Life, stranger than fictions..

Welcome to my blog! It's a pleasure to have you here reading my hyperbolic scribbles. Some are archived stuff from my other blogs (inactive ones), some are brand new ideas. My words will be too much, overrated, out of line, dysfunctional, confusing, impractical and sometime don't make any sense. But in a hand, they have released my tense.
So enjoy these imaginarium of free mind. In a case you are interested to drop a line, or jes wanna appreciate any posts, don't be hesitate. Do your deed! Release those hustle-bustle inside your brain!

Showing posts with label inspiring article. Show all posts
Showing posts with label inspiring article. Show all posts

Friday, May 06, 2011


Wednesday, March 30, 2011

Dear New Beginning, (Ready Or Not) Here I Come!

I had a relaxing conversation one night wiz my two buddies, Atik and Mia. Eventhough I only have a little knowledge about them (I sporadically met Mia, and I jes knew Atik for a couple of months) but I'm certain that they both are my patrons when it comes to moonlighting. They've been in ups and downs, and I admire their endurance. Amazingly they both gave me positive comments, even praises--they're sure I'd be OK and would certainly be able to pass through this phase.

Well, that night I kinda need their support regarding my situation; not so dramatic, but I'm gonna move out from this imprisoning status. Though it's really confusing, you know, to realize your wishes are eventually granted. Such a shocking memento and at first I thought I was not ready yet. Then the time has really come, no turning back!

Another support I got from my happy-go-lucky experience with this Penerbit in Ciputat. I feel like I have all endorsement from the whole universe that has been made a sweet reconciliation to plug me in into their system. It's damn too easy! Damn. I mean, thank You! :)

Frankly I've been misdoubting my ability to be independent all this time. As a writer, I have not made any books yet. I might write some articles in many diff'rent media, but none is outstanding. My work in translating business is merely a supporting role. Not purely my piece. Same case with editing. I'm consciously aware that I'm no special. How can I survive in this jungle of creative competition if you're just another ordinary one?

Even though as an individual I always exercise all the possibility to increase my creative skill. My major problem was my limited access to the creative community, and of course time availability.

You see, I'd been in this dilemma for years and in one stage I couldn't handle it any longer. It's just things were not ever sided in me. My salmonella typhi, car incident, those financial hesitations, my daddy brain surgery. I was rotten inside, cried for redemption, yet helplessly idled. I realize I was in that so-called comfort zone!

But then I guess I'm just a lucky lad with dozens of wonderful friends. Not long after I got recharged by Mia and Atik, and that fantastic offer from Penerbit in Ciputat, my dear pal, mbak Ina, came up with these simply irresistible business ideas. I was like awaken, electricuted (in good manner) and realized that I have to live up my passions to create things.

I have to mention other names, too. Like Melvi, Dani, Lina, Lanny, Mina, Ully, Iwan, Frisca, my cuz Lina and mbak Atiek, my loving family back there in B-Town. Zillion of thanks for your trust on me. Wow, this is new; suddenly I cannot wait to surrender the old, tiring me!

"Break Free", courtesy of www.glogster.com

Bismillahirahmannirahiiim... Hey new beginning, I wanna see you. Immediately :)

Saturday, March 19, 2011

Cerita ular [archieve]



SIAPA YANG TIDAK TAKUT DENGAN ULAR? mungkin hanya pawang ular, dukun bercincin batu akik besar, fakir India (yang dlm komik-komik suka meniup seruling sehingga si ular menari meliuk-liuk, keluar dari dalam tempayan), atau si abang tukang obat dan tukang sate ular. termasuk saya. maksudnya, saya takut dengan ular. enggak sampai paranoid sih, hanya memilih tidak berada satu ruangan dengan binatang melata itu. meski ogah sama sekali utk berdekatan dan bergaul dengan ular, konon saya sering 'ketemu' dengan makhluk berbisa ini.

terutama waktu masih kecil. kebetulan rumah kami ada di daerah eks- kebun. beberapa ekor ular aneka warna dan ukuran sudah sukses invasi ke rumah. pernah seekor ular seukuran lengan anak-anak, warnanya kuning pucat dengan kalung putih, ditemukan kucing kami yang hanya berani loncat kian kemari sambil mengeong nggak karuan. ketika saya melihat 'makhluk' incaran si kucing, seluruh tubuh langsung bergidik takut. ayah saya meminta bala bantuan tetangga untuk menangkap ular itu. dia tidak dibinasakan. kata ayah, justru dijual entah ke siapa.

saat bermain di kebun sekitar rumah nenek saya (yang letaknya di muka rumah kami), saya sering tak sengaja bertemu ular. saya pernah terbirit-birit mencari tempat persembunyian waktu main petak-umpet, lalu berbelok ke pengkolan di belakang rumah nenek dimana terdapat susunan genteng bekas. settt, beloklah saya ke situ dan langsung terdiam. saya membelakangi susunan genteng sambil menata napas. perasaan agak nggak enak. badan saya berbalik. ternyata tepat di depan saya, melingkar seekor ular hitam dengan kalung merah. ukurannya lumayan besar. saya tercekat. tiba-tiba ada kekuatan nggak tahu dari mana, saya terpantul dan jatuh ke belakang. tapi ular itu diam saja. rupanya sedang tidur! alhamdulillah..

di dekat rumah nenek itu pula, ada sebatang pohon jambu klutuk yang cukup tinggi. saya punya dahan tempat "nongkrong"; tingginya sekitar 4-5 meter dr permukaan tanah. karena fisik kayu pohon jambu klutuk yang cukup kuat dan elastis, saya suka duduk di dahan itu dan terayun-ayun tiupan angin. suatu siang, saya memanjat pohon itu dengan semangat. hari itu angin bertiup cukup kuat. saya terkenal cukup terampil memanjat, dan tidak lama sdh hampir sampai ke dahan favorit. ketika tangan mulai meraih dahan dan ingin mengangkat kaki dan pantat naik ke tahap selanjutnya, tiba-tiba sesuatu ikut 'nemplok' di dahan itu. astakfirulooo, ular pohon! makhluk berwarna hijau muda setebal 3 jari org dewasa dengan panjang hampir 3 meter itu rupanya baru mendarat dari pohon lain. ular pohon memang bepergian dengan cara meloncat dari satu pohon ke pohon selanjutnya. tapiii, kenapa harus ke pohon jambu klutuk itu sih? maka, kami berdua yang sama-sama baru 'sampai' pun saling terkejut. ular pohon itu memantul terbang pergi karena kaget. konon saya nggak kalah kaget. tapi saya nggak bisa memantul, apalagi terbang. maka, "bum!" saya pun terjatuh dari dahan tinggi itu, menghempas tanah dengan sukses..

selepas masa main-main di kebun nenek dan mulai sibuk di sekolah dan kemudian bekerja, saya memang jarang ketemu ular lagi. paling liat di tivi atau di kebun binatang ragunan kalau liputan ke sana. tapi, ternyata ular masih eksis. beberapa waktu lalu, ketika sedang beres-beres di depan rumah, ada ular kecil seukuran ibu jari dan lumayan panjang sedang bersemayam di bawah tumpukan sendal. kaget juga. saya nggak membunuhnya meskipun kakak sudah panik nggak karuan dan siap dengan batang sapu. saya usir baik-baik dengan sapu lidi, lalu menaburkan garam dapur di sekeliling area depan rumah. ular itu lari entah kemana. saya pikir dia nggak akan balik. dasar ular, malamnya dia malah mngejutkan kakak saya yang sedang duduk nonton tivi. dia loncat dari langit-langit rumah kami! aksinya membuat kakak saya kalap dan tega menghabisi ular yang (menurut saya) bingung itu.

di alam mimpi pun saya beberapa kali bertemu ular. biasanya ular-ular dalam mimpi saya warnanya abu-abu dan suka mengejar saya ke mana pun saya lari. untungnya saya selalu lolos. biar kata orang mimpi bertemu ular itu artinya bertemu jodoh, saya pilih tetap selamat nggak tertangkap si ular. ogah, amit-amit deh! mending digigit onta daripada digigit ular. beneran!

nggak ada yang penting sih dari catatan ini. tapi ya itu, tampaknya ular masih mungkin ada di sekitar saya. dan, mungkin di sekitar Anda. hati-hati saja. hindari menumpuk barang yang menghasilkan rongga. rajin-rajin membersihkan area depan rumah dan sekali-kali taburi dengan garam (seperti waktu kemping pramuka dulu). wah, membayangkan si makhluk melata yang berbisa itu saja bikin sekujur tubuh geli dan super-takut. aduh, mendingan nonton film horror tiap malem deh daripada ketemu ular lagi! mudah-mudahan kami berdua selalu hidup damai di alamnya masing-masing, amiiiin...


Monday, February 07, 2011

Mengapa HARKITNAS jatuh tanggal 20 Mei?

Hari Kebangkitan Nasional, mengapa jatuh di tanggal 20 Mei? Apa hanya saya yang penasaran dengan penetapannya?

Konon pada tanggal segitu terbentuklah Boedi Oetomo (BO), sebuah organisasi yang lahir dari pertemuan-pertemuan dan diskusi yang terjadi di perpustakaan School tot Opleiding van Inlandsche Artsen oleh sejumlah mahasiswa, antara lain Soetomo, Goenawan Mangoenkoesoemo, Goembrek, Saleh, dan Soeleman. Menurut buku sejarah di sekolah, BO memikirkan nasib bangsa yang sangat buruk dan selalu dianggap bodoh dan tidak bermartabat oleh bangsa Belanda, serta bagaimana cara memperbaiki keadaan buruk dan tidak adil itu. Para pejabat pangreh praja (sekarang pamong praja) kebanyakan hanya memikirkan kepentingan sendiri dan jabatan. Dalam praktik pun mereka tampak menindas rakyat dan bangsa sendiri, misalnya dengan menarik pajak sebanyak-banyaknya untuk menyenangkan hati atasan dan para penguasa Belanda.

80 persen dari kalimat di atas saya ambil di situs wikipedia ketika saya input kata "kebangkitan nasional, 20 mei 1908" di mesin pencari Google. Terus terang saya penasaran dengan pemilihan tanggal untuk jargon sebesar itu. Sebenarnya ada apa dengan Boedi Oetomo sehingg akelahirannya lantas dijadikan tonggak untuk bangkitnya sebuah bangsa yang nyata-nyata sudah sejak ratusan tahun lalu (dinilai) terpuruk ini?

Dari oprek-oprek selanjutnya, secara mengejutkan saya mendapat link ke situs-situs lain yang komplen dengan pemilihan tanggal sekian sebagai harkitnas. Dikatakan mereka bahwa BO itu organisasi kendaraannya Belanda karena seluruh ketuanya notabene para priyayi Jawa yang ditunjuk, diangkat dan digaji oleh kumpeni. Mereka juga tidak bisa dibilang organisasi yang nasionalis karena keanggotaannya eksklusif terdiri dari suku Jawa dan Madura saja. Pergerakannya pun hampir tak menonjol, kalah jika dibandingkan gerak organisasi Sarikat Islam, misalnya. La wong thn 1935-nya BO tutup toko alias bubar. Dan, tidak pernah 'bangkit' lagi. Mati, diam, titik. Game over.

Situs-situs dan blog-blog pribadi yang kebanyakan berlatar belakang Islam itu lalu mengklaim hari lahirnya Sarikat Dagang Islam justru lebih layak dijadikan momen acuan yang penting dirayakan setiap tahunnya. Mengapa? Karena SDI berdiri jauh sebelum BO, dengan azas yang lebih heterogen (para pedagang dari suku yang beragam, misinya ingin melepaskan diri dari kungkungan peraturan kumpeni yang menindas), meski sangat harum bau Islam dan dagangnya.

Pencarian saya makin seru ketika tak sedikit pula pihak yang tidak setuju dengan klaim 16 Oktober (tanggal lahirnya SDI) lebih tepat sebagai harkitnas. Hari kebangkitan Islam atau perdagangan, mungkin bisa. Tapi harkitnas? Mmh, tunggu dulu! SDI bukan organisasi yang sukses-sukses amat jaga imej karena kelak kemudian hari melahirkan PKI yang komunis. Komunis yang atheis jelas kontra-paralel dengan azas Pancasila yang berketuhanan dan Islam secara general yang menolak atheisme.

Debat seru dan asyik ini sebatas opini bebas di alam maya dan belum menjadi wacana yang serius di tingkat cerdik-cendikia. Apalagi para pejabat dan politisi. Hell with this, we're busy with consolidation! mungkin itu jawaban mereka. Tapi sudah pernah ada desertasi yang membahas kesalahan penetapan tanggal harkitnas ini. Kalau boleh memilih, momen Sumpah Pemuda jauh lebih layak disebut harkitnas karena memenuhi seluruh aspek yang dibutuhkan untuk sebuah jargon semegah itu; mencakup elemen suku bangsa yang beragam, bervisi nasional, dan melahirkan satu misi luhur negeri ini, yakni kemerdekaan RI.

Jadi kapan harkitnas berubah tanggal? Ah, mungkin kekacauan persepsi atas hari yang luar biasa besar maknanya itu mencerminkan kondisi di negeri ini. Atau kita memang tak pernah benar-benar bangkit sebagai sebuah bangsa?


Apa pantas kelahiran Boedi Oetomo menjadi tonggak Harkitnas?


Monday, January 31, 2011

[archieve] Cerita seputar selular

Siapa manusia Jakarta yang sehari-harinya tidak dilengkapi alat komunikasi yang paling mobile, selular? Selular, handphone, atau HaPe, sudah bukan barang mewah lagi. Mungkin yang bikin beda kasta cuma tipe atau kecanggihan si gadget. Sekarang ini rupa-rupa fitur dipepatkan dalam alat berdimensi sekecil itu: kalkulator, alarm, kamera, speaker stereo, perekam bunyi, pemutar musik, radio, penangkap siaran tivi, sampai koneksi internet. Semua dimaksudkan untuk memudahkan hidup sang pemilik. Itu kata pabrikan yang bikin...

Ada nih seorang teman baik yang gemar ganti-ganti HaPe. Dulu, waktu kami sering berwisata kuliner, dia merasa butuh HaPe dengan kamera beresolusi tinggi. “Untuk menangkap momen dan ambien,” katanya. Lama-lama perjalanan kita rada melambat karena isu berat badan dan penipisan isi dompet. Percakapan-percakapan panjang di tengah malam pun berkurang drastis. Maka dia membeli HaPe lain dengan bersistem CDMA. Karena tarif murah, kilahnya. Tapi kemudian dia kerepotan karena harus pegang dua HaPe. Digantilah set HaPe CDMA bawaan operator dengan sebuah HaPe yang mampu memakai dua sistem CDMA dan GSM. HaPe dengan kamera resolusi tingginya diberi nomer GSM lain. Jadi, dua HaPe masih di genggamannya. Terakhir, HaPe berkamera ditukar tambah dengan HaPe super canggih yang berparas dan berperilaku bak Blackberry. Katanya, HaPe itu bukan untuk bertelepon ria melainkan untuk koneksi internet. “Dengan begini, bisa selalu update status di fesbuk,” ujarnya. Dia tetap pegang dua HaPe lainnya.







Teman yang lain mendapat pinjaman (lungsuran) HaPe berdimensi mirip Blackberry dari kantor barunya. Satu-satunya cacat dari selular itu adalah ‘kelemotannya’: makan waktu 5-6 menit untuk mengirim 1 pesan SMS. Selama proses pengiriman tidak bisa menerima panggilan. Rencananya benda pinjaman itu akan ditarik lagi oleh pemiliknya, maka teman saya siap-siap mencari pegangan baru. Pilihan jatuh pada HaPe setipe dengan yang dimiliki teman baik saya di atas. “Gue butuh koneksi internet, Cip. Lagipula HaPe itu sudah 3.5G kan? Pasti cepat deh,” begitu dia berargumen. Tapi apa daya, ketika kita browsing ke mal, isi dompet tidak memadai. Bantuan kartu kredit saya juga tidak menolong. “Gila, mahal banget!” jeritnya. Alternatif tipe lainnya tidak dilirik sama sekali. Susah memang kalau pilihan sudah jatuh pada tipe yang paling superior. Lainnya jadi terlihat kuno sekali!

Lain lagi dengan sepupu saya yg selalu berubah HaPe setiap kali kami bertemu. “Sekeun. Beli dari tetangga. Murah mbak,” katanya. Di lain waktu, dia sudah pegang HaPe baru, “Yang ini bisa simpan MP3 sampai 100-an!” Tak lama, HaPe dia sudah lain lagi. “HaPe ini ada banyak games-nya, mbak. Lihat tuh, ada Sims. Kapasitas memorinya besar,” jelasnya. Saya tersenyum saja melihatnya.

Abang saya terkenal sangat slebor dg HaPe (dan barang-barang lainnya). Entah melayang kemana alam sadarnya, tapi HaPe dia hampir tidak pernah bertahan lebih dari sebulan. Kalau tidak tertinggal di suatu tempat, ya hilang diambil pencuri (karena tergeletak sembarangan). Pernah secara tidak sengaja saya menemukan HaPe dia di balik tumpukan majalah dan koran, dalam keadaan mati (batrenya habis). Setelah dihidupkan, ada sekitar 20-an miscall dan sejumlah SMS baru.

Ada lagi teman SD yg suka mengunduh ringtone dan gambar-gambar dari HaPe saya. Terakhir HaPe-nya malah dibeli teman sekantornya karena kontennya dinilai bagus. “Ditawar tinggi. Sebenarnya sayang, tapi kapan lagi? Keburu harganya tambah jatuh,” begitu jelasnya. Dia lalu membeli HaPe baru lainnya, yang kapasitas penyimpanannya besar. Lalu dia mulai mengunduh semua konten dari HaPe saya. “Tapi suaranya bagusan dari HaPe elu, ya?” sesalnya. HaPe sebelumnya se-merk dengan HaPe saya.



Saya sendiri sudah pegang HaPe yg sekarang selama 4 tahun lalu. Generasi pertama yang berfitur kamera dengan resolusi lumayan. Kapasitas penyimpanannya amat kecil dibanding HaPe-HaPe masa kini. Saya beli ketika baru diluncurkan, jadi terbayang harganya masih sangat tinggi. Kondisinya sudah lumayan belel. Selain sering terjatuh, pernah beberapa kali tercebur ke got tempat wudhu’ dan (maaf) kloset. Blup-blup-blup, trus mati. Saya hampir pingsan waktu pertama kali sadar HaPe masuk ke dalam kloset. Sesuai petunjuk saudara yg pernah bekerja di tempat reparasi selular, saya langsung membuka batre, sim card, dan berusaha mengeringkannya. Mulai pakai tissue, hairdryer, disinari lampu duduk, sampai dijemur di terik matahari. Tiga hari dunia sepi karena HaPe ko'it. Alhamdulillah, HaPe itu menyala lagi di hari keempat, meskipun ada bercak jalan air di display-nya. Saya berkaca-kaca sedih melihat bercak itu. Khawatir kalau tiba-tiba blep, mati. Mau dilego juga pasti harganya anjlok, atau malah tidak ada yg mau beli. Tiap malam HaPe itu saya letakkan di bawah sinar lampu duduk di samping tempat tidur. Ajaib. Sebulan kemudian bercak itu hilang!


Awal tahun lalu saya sdh ancang-ancang mau ganti HaPe. Tapi batal gara-gara musibah mobil tertabrak bus. Awal tahun ini sedikit terpikir untuk lihat-lihat HaPe baru. Tapi kok sepertinya HaPe tua saya masih bagus, ya?

Ngomong-ngomong HaPe tua, sebenarnya saya harus malu dengan teman saya yang lain lagi. Dia manajer pertunjukan sebuah teater seni yang sedang hip di Jakarta. Teman saya ini bergaul dengan berbagai kalangan, gayanya cukup trendi, dan up-to-date dengan kemajuan zaman. Pasti Anda mengira HaPe-nya semodern pemiliknya? Tidak, salah. Sure, dia pegang dua HaPe (menandakan pemiliknya sibuk), tetapi dua-duanya “busuk”! Salah satunya dari merk yang sekarang sudah tidak eksis lagi, yang kalau diaktifkan langsung memancarkan cahaya biru mesum. Belum berwarna lengkap spt HaPe-HaPe sekarang. Bentuknya mirip ulekan batu dari zaman prasejarah, lapisan luarnya kusam dan ngletek di sana-sini. HaPe satunya lagi lebih parah. Setiap kali ada panggilan, teman saya akan langsung menjawab: “Maaf, gue lagi sibuk. Kirim SMS aja, tulis urusan elu di situ. Nanti gue akan hubungi elu.” Banyak yang komplen, menduga itu voicemail. Tidak, salah lagi. Sesuai bocoran dari teman saya ini, suara lawan bicaranya konon sudah tidak bisa didengar lewat receiver HaPe itu. Makanya dia meminta lawan bicara untuk kirim SMS. La wong pas diangkat enggak terdengar suara apa-apa! He-he-he… Tapi teman saya tidak mau mengganti HaPe busuknya itu. “Buat apa? Yang penting ‘kan berfungsi. HaPe itu untuk menelepon, so far gue masih bisa pakai kok!” kilahnya. Benar juga.



"Cellular Film Grain," www.danceantonini.org




Saya jadi malu kalau tiba-tiba berhasrat ingin mengganti HaPe. Kondisinya masih baik. Lagi pula belum ada fitur tambahan yang mengakomodir kebutuhan saya: setrikaan. Jadi, bisa merapikan blus kusut sambil menjawab panggilan.

“Ring, riiing...!”
“Halo? Ouch! My ear!”

Sunday, January 30, 2011

[archieve] Apa benar badai pasti akan berlalu?

through all the problems and barriers, humankinds carry on their virtuous civilization to the end of time..




01
suatu malam seorang gadis pergi menembus berjuta rintangan untuk menemui belahan jiwanya. sudah lama ia menantikan momen ini. gadis itu menderita sesak karena rindu, mengkhayalkan kebahagian bila kekasih hatinya hadir di setiap gerak-hidupnya, dan sering terlelap dalam mimpi-mimpi indah bersamanya. belasan tahun berlalu. setelah rute panjang dan penuh halangan terlalui, kini karpet merah yang anggun terbentang di hadapannya. di ujungnya, sang tambatan jiwa menunggu sambil membuka kedua tangannya. tapi gadis itu tak melangkah maju. ia terdiam mematung. ia memandang sosok di hadapannya dan berharap dirinya-lah yg menghampirinya..

02
lelaki bertubuh hitam kemilau karena peluh itu mengangkut karung-karung berat berisi umbi-umbian dari sebuah truk sayur-mayur. hari ini ia ingin menyelesaikan pekerjaannya seorang diri, biar hasilnya ia saja yg menerima. sudah ditetapkan hati untuk menguras semua tenaga dan kemampuan ototnya. semua demi memperbaiki rumah gubuknya yang nyaris roboh termakan keganasan alam. tapi ia tahu usahanya akan sia-sia. tubuhnya kian lemah karena gizi yang buruk. terlalu banyak penghematan yang ia buat sehingga makan pun tak lagi terasa nikmat. dan gubuk itu pada akhirnya akan terhempas mencium landasan. namun lelaki itu terus mengangkut karung-karung berat berisi umbi-umbian tanpa hirau akan rasa ngilu di sekujur tubuhnya.

03
sepasang sahabat berlainan jenis sedang menghabiskan waktu bersama. mereka berbincang, bersenda-gurau, mengenang masa lalu yang indah. tiba-tiba ada hasrat lain yang singgah di relung jiwa yang terdalam. keduanya terkesiap, saling berpandang, menanti letupan kecil yang pasti mampu memicu leburnya pertahanan. mereka sesungguhnya sudah tak kuasa menahan lagi. tapi tak ada yg terjadi. mereka hanya terus saling memandang hingga sang surya hilang di ufuk yang berubah jingga.

04
seorang istri menatap nanar suaminya yang lagi-lagi tak mampu membuatnya bahagia. lelaki di hadapannya menutup wajah dengan kedua telapak tangan, dadanya bergetar, ada isakan suara tangis. ia berusaha menenangkan, mencabut kata-kata perpisahan yang sempat tak sengaja terlontar dari mulut laparnya. tapi tak lama ia menarik diri, kembali menatap nanar suaminya yang kini bergelung bak jabang bayi di ranjang yang ditutupi helai kain berhias benang emas. ia tak tahu apakah kesempurnaan hidup semata-mata hanya dapat terpenuhi oleh hal yang satu itu?



Tetapi jika kamu tergelincir setelah bukti-bukti yang nyata sampai kepadamu, ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana. [02:209]








Wednesday, January 19, 2011

Be (very) careful what you wish for! [archieve]

Teringat sebuah film horror, judulnya 'Wishmaster' (sekuelnya sampai Wishmaster 4). Ceritanya tentang seekor jin yang tidak sengaja dikeluarkan dari tempat tinggalnya--sebentuk batu permata merah--oleh seorang wanita. Jin itu lalu turun ke Bumi untuk menjalankan misi khusus. Dia mendatangi penjahat-penjahat atau orang yang punya pikiran dan niat jahat, lalu minta mereka bikin 'wish' ke dia. Habis itu dia dengan sadis (jin gitu loh, bisa bunuh manusia dengan segala gaya dong!) menghabisi orang-orang yang 'wish'-nya sudah dipenuhi dan mengambil roh/jiwa mereka. Nah, ketika koleksi rohnya mencapai jumlah tertentu konon kekuatan si jin ini mampu mengubah Bumi jadi neraka dan dia jadi penguasanya. Sebuah adegan penghabisan nyawa ala Wishmaster yg selalu saya ingat adalah ketika si WM (singkatan nama jin itu) masuk ke penjara. Lalu beraksilah dia di situ, menawarkan jasa memenuhi wish para in-mate alias napi. Salah satu korban minta agar dia 'dikeluarkan' dari jeruji penjara. Sesuai etika misinya, maka WM mnyebutkan MoU lisan bahwa ketika wish si napi dia granted, maka rohnya jadi milik WM. Si napi dengan pandangan nggak ngerti dan sok licik, iya aja. Daaan, sim-salabim! Tubuh si napi (dalam keadaan sadar) seketika seperti ada yang mengambil alih, lalu tubuh itu dipaksa 'lolos' dari jeruji besi. Tubuhnya pun patah-patah, berurai darah karena akhirnya 'keluar' dari deretan sempit jeruji penjara. Genre film ini disebut sebagai dark comedy horror. Debutnya disutradarai oleh Robert Kurtzman dan diproduseri Wes Craven. Sekuel pertamanya terbilang sukses dan meraih box office, meskipun kritikus membabat habis film ini dengan cacian dan hinaan.. 

Anyway, ada frasa menarik di poster film ini: 'be careful what you wish for'. Maknanya, setiap wish yang kita buat akan berbuah sejumlah konsekuensi yang harus kita hadapi, jadi jangan sembarangan bikin wish. Kalau kita refleksikan lagi pengalaman yang sudah lewat, pasti ada kejadian yang mungkin dulunya menjadi wish dan akhirnya terwujud. Tapi apakah lantas hidup saat itu makin mudah dan menyenangkan? Kebanyakan malah sebaliknya. Paling tidak kalau wish itu terlalu muluk dan jauh dr kondisi awal kita saat itu. 

Saya pernah wishing menjadi seorang peneliti; bidang pekerjaan yang terdengar 'keren', meliputi tahapan yang disiplin dan asik dijalankan. Dan tentunya membanggakan keluarga. Wish itu di-granted Tuhan loh! Saya jatuh-tidak bangun selama setahun menjalankan tugas. Setelah itu saya tidak pernah bikin wish aneh-aneh ketika berurusan dengan pekerjaan. Wish saya cuma satu: saya bisa tetap menulis dan dekat-dekat dengan buku. Alhamdulillah, sekali lagi wish saya di-granted! 

Kejadian setali-dua uang juga dialami teman baik saya. Bertahun-tahun dia menggeluti dunia freelance dan tidak pernah terikat di satu institusi. Hidupnya bak roller-coaster karena order job yang flow-nya tidak terduga; kadang ramai, kadang ramai banget. Teman saya mulai jenuh. Ingin kehidupan tempo sedang yang teratur, begitu dalih dia. Maka dia bikin wish jadi proletar 9-5 seperti saya. Sim-salabim, GRANTED! Belum genap setahun, teman saya sudah komplen. Dia mulai menampakkan sindroma proletar mati gaya: datang siang, di kantor cuma main games, pulang hedonista. Kata dia, rindu dengan jam tidur berlebihan yang dulu sering dia lakoni. Tapi dia tentu tidak rindu dengan masa paceklik dan tongpes karena invoice yang belum juga dibayar klien.. 

Ada lagi cerita seorang teman yang lama jobless dan wish bisa jadi eksekutif di perusahaan asing. Granted dong. Konsekuensinya, dia mulai berubah jadi 'eksekutif' yang nggak bisa dibawa ke warung emperan atau tempat-tempat nongkrong reguler kami. Dia mulai kongkow di resto-resto dan cafe-cafe mahal, dengan memaksa kami ikut, atau pergi sendiri. Anehnya, pelitnya nggak berubah. Kini dia mulai kehilangan kami, teman-teman lamanya, satu per satu. Dimulai dari saya.. 

Apa pun, ada konsekuensinya. Bagi yang belum mencapai sesuatu hal yang didamba, memang tampak menggiurkan. Tapi waspadalah! Segala pencapaian dalam hidup itu rupanya equal dengan cobaan. Mau yang tampaknya "baik" atau "buruk", semuanya menuntut kita untuk berubah dan beradaptasi. Dan menderita. Dan tersadar bahwa awalnya kita ini hanya anak kecil yang selalu bikin wish agar segera dewasa, hanya karena kita pikir menjadi orang dewasa itu berarti hidup kita akan lebih bahagia. Begitu naifnya. Menurut saya hidup ini bukan pilihan; hidup itu suratan. Kita tinggal menjalani. Menerobos hambatan dan menembus cobaan, kita akan terus ditempa sampai 'lolos' dari jeruji kehidupan. 



Jadi, hati-hati dengan wish yg kita buat. 






Monday, January 17, 2011

Pernah berkendara di Jakarta dan ditabrak bus kota? Saya sudah dua kali!



Insiden tidak berdarah ini terjadi tahun 2007..




Kamis sore. Akhir Januari. Seperti kesepakatan, saya pergi menjemput teman di kantornya yang terletak di Palmerah. Kami rencananya akan menuju toko buku di Matraman untuk membicarakan rencana sesi mendongeng besok minggu. Di luar kebiasaan, teman saya itu membuat saya menunggu lama di parkiran. Entah kenapa sore itu saya ingin segera meninggalkan lingkungan 'kantor' dan menuju toko buku. Karena lama, saya memutuskan parkir di area kantor pusat untuk slash kartu karyawan. Tak lama teman saya datang, dan kami segera mengarah ke Matraman.

Jalan Jakarta sore itu layaknya sore-sore lain; padat kendaraan. Karena dari Palmerah, saya terpaksa lewat Pejompongan yang minta ampun padatnya. Bukan rute pilihan. Lalu kami lurus ke arah Manggarai, sebenarnya saya lebih suka putar balik setelah Jalan Tambak dan masuk ke Berlan. Tapi saya malah belok ke Menteng, Diponegoro, dan lurus lagi ke Salemba. Ini juga bukan rute 'kesukaan' saya. 


Mungkin sudah skenario Tuhan, waktu saya belok dari lampu merah Salemba ke arah Matraman, tepatnya di depan RS Carolus, sebuah bus kota berkode P7 jurusan Senen-Blok M menghantam sukses sisi kiri Toyota Starlet 91 yang saya kendarai. Saking kerasnya, mobil kecil saya itu terseret hingga ke pembatas busway dan membuat saya panik karena khawatir kalau mobil itu terjungkal. Saya sempat egois hanya memikirkan kondisi mobil, padahal ada satu nyawa yang patut lebih diperhatikan: teman saya yang duduk di bangku kiri depan. Alhamdulillah remukan kaca jendelanya tertahan kaca film. Kalau tidak ada kaca film, bisa jadi pecahannya berhamburan ke dalam dan menancapi wajah teman saya--yang ketika itu warnanya sudah seputih pualam karena shock berat. Kondisi jalanan memang sedang penuh, sehingga bus sial itu tidak bisa melarikan diri. Saya seketika keluar dari mobil untuk meminta pertanggungjawaban sang sopir. Dia itu sempat berkelit, tapi saya didukung masyarakat. Bahkan seorang bapak sudah bersedia meng-back up saya. Saya di atas angin, saya perintahkan si sopir menepi. Dia jalan terus, saya pikir kita akan menuju kantor polisi Matraman. Tapi tidak, dia malah tancap gas belok kanan menuju Jalan Proklamasi. Ya Tuhan, menantang sekali! Timbul jiwa sembalap ala film-film aksi; saya kejar bus itu dan saya potong jalannya tepat di depan kantor Tempo. Bam! Ketangkap kamu!

Ya Tuhan, terus terang waktu itu saya sendiri bingung harus bagaimana mengatasi perkara ini. Kalau pun si sopir kooperatif, apa yang harus saya perbuat kemudian? Bagaimana kalau nanti saya malah jadi buruan dia dan teman-temannya?


Di tengah-tengah perasaan yang berkecamuk, tiba-tiba datanglah motor patroli motor. Petugasnya lalu menanyai saya tentang kejadiannya. Saya jelaskan dengan tenang dan lancar, beliau percaya pada saya. Dia lalu memerintahkan kami menuju ke posko ditlantas di daerah Lapangan Banteng untuk menyelesaikan perselisihan. Seperti dugaan saya, hasilnya buntu. Biaya perbaikan yang kami setujui dibagi dua pun tidak bisa dia penuhi malam itu. Maka bus dia ditahan di kantor polisi sampai nanti saat kami berdua yang berselisih sudah mencapai kesepakatan. Teman saya sangat mendukung, dan saya senang dia tidak berlaku berlebihan. Akhirnya saya memutuskan mengikuti kemauan si sopir--Jepli namanya, mungkin orang tuanya dulu fans Led Zeplin--untuk mencicil biaya perbaikan hingga satu bulan. Tapi tentu bus dia tetap ditahan. Itu yang bikin pria berwajah Sumut itu pusing tujuh keliling.

Sebenarnya saya tidak tega. Kenapa harus dia yang menabrak saya? Kenapa tidak bus Patas AC, atau Lorena, atau kendaraan pribadi saja? Ini sudah kali kedua saya ditabrak bus, yang pertama oleh metromini di daerah Warung Buncit. Waktu itu saya sudah pasrah menerima kejadian itu. Dan meskipun sempat keluar mobil untuk menegur si sopir, saya akhirnya kembali ke mobil dan melepas metromini sialan itu pergi.


Anyway, urusan saya dengan bus P7 berkode 5010 berlanjut ketika Jumat sore saya ditelepon oleh sopir asli bus tadi, Pak Plasidius--Pak Jepli rupanya sopir tembak. Saya sudah juga bertemu dia di kantor polisi waktu malam kejadian itu. Pria yang saya duga berasal dari NTT itu minta bertemu Sabtu lalu untuk 'menyelesaikan masalah'. Saya datang bersama paman saya yang biasa terlibat masalah-masalah seperti ini. Pak Plasidius dan Pak Jepli sudah menunggu dari pagi, kami datang sekitar pukul 10. Hadir pula Pak Ndang dari perusahaan bus tadi. Saya lalu tersadar, kasus ini seharusnya juga menjadi tanggung jawab perusahaan itu. Tapi Pak Ndang berkelit perusahaannya tidak bisa menanggung karena Pak Jepli masih terhitung 'sopir baru'. Aneh tapi nyata.


Ya begitulah, sampai satu setengah jam kemudian kami masih belum mencapai kesepakatan. Paman saya berkeras pihak mereka memenuhi kewajibannya secepatnya (which I think they MUST!) dan selalu pasang wajah angker. Saya sendiri berusaha bersikap kooperatif dan penuh empati, sesuatu yang mungkin baru saya dapatkan setelah kejadian ini. Saya berbicara dengan jelas, pelan-pelan, sopan, dan penuh senyum. Tidak konfrontatif sama sekali. Ini kualitas baru lainnya yang saya dapat.


Sungguh kejadian yang menjadi titik kulminasi yang mencerahkan. Saya tahu saya seharusnya menangis, merintih, maratap pilu melihat mobil kesayangan saya--yang saya pelihara dengan baik, sepenuh hati, dan tidak pernah saya percayakan kepada orang lain bahkan ibu saya sendiri--hancur berantakan sisi kirinya. Tapi di situlah justru mata hati saya terbuka; apakah ini nilai hidupku? Apakah tragedi ini mengakhiri kebahagian hidup saya? Apakah saya harus marah kepada Tuhan, Pak Jepli, atau siapa pun yang bisa disalahkan? Kalau ya, lantas apa yang saya dapat dari marah-marah itu? Paling-paling kerutan di dahi dan tekanan darah tinggi.
Jadi saya memutuskan untuk menikmati apa yang disebut seorang teman dalam SMS penuh simpatinya sebagai 'musibah'. Oh tidak nona, ini justru hadiah istimewa dari Tuhan untuk saya! Saya senang bisa berurusan dengan keribetan pencarian solusi masalah ini. Tiba-tiba 'wajah seram' Pak Jepli dan Pak Plasidius berubah menjadi 'wajah manusia' di mata saya. Tiba-tiba saya dalam hati berdoa semoga kehidupan mereka berdua menjadi lebih baik setelah kejadian ini. Saya ingin berteman dengan mereka. Saya bahkan menemukan Pak Plasidius mempunyai cara yang unik ketika tersenyum, dan senyumnya itu sungguh menarik..


Begitulah, ini kali kedua saya berkendara dan ditabrak bus kota. Tapi saya tidak pernah menyesalinya. Saya bersyukur di kejadian yang kedua ini teman saya selamat, hanya mobil saja yang remuk. Bisa diperbaiki. Saya juga bersyukur ternyata banyak teman yang bersimpati, saya merasa tidak sendiri. Saya juga bersyukur karena saya bisa mengistirahatkan mobil itu sejenak setelah kesetiaannya menemani saya hampir setiap hari. Begitu banyak syukur-syukur lainnya yang saya yakin akan datang bertubi-tubi setelah ini. Pada akhirnya, saya bersyukur menjadi diri saya yang seperti ini adanya, yang ternyata begitu mudah menerima pelajaran hidup dan bertekad untuk menikmati hidup.




Monday, January 10, 2011

Being creative, being in Creator's attitude

"Creativity has nothing to do with any activity in particular -- with painting, poetry, dancing, singing -- it has nothing to do with anything in particular. Anything can be creative; it is you who brings that quality to the activity. Activity itself is neither creative nor uncreative. You can paint in an uncreative way, you can sing in an uncreative way. You can clean the floor in a creative way, you can cook in a creative way.

Creativity is the quality that you bring to the activity you are doing. It is an attitude, an inner approach -- how you look at things.

So the first thing to be remembered is, don't confine creativity to anything in particular. It is the person who is creative -- and if a man is creative then whatsoever he does, even if he walks, you can see in his walking there is creativity. Even if he sits silently and does nothing -- even non-doing will be a creative act. Buddha sitting under the Bodhi Tree doing nothing is the greatest creator the world has ever known.

Once you understand it -- that it is you, the person, who is creative or uncreative -- then the problem of feeling like you are uncreative disappears.

Not everybody can be a painter -- and there is no need also. If everybody is a painter the world will be very ugly; it will be difficult to live! Not everybody can be a dancer, and there is no need. But everybody can be creative.

Whatsoever you do, if you do it joyfully, if you do it lovingly, if your act of doing it is not purely economic, then it is creative. If you have something growing out of it within you, if it gives you growth, it is spiritual, it is creative, it is divine.

You become more divine as you become more creative. All the religions of the world have said God is the Creator. I don't know whether he is the Creator or not, but one thing I know: the more creative you become, the more Godly you become. When your creativity comes to a climax, when your whole life becomes creative, you live in God. So he must be the Creator because people who have been creative have been closest to him.

Love what you do. Be meditative while you are doing it -- whatsoever it is! Irrelevant of the fact of what it is. Then you will know that even cleaning can become creative. With what love! Almost singing and dancing inside. If you clean the floor with such love, you have done an invisible painting. You lived that moment in such delight that it has given you some inner growth. You cannot be the same after a creative act.

Creativity means loving whatsoever you do -- enjoying, celebrating it! Maybe nobody comes to know about it -- who is going to praise you for cleaning the floor? History will not take any account of it; newspapers will not publish your name and picture -- but that is irrelevant. You enjoyed it. The value is intrinsic.

So if you are looking for fame and then you think you are creative -- if you become famous like Picasso, then you are creative -- then you will miss. Then you are, in fact, not creative at all; you are a politician, ambitious. If fame happens, good. If it doesn't happen, good. It should not be the consideration. The consideration should be that you are enjoying whatsoever you are doing. It is your love affair.

If your act is your love affair, then it becomes creative. Small things become great by the touch of love and delight.

But if you believe you are uncreative, you will become uncreative -- because belief is not just belief. It opens doors; it closes doors. If you have a wrong belief, then it will hang around you as a closed door. If you believe that you are uncreative, you will become uncreative because that belief will obstruct, continuously negate, all possibilities of flowing. It will not allow your energy to flow because you will continually be saying, "I am uncreative."

This has been taught to everybody. Very few people are accepted as creative -- a few painters, a few poets, one in a million. This is foolish! Every human being is a born creator. Watch children and you will see: all children are creative. By and by, we destroy their creativity. By and by, we force wrong beliefs on them. By and by, we distract them. By and by, we make them more and more economical and political and ambitious.

When ambition enters, creativity disappears -- because an ambitious man cannot be creative, an ambitious man cannot love any activity for its own sake. While he is painting he is looking ahead; he is thinking, 'When am I going to get a Nobel Prize?' When he is writing a novel he is looking ahead, he is always in the future -- and a creative person is always in the present.

We destroy creativity. Nobody is born uncreative, but we make ninety-nine percent of people uncreative. But just throwing the responsibility on the society is not going to help. You have to take your life in your own hands. You have to drop wrong conditionings. You have to drop wrong, hypnotic autosuggestions that have been given to you in your childhood. Drop them! Purify yourself of all conditionings... and suddenly you will see you are creative.

To be, and to be creative, are synonymous. It is impossible to be and not to be creative. But that impossible thing has happened, that ugly phenomenon has happened, because all your creative sources have been plugged, blocked, destroyed, and your whole energy has been forced into some activity that the society thinks is going to pay.

Our whole attitude about life is money-oriented. And money is one of the most uncreative things one can become interested in. Our whole approach is power-oriented and power is destructive, not creative. A man who is after money will become destructive, because money has to be robbed, exploited; it has to be taken away from many people, only then can you have it. Power simply means you have to make many people impotent, you have to destroy them -- only then will you be powerful, can you be powerful.

Remember: these are destructive acts. A creative act enhances the beauty of the world; it gives something to the world, it never takes anything from it. A creative person comes into the world, enhances the beauty of the world -- a song here, a painting there. He makes the world dance better, enjoy better, love better, and meditate better. When he leaves this world, he leaves a better world behind him. Nobody may know him, somebody may know him, that is not the point --but he leaves the world a better world, tremendously fulfilled because his life has been of some intrinsic value.

Money, power, prestige, they are uncreative -- not only uncreative but destructive activities. Beware of them! And if you beware of them, you can become creative very easily. I am not saying that your creativity is going to give you power, prestige, and money. No, I cannot promise you any rose gardens. It may give you trouble. It may force you to live a poor man's life. All that I can promise you is that deep inside you will be the richest man possible; deep inside you will be fulfilled; deep inside you will be full of joy and celebration. You will be continuously receiving more and more blessings. Your life will be a life of benediction.

It is possible that outwardly you may not be famous, you may not have money, and you may not succeed in the so-called world. But to succeed in this so-called world is to fail deeply, is to fail in the inside world. And what are you going to do with the whole world at your feet if you have lost your own self? What will you do if you possess the whole world and you don't possess yourself? A creative person possesses his own being; he is a master." 



[OSHO//Creativity: Unleashing the Forces Within]