana hari demi hari berlalu dengan hampa. ada yang hilang dan meninggalkan celah kosong di hatinya. lubang itu menganga, namun tiada yang mampu menutupnya. tak juga kesibukan kerja atau wajah-wajah perempuan cantik yang setiap hari ditemui dan dicoba untuk diakrabinya. tetap tak bisa.

di relung hatinya bersemayam pertanyaan yang tak kunjung dicarikan jawabnya: akhir apa yang kau kehendaki, Bima?



"Women Sadness" by Keti Haliori [visit her at www.keti-haliori.com]