Life, stranger than fictions..

Welcome to my blog! It's a pleasure to have you here reading my hyperbolic scribbles. Some are archived stuff from my other blogs (inactive ones), some are brand new ideas. My words will be too much, overrated, out of line, dysfunctional, confusing, impractical and sometime don't make any sense. But in a hand, they have released my tense.
So enjoy these imaginarium of free mind. In a case you are interested to drop a line, or jes wanna appreciate any posts, don't be hesitate. Do your deed! Release those hustle-bustle inside your brain!

Tuesday, January 03, 2012

Reach To The Top!

Hari ini, tepat tanggal 3 Januari 2012, ada dua kejadian yang butuh disyukuri. Pertama, HUT bapak saya ke-73 tahun. Kedua, pemasangan tiang teratas rumah kampung saya.

Mari kita skip kejadian yang pertama, berfokus saja ke syukuran kedua di proses pembangunan rumah bergaya (sok) Spanyol itu. Sebetulanya sudah dari kemarin Mas Tono kasih informasi bahwa sudah saatnya pasang tiang teratas, dan hari kemarin dan sekarang itu wetonnya bagus. Weh, bukannya enggak mau mengadakannya kemarin, lha kasih taunya udah siang. Belum siap lah, mas! Belanja kebutuhannya saja belum.

Maka strategi pun diatur. Karena hari itu ada janji makan siang dengan eks- agen Reksa Dana dan diteruskan makan malam perayaan ultah editor di Majalah Suara PMI, saya menarget belanja ayam dan telur sepulang beraktivitas. Sayur-mayur, beras, kelapa dan bumbu-bumbu bisa besok pagi. Ini didasarkan pengalam syukuran awal pembangun rumah dulu, yang lancar jaya meski cukup mendadak belanjanya. Singkat cerita, rencana penyiapan tumpeng syukuran berjalan mulus. Acara pun alhamdulillah kembali dipimpin Pak Jimin, ustadz spesialis mendoakan rumah di Jalan Kenangan :D

Anyway, berikut evolusi penampakan rumah masa depan saya, dari akhir tahun 2011 hingga tiga hari pertama 2012 ini:

Akhir tahun 2011, Mas Tono menyiapkan gunungan ketiga untuk landasan kayu-kayu kaso.

Tepat tanggal 1 Januari 2012, gunungan sudah lengkap dan tembok mulai diplester.
Yak, inilah penampakan rumah saya yang sudah masuk tahap pemasangan kayu atap.

Ini bagian ruang depan yang bakal jadi semacam ruang tamu.

Sepasang kelapa hijau dan setandan pisang, sebagai tanda syukur atas
pencapaian kerja dan permohonan agar terus dilancarkan dalam prosesnya. Amiiin!

Pak Jimin memimpin doa: semoga rumahnya diparingi berkah, keamanan, kenyamanan,
kebahagiaan, banyak jodoh pria-pria ganteng, baik hati, lucu dan pintar (eh?)

Ini kok Mas Tono cs posisinya kayak abdi dalem menghadap sang raja, hehe.

Tumpeng dipotong! Piring pertama saya persembahkan kepada pak ustadz. Ma'aci ya, Pak Jimin..

Senyuuum :)

Serbu!

Menu kesukaan saya: urap sayur-mayur dan tempe orek teri. Nyaaam!

Om Tomi secara simbolis menanam paku emas ke dalam lubang di batang kayu
yang nanti akan dipasang di puncak teratas rumah saya. Bismillah..

Lubang di kayu tadi lalu dipasang pasak, dibungkus
Bendera Merah Putih, dan dipaku. Siap dipasang!

Sunday, December 25, 2011

The Progress Still Carries On.. And On..

Ok, ini masih ngomongi perkembangan pembangunan rumah kampung saya. Per tanggal 24 kemarin, rumah yang tingginya akan mencapai 4.5 meter ini tampak terlihat menonjol di antara rumah-rumah tetangganya. Yuk, lihat foto-foto dokumentasi saya :)

Welcome! :)

Dari tanah, pondasi bangunan sudah dinaikkan 30 cm, jadi kudu naik tangga
untuk masuk ke teras depan. Ayo, untuk latihan cardio *lebay*

Yang ada bangku plastik merah itu adalah bakal teras depan, yang begitu saya perjuangkan
eksistensinya (semoga nggak sia-sia, amiiiin).

Ruang tamu depan yang akan disematkan jendela dengan bagian atas setengah lingkaran.
Bakal outstanding banget! *yang lain nggak mau pakai karena kuno, hahaha*

Tumpukan hebbel di sebelah kiri itu menggenapi jumlah 12 kubik.

Hari ini, tanggal 25 Desember 2011, laju pembangunan rumah saya seperti tak tertahankan. Sambil menunggu datangnya kusen-kusen jendela dan pintu, 2 kubik sisa hebbel pun dipesan (utang, huhuuu). Sementara itu, Mas Tono yang cuti 4 hari pulang kampung, sudah kembali bekerja bersama tim. Tadi siang saya tengok ke sana, si Mbah sedang siap-siap menyelesaikan atas garasi. Rencananya atap garasi ini akan di-dak biar area atasnya bisa dimanfaatkan untuk duduk-duduk, berkebun, atau menjemur pakaian.

Berikut dokumentasi pembangunan rumah per hari ini:

Adakadabra! Tumpukan hebbel sudah berubah menjadi susunan tembok.

Ruang teras depan, dengan model lubang lengkung kuno ala rumah-rumah kampung.

Si Mbah dkk sedang menyiapkan garasi.
Menurut Mas Tono, proses susun hebbel memang relatif cepat jika dikerjakan sesuai kapasitas anggota tim. Yang akan memakan waktu adalah saat finishing, seperti plestering, pasang ubin dan plafon, permak WC dan dapur, gitu-gitu lah. Wah, kebayang nanti saya pasti occupied banget dengan printil-printilnya.. Mudah-mudahan lancar. Amin...

Friday, December 23, 2011

My Sweet Homey-Home, Progressing Too Fast!

Sejak penanaman batu pertama tanggal 16 Desember lalu, luar biasa banget perkembangan pembangunan rumah Spanyol (kampung) saya; per hari ini (tanggal 23 Desember, berarti sudah 8 hari) sudah 14 kubik hebbel terpasang, dari perkiraan 18 kubik yang dihabiskan. Itu artinya tak lama lagi kerangka atap rumah akan segera dipasang. Kalau menurut perkiraan dan kebiasaan para tukang bangun rumah, kemajuan yang dicapai ini paling tidak memakan waktu 3 minggu. Tim mas Tono memang kesetanan kerjanya, hahaha..

Inilah wajah aseli rumah saya. Foto diambil tanggal 12 Desember 2011.
Tampak 'enggak banget' deh, ya?
Om Tomi berdiri pas di depan lahan kosong yang bakal jadi garasi.
Mas Tono dan si mbah lagi nyusun batang-batang besi menjadi tiang pancang.
Cukup 3 hari saja, kelar semua!
Pemilik rumah meringis, tak sabar proyek ini dapat segera selesai.
Foto per tanggal 17 Desember, sehari setelah momen peletakan batu pertama.
Hebbel 4 kubik siap disusun. Rapi terpasang dalam 2 hari! Ck, ck, ck...
Tim Mas Tono rajin bener kerjanya, hadeh..
Belum lama sudah harus pesan hebbel lagi *pusing bayarnya*
Voila! Dalam 1 hari sudah seperti ini perubahannya. Ck, ck, ck..
Ok, karena para tukang bangunan itu seperti pasukan Bandung Bondowoso, maka saya juga mengimbangi dengan segera memesan pintu, jendela dapur (depan) dan kusen-kusen pintu bagian dalam. Cukup sulit menentukan modelnya karena desain rumah ini total eksperimental dengan pemanfaatan bahan-bahan lama dalam rangka pengiritan dana. Jadinya, gitu deh... Tapi perasaan saya baik banget sama pembangunan rumah ini lho. Bakal jadi landmark di Jalan Kenangan, deh! *toyooor*

Jendela besar dengan atas melengkung seperti itu yang akan saya terapkan
untuk ruang tamu depan. Lubang anginnya akan bulat, lalu ada besi tempa menyilang seperti di bunker.

Model pintu yang saya pilih. Seperti pintu penjara ya? Maklum anggota The Gerwanis...
Model dapurnya seperti ini. Minus meja miring itu.
Jendela dapur depannya niru yang ini. Nanti jendela kiri-kanan itu terbuka dari bawah ke depan.
Yang tengah jendela mati, alias nggak bisa dibuka. Innalillahi...


Daaan, inilah perkembangan rumah kampung saya per tanggal 23 Desember 2011. Tepuk tangan, nunduk penghormatan atas prestasi tim Mas Tono yang luaaar biasa cepat kerjanya.. *ngusap keringat di jidat*

Wah, sudah tampak seperti rumah! Sabar mas, kerjanya jangan buru-buru...
*dompet jebol, dueeer!*

Friday, December 16, 2011

My (On-Going) Spanish Home Project

Alhamdulillah, dengan segenap kenekatan dan paksaan dari berbagai pihak, hari ini proyek pembangunan (renovasi) rumah saya dimulai. Rumah eks- almarhumah Mbah Putri yang diwariskan ke saya itu akan saya ubah habis-habisan. Dan rencananya, kelak saya akan tinggal di sana.

Setelah berbulan-bulan mencari model, dan sempat dipengaruhi tren gaya minimalis dan kolonialis yang memang sedang hits, pilihan saya malah jatuh ke model Spanish Home. Mengapa? Karena saya tertarik dengan kesan "hangat dan mengundang" dari eksterior gaya rumah model ini, yang tak dimiliki oleh eksterior rumah-rumah model minimalis dan kolonialis. Terutama di faktor keberadaan teras depan. Teras ini jarang ada di model rumah modern, karena mereka berprinsip memaksimalkan pemanfaatan lahan. Akibatnya rumah jadi mepet, enggak ada ruang bermain dan berkumpul outdoor. Sementara, saya suka piknik dan ingin punya taman agak luas di bagian depan.

Desain ini saya ambil di internet, mudah-mudahan yang punya rumah enggak marah, hehe..
Rumah Spanyol yang berciri mediterania mengadopsi kondisi geografis di sana yang semi tropis. Bentuknya solid kotak atau setengah lingkaran. Kaku tapi berkesan kokoh. Jendelanya besar-besar atau tinggi. Temboknya tebal untuk melindungi pemiliknya dari terpaan cuaca. Meski tak sedikit yang dibuat bertingkat, megah dan mewah, pilihan saya jatuh ke model-model satu lantai yang sederhana.  Berikut contoh-contoh penampakan muka rumah-rumah Spanyol yang langsung dikomentari "rumah kampung" oleh ibu dan paman saya. Tapi sebodohlah, toh nanti saya yang bayar kuitansi-kuitansi pembangunannya :P

Nah, model ini yang akan ditiru habis. Tapi, ada tambahan garasi dengan atas dak di sisi kiri (sejajar teras).
Yang ini nggak ada terasnya, kurang menarik. Tapi model detail-detail jendelanya bisa ditiru :)

Proyek ini dimandori oleh paman saya, Om Tomi, yang sebelumnya sudah sukses mengawal pembangunan tiga rumah (rumah Pio, ibu, Dewi). Om Tomi juga yang paling "maksa" saya untuk segera mewujudkan renovasi rumah karena menurutnya mumpung tim Mas Tono sedang "on-fire". Saya pasrah. Hitung punya hitung, sebetulnya biaya pembangunannya bakal menghabiskan seluruh uang simpanan. Tapi ya, kapan lagi? Sudah sebelas tahun saya menunda apapun. Ini saatnya, bismillah saja!

Mas Tono (jongkok), mengukur bidang pondasi dan menggali titik-titik yang ditanam rangkaian besi bernama "cakar ayam". Lumayan juga, besi yang dipakai jumlahnya banyak dan terdiri dari ukuran yang cukup tebal. Biar kuat!


Nah, ini model perencanaan yang saya buat. Pada kagum lho, saya bisa bikin model se-kreatif ini, hehe..
Mantan juara pengisi papan mading di SMA dan perguruan tinggi, gitu lho.
Aktor di belakang pembangunan rumah saya: Om Tomi. Full gaya, selalu.
Sudah mulai menganyam besi sejak Senin lalu, tim pembangun rumahnya Mas Tono akhirnya menentukan hari ini (Jumat, 16/12) sebagai awal peletakan batu pertama. Jumat Pon, bagus untuk rezeki dan kekuatan bangunan. Begitu sih penjelasan dari Pak Gimin, yang tadi memimpin doa bersama sebelum potong tumpeng. Ada cerita seru dalam proses penyiapan tumpeng: jauh hari sebelumnya saya sudah berkoordinasi dengan Mbak Las untuk tahapan penentuan menu, belanja kebutuhan bahan, dan proses masak. Kami setuju hari Kamis bahan yang dibutuhkan harus sudah ada semua. Saya pun atur-atur strategi, memantau harga di koran. Ah, lumayan. Saya menemui info harga istimewa untuk ayam di gerai Giant. Saya berencana beli tiga ekor untuk acara selamatan ini. Tapi karena pengaruh pola kehidupan pengangguran yang tidak terpengaruh hari, pada hari Kamis saya malah menerima tawaran memediasi pengadaan suvenir untuk pers di pembukaan Biennale Jakarta 2011. Ndilalah lagi, hari itu perjalanan saya sangat terhambat karena kepadatan lalin. Jadilah seluruh rencana--mau ke Pasar Senen untuk pasang lensa kacamata dan beli hadiah untuk Ening, sekaligus belanja sayuran--tak terlaksana. Dan saya jadi lupa kalau besoknya jadwal bikin tumpeng...
Untungnya (dasar orang Jawa!) setelah urusan Biennale selesai, ada SMS dari Sugi yang mengajak ke RS Islam Pondok Kopi untuk membesuk ayahnya Inne. Saya jadi terpikir mampir ke Giant untuk beli ayam. Begitulah, keesokan harinya dengan pontang-panting saya belanja ke warung untuk bahan-bahan keperluan bikin tumpeng. Alhamdulillah, semua yang dicari ada. Dan si Mbak Las pun masak dengan cekatan dan cepat. Tumpeng siap pukul 09.30 wib :)

Menu tumpeng sederhana: Nasi gunungan (saya yang bikin garnish cabai itu, hehe), sambal goreng kentang-tahu, tempe orek kecap, sayur urap, ayam goreng, kerupuk.
Pak Gimin, ustad spesialis mendoakan pembangunan rumah (LOL) sedang memimpin doa. Insya Allah pembangunannya lancar dan rumahnya membawa keberkahan bagi penghuninya. Amiiin!
Mas Tono dan teman-teman juga khusyuk berdoa. Kerja yang giat dan bagus ya, mas...
Potongan pertama tumpeng diberikan Pak Gimin kepada Mas Tono. Senangnya.. sudah lapar nih!
Serbu!
Setelah tumpeng tandas dalam hitungan tidak lebih dari 15 menit, Om Tomi mengucurkan campuran cor sebagai tanda peletakan batu pertama. Wah, terharu juga. Pembangunan sudah dimulai! Bismillah, semoga lancar dan enggak bikin bocor tabungan :D

Simbolis peletakan "pondasi" cor di salah satu cakar ayam.
Rangkaian tulang besi pun diatur dan disusun untuk penanda ruangan.
Dua bulan lagi punya rumah sendiri. asyiiik! :')
Ini mau ditiru model pagarnya.






Friday, October 07, 2011

kisah si pemelihara tanaman dalam pot-pot kecil

tangannya masih memegang garpu rumput kecil yang ketiga "jari"nya siang tadi tak henti ia asah dengan kikir penajam pisau. pandangannya menerawang. ini sudah 3 jam ia hanya memegang-megang garpu itu, dipindahkan dari tangan kiri ke tangan kanan. dan sebaliknya. sesekali dilihatnya garpu itu, tapi segera alihkan pandangan ke obyek-obyek yang ada di sekitarnya: gerobak kecil untuk mengangkut pot-pot tanaman yang tersuruk di sudut pagar, 3 pot kosong yang pinggirannya mulai ditumbuhi lumut, sebatang pohon mangga tua yang dedaunannya dipenuhi serbuk-serbuk putih yang tak lain adalah hama, dan tentu saja tumpukan rumput teki yang mulai layu.

siapa sangka grafik hidupnya esok akan turun menukik mengempas landasan, setelah 4 bulan masa indah bak mimpi yang terwujud?

irfan dulunya petani tanaman hias di pot-pot kecil. ia sangat berdedikasi dengan pekerjaannya itu, meskipun penghasilannya tak sebaik para petani Anggrek dan Anturium di blok sebelah. baginya, tanaman-tanaman kecil itu adalah bakal dari kehidupan pohon-pohon dewasa. kalau ia tak suburkan tunas-tunas itu, mana ada nanti yang menggantikan tanaman yang besar?

namun, seiring waktu dan kekecewaan karena pot-pot kecil itu selalu dipandang kecil dan tak berarti, irfan mulai mati akal. hidupnya sudah habis untuk pekerjaannya. ia bahkan tak sempat menikmati jerih payah untuk sedikit menghibur diri. maka ia memutuskan berhenti mengurus pot-pot kecil itu di saat hama wereng putih menyerang blok-blok pemelihara tanaman hias itu.

irfan tahu, ia seharusnya bertahan, membuat obat anti-hama, dan mengajarkan petani lain bagaimana menyelamatkan tanaman mereka. tapi ia diam saja, dan tanaman di pot-pot kecilnya berguguran. ia diam saja. sampai 3 bulan kemudian tanaman-tanaman kecilnya habis oleh hama wereng...

keesokan harinya irfan datang ke bloknya sambil membawa berikat-ikat rumput teki. oh, rupanya sebelum tanaman-tanaman di pot-pot kecilnya benar-benar binasa, ia didatangi penanam modal yang ingin ia mengembangkan rumput teki di blok tanaman hiasnya. pantaslah ia diam saja terhadap nasib tanaman-tanaman kecil di pot-pot kecil itu! irfan sudah memperkirakan jika dalam sebulan tanaman-tanaman dalam pot-pot itu seluruhnya terkena serangan hama, maka ia dapat mulai menyemaikan bibit rumput teki. dan sebulan kemudian memindahkan bibit-bibitnya masuk ke pot-pot kecil yang sudah bersih dari tanaman-tanaman sebelumnya. ah, sempurna!

tapi 4 bulan yang penuh harapan dan kebahagiaan itu punah sudah. sang penanam modal tak mau memberinya tambahan uang untuk membeli pupuk dan sedikit lainnya untuk perbaikan blok. lihat, pagar blok irfan sudah harus diganti, bukan? belum lagi selang air dan peralatan berkebunnya sudah usang begitu. padahal para petani rumput teki yang suka dilihatnya di televisi, selalu tampil rapi jali. bloknya bagus terawat, peralatannya pun tampak modern dan baru. sementara punya irfan? oh..

sengit tadi ia menjelaskan pentingnya tambahan uang itu. meski dengan wajah tetap tenang dan intonasi serta tatanan bahasa yang baik, irfan sebenarnya dongkol tak terkira. penanam modal tak kalah tenang dan tak terbaca air mukanya. tapi keputusan mereka bulat; hanya menambah dana 10%.

aduduh, bisa apa irfan dengan tambahan segitu? gila betul! ini bukan sekadar memperbaiki pagar dan peralatan, sungguh. ini tentang dambaan yang terpendam untuk hidup lebih baik! setelah mimpi lama yang dikubur paksa, kini mimpi yang kedua hanya seperti serdawa?

irfan seperti kehilangan napas. ia memutar-mutar garpu rumput itu dengan satu tangan. otot-ototnya mengencang, berkilau karena keringatnya terkena cahaya matahari. lengan yang tampak kekar dan kuat itu menegang. dan dalam gerakan yang cepat, "jap!"

"aaaah!"

irfan menancapkan garpu berjari 3 yang tiap jarinya sudah ia asah dengan kikir sejak 3 jam lalu itu ke tenggorokannya. ia tahu rasanya akan sakit sekali, tapi ia juga tahu akibat fatal dari tindakan itu. sejenak ia merasakan sensasi alat tajam merobek saluran nasal di bawah mulutnya, tak sanggup ia meraung mengumbar sakit. terasa aliran cairan membasahi sekujur dada. sekelilingnya mulai berputar, pandangan irfan kian buram. pelan-pelan ia dudukkan dirinya. rasa sakit sudah tak menguasai syaraf-syarafnya.

irfan sadar waktunya sudah dekat. ia bergeser pelan mendekati 3 pot kecil yang pinggirnya mulai ditumbuhi lumut. ia mendekap ketiganya dengan hati-hati. irfan terjungkal pelan dan masih memeluk pot-pot itu. kini ia lurus mengikuti kontur tanah. tidur dalam kedamaian yang luar biasa. cairan yang masih belum berhenti mengalir itu membuatnya seperti patung gnome yang disiram cat merah.




dan kini irfan memandang blok pemelihara tanaman hias dari atas nirwana..

Saturday, September 03, 2011

Risau

Apa yang kamu cari dalam hidup ini, sayang?
Semua yang kamu damba rasanya sudah didapat.
Benda-benda bercahaya, kepuasan berkarya, hidup sejahtera.
Kamu juga kini dalam kondisi sehat wal afiat dan dikelilingi orang-orang yang membawa maslahat.

Kalau kamu tetap risau dan seringkali tergetar,
tidakkah baiknya kamu bertanya ke hatimu yang paling dasar,
apakah sampai di sini perjalanan hayat akan berakhir?


Wednesday, June 22, 2011

Catatan Harian Si Boy: NOT the return of mas boy and the gang

Legaaa banget habis nonton film Catatan Harian Si Boy (CHSB) di press screening yang ambil tempat di XXI Epicentrum-Kuningan kemarin. Mengejutkan, filmnya segar & menghibur! Padahal terus terang saya sudah sarkastik aja, prejudis & pesimis karena sutradaranya masih anak baru, nggak punya portofolio bikin film pula. Sementara beban serial Catatan Si Boy (Cabo) terdahulu kan cukup berat tuh...


The poster. Nggak jelek..


Kalau belum tahu gimana legendarisnya film Cabo, serial yang sekuelnya sudah 4 biji ini bak film James Bond; selalu dinanti. Di zaman sekarang ya seri Hary Potter dan Twilight Saga. Bedanya, Cabo berawal dari sandiwara radio yang rutin diputar radio remaja paling hit di tahun 80-90'an, Prambor's Rasisonia. Zaman itu sandiwara radio sedang booming, dan yang segmen pendengarnya anak remaja gaul ya Cabo ini. Dengan setting kota Jakarta masa itu yang sedang tumbuh makmur dan banyak konglomeratnya (hasil KKN), maka generasi keduanya digambarkan hedon, melek fashion dan punya bahasa sendiri. Karakter utama ceritanya, si Boy, anak tajir yang demen ke disko tapi tak pernah lupa sholat 5 waktu dan rajin kuliah. Banyak icon-icon yang menjadi tren remaja diserap dr film ini: BMW ala mas Boy, tasbih yang digantungkan di kaca spion tengah, bahasa slang Boy dkk, celana jins baggy & kacamata "cengdem", dan tentu aja soundtrack klasik macam theme song Catatan Si Boy yang dinyanyikan Ikang Fawzi, Boy I Love You-nya Fairuz, Emosi Jiwa-nya Yana Julio & Lita Zein, dan Terserah Boy-nya Atiek CB.


Nah, terbayang dong gimana CHSB ini diharapkan mampu mengimbangi hip yang pernah dibuat sama 5 film Cabo? Bagi fans serial Cabo, mereka pasti berdoa supaya CHSB nggak ngrusak kenangan indah mereka tentang konflik percintaan si Boy dengan beberapa perempuan, tentang penggambaran kehidupan hedon kaum jetset lokal yg terlihat 'normal', tentang Kendi yang ganteng & jago brantem, dan tentu tingkah-laku Emon yang sangat dinanti.


Ario Bayu, "Mas Boy" buat generasi baru.

Saya enggak ngikutin gosip pra-produksi film ini, tapi terdengar cerita dari teman bahwa si sutradara (Putratama Tuta) sempat diwawancara. di sesi itu dia dipojokkan, ditanya apakah film ini remake dari seri Cabo terdahulu. Konon Tuta berulang kali menjelaskan bahwa film debutnya ini nggak menceritakan kelanjutan konflik si Boy di Cabo, melainkan memakai medium buku harian sebagai alibi memakai cast & setting yang kadung klasik itu. Tapi si wartawan nge-push, minta ada pernyataan yang mengarah ke kaitan film dengan Cabo. Jadilah sambil berseloroh si sutradara lulusan sekolah film di Aussie ini menyebut bintang utama filmnya ini adalah buku catatan harian si Boy, bukan si Boy-nya. Semua yang ada di sesi itu pun tertawa.

Dan ternyata, itu bukan gurauan. Film ini memang bukan film tentang mas Boy di Cabo dulu. Ini film yang meminjam bukunya untuk membangun sikuen cerita. Agak dipaksakan sih, tapi masih di ambang normal kok. Filmnya sendiri menceritakan kisah persahabatan Satrio (Ario Bayu), Nina (Poppy Sovia), Andi (Abimana Satya), dan Herry (Albert Halim). Mereka berempat beraktivitas di bengkel mobil dengan peran yang berbeda. Konflik muncul setelah Satrio bertemu Tasha (Carissa Putri) & pacarnya di kantor polisi. Bla, bla, bla.. yada, yada, yada. Yak, silakan tonton sendiri.


Adegan yang menurut saya keren banget angle kameranya.


Adegan pembuka di awal film--yang ujug-ujug memperlihatkan Onky Alexander sedang terburu-buru menuju ke heli pad--memang bikin misleading penonton. terutama saya, yang benar-benar kuatir kalo ini semata-mata film yang ingin numpang kebekenan seri Cabo! Tapi seiring berjalannya scene demi scene, tampaklah permainan angle kamera yang dinamis dan atraktif, visual film yang ala luar negeri (nggak taunya post-produksi dikerjain di Thailand), daaan akting Poppy Sovia & Abimana yg jempolan.. Maka saya dengan sukses menyimpulkan bahwa film berdurasi 1 jam 40 menit ini bukan remake seri Cabo. Definitely not. Yang ini beda, memakai icon-icon yang sesuai dengan zamannya, segar, dan boleh banget ditonton karena sangat menghibur.




Seluruh pemain dan kru berfoto bersama saat konferensi pers.














Buktikan aja sendiri!