Life, stranger than fictions..

Welcome to my blog! It's a pleasure to have you here reading my hyperbolic scribbles. Some are archived stuff from my other blogs (inactive ones), some are brand new ideas. My words will be too much, overrated, out of line, dysfunctional, confusing, impractical and sometime don't make any sense. But in a hand, they have released my tense.
So enjoy these imaginarium of free mind. In a case you are interested to drop a line, or jes wanna appreciate any posts, don't be hesitate. Do your deed! Release those hustle-bustle inside your brain!

Monday, January 17, 2011

[archieve] Martian child: putting back a freak into a kid

Saya harus sebut hari itu hari keberuntungan, karena dapat DVD bajakan yang secara gambar dan cerita sangat bagus: The Martian Child. Film ini nggak sengaja saya pilih, benar-benar nggak ada di daftar film buruan. 
Posternya lucu!
Apa yang membuat film ini istimewa adalah tema yang sudah lama nggak "dioprek" sama sutradara-sutradara film komersil: tema parenting. Uniknya lagi, alih-alih ambil jenis masalah anak-anak disabled atau retarded, yang diangkat di film ini justru tentang anak yang over imaginative; mengaku makhluk dr planet Mars!

Sinopsisnya: David (John Cussack) adalah seorang penulis fiksi terkenal yang ketika kecil dikenal sebagai "anak aneh" karena senang menyendiri. Dia baru ditinggal mati istrinya dan setelah itu tinggal bersama seekor anjing bernama Somewhere. Entah dapat ilham dari mana, tiba-tiba David memutuskan ingin mengadopsi anak. Tapi entah bagaimana juga, David kedapatan jatah anak yang unik; namanya Denis, dia mengaku berasal dari planet Mars. Denis awalnya nggak mau keluar dari kardus karena takut sinar matahari akan merusak kulit sensitif ala Mars-nya. Dia juga memakai ban pinggang dari rangkaian batre-batre bekas yang katanya bermanfaat untuk menahan massa tubuhnya yang bisa floating karena gaya gravitasi. Denis juga suka menggantung diri secara terbalik, persis kalong. Full deh anehnya! Merasa memiliki kesamaan, David berusaha keras menjadi 'ayah' buat Denis dan sedikit-sedikit mengubah anak itu kembali menjadi 'manusia bumi.'

Dari sudut akting, John Cussack memang tipikal jadi dirinya yang biasa; ordinary guy, witty, adorable (those puppy eyes), but not really into playing hard-to-catch. Ada Amanda Peet yang sepertinya dipasang sebagai cast 'hiburan' tapi cukup memberi kesegaran (who can resist those pretty blue eyes?). Akting si pemeran Denis juga sebenarnya biasa aja. So it's a regular character-base movie though, none appears extra-ordinary than others.

Little bat-kid :)


However, I cried and wept when I watched it. What the heck. In some way or another I felt as one of these weird children who believed in such an imaginative thingy. Oh yes, we're struggled hard to returned back to reality, that ultimately bites. You should watch it whenever you got time, it'll become a rewarding moment to treasure.




[archieve] Durian's night story

Been a while never hung out with my dearest friend, Cucur. So since she appeared online this evening (after a series of tiring, brain-sucking meetings) I asked if we could have a dinner tonight. "I'm penniless," she remarked. So did I, dude! "We don't have to spend money, buy dinner at fancy restaurant like we used to," I replied. "But I want to have dinner in a fancy resto with you. Wait until I become a rich gurl again. Go and swear to me!" she teased me. Oh c'mon, she's currently in Madam Laksmi Pamuntjak's Food Guide 3rd Edition project. I bet she could swim in her money. "GUE SUMPAHIN KAYA, LO!" that's what I wrote in my YM though. "What's that capital letters?" she asked. "Well Tuhan lebih perhatian kalau permintaan umatnya ditulis pake huruf besar," I replied. Hehehe..

We arranged to meet at Soto Ceker (she called it 'Cekribirawa') in front of American Grilled Sabang. I went to buy Alicia Keys' CD at DS, then went straight to the boot to see her. There were Anita and Barki, enjoying their Soto Ceker. Seemed delicious. But my stomach was full from meetings' snacks and lunch box. I had it for that day.


Cucur had her soto, but I knew she only ate a little of it. Typical of her. Not to mention this soto contained too much MSG that she hate so much since it is often caused her headache. Yet, I noticed that Anita was having two bowls of this soto, also fried duck and a glass of orange juice. She's the best when it comes to eat! 


While chewing her chicken feet, Barki told us about his unsuccessful experience of buying Durian. "Nggak manis! Padahal habis 30ribu," he exclaimed. "Kita beli Durian lagi yuk di Total?" he came up with this idea.


Anita had a better one. "Let's go to Pasar Genjing! There are lots of Durian with much cheaper price," she said. "Ah yes, better go to Genjing than Total!" Cucur agreed. "OK," Barki finally agreed. "But we should wait for Paul, he wants to have soto. You will join us to Genjing right, Cip?" she asked.


Durian. Yum! Simply irresistible. I was having a cup of es Durian last Saturday when I had an assignment at Bogor, the taste is still linger in my tongue. I enjoy Durian since my childhood, but as I grow up I don't recall the time I bought Durian by myself. That's strange. I only had it if mom or dad or any body else bought it. But I never deliberately had it. I don't think I should and I'm not capable of picking the right Durian it'll only make me disappointed. Buying Durian is close to gambling though.


So there we were; Cucur, Anita, Dewan, Barki, Paul, and I, starred at these piles of Durian in one of the trader along Pasar Genjing's street. Honestly I didn't know which one was which, Anita had taken all the charge. "Nih, eat! You can have 3 delicious Durians only for 50 grand," Anita pointed at these mouth-watering Durians she picked at the trader. Barki took the first and dipped his finger with ecsstacy. "Sweet," he remarked. Paul only smiled. He refused to have it that night. "Not in the mood for Durian," he said. "This is good!" remarked Cucur. Anita smiled in her greatest satisfaction. "Have it, Cip!" she invited. So I took mine, brought it into my mouth, and..

 
The world had stoped. 

No sounds. 
All my senses and every part of my body suddenly switched off and rested peacefully. 
It was only my tongue and the upper part of my mouth that were chanting this bizzare, magical spell. 


They sang such a beautiful song; of a sweet, tasty, rich flavor of a heavenly fruit called "Durian".


Anita and piles of durians



The Assistant [teaser]

Preambul:
Berikut ini potongan cerita fiksi yang sudah lama saya simpan. Idealnya mau diolah lagi sampai jadi skenario untuk film layar lebar. Menurut saya, masuk genre "thriller-mystery" dan secara D.O.P harus divisualisasi dan dibikin frame-frame dramatis seperti film "Crash" atau "The Dead Girl".

Mohon doa restu, input, kritik, beras, baju-baju bermerk layak pakai..



Frame 12, "The Assistant", by Cippi

Masih pukul 9. Dia akan datang satu jam dari sekarang. Itu artinya aku punya kesempatan memeriksa semua hal. Semuanya, rencanaku tak boleh gagal. Ok, mari kita buka lagi. Materi untuk si Ibu, siap. Materi dari Mas Jiwo, siap. Cakram presentasi Budi, siap. Kertas kosong dan pena untuk peserta rapat, siap. Sekarang aku bisa menyiapkan teh untuk si Ibu. 


Ini saatnya aku memanggil mbak Shinta. Ah, itu telponnya, di meja sudut. 3-3-0, nah sudah terhubung. “Mbak Shinta, saya sudah di ruang rapat. Teh untuk Bu Chandra belum dibuatkan Yanto, ya? Yanto sedang mengantar Mbak Sukma? Ya sudah, saya buatkan. Ada, saya kebetulan bawa teh celup. Iya, teh hijau. Si Ibu sudah datang? Iya, saya sudah bilang ke beliau bahwa saya duluan ke ruang rapat. Saya mau menyiapkan materi presentasi saya.” Beres. 
Mas Jiwo, dan seluruh peserta rapat pagi ini sudah aku beritahu bahwa pertemuan diundur 45 menit karena si Ibu harus ke dokter dulu. Aku punya waktu 45 menit untuk menyelesaikan ini. Dan ini harus selesai, harus!


Campurkan sedikit saja, si Ibu tak akan mungkin mengenali baunya. Si bodoh itu akan merasa high, tak lama perutnya akan bergejolak, dan panggilan alam pun tiba. Di situlah aku harus cepat bertindak.


Di mana aku sembunyikan tongkat itu? Ah, di balik pintu toilet. Gerendel dalam pintu kamar mandi sudah aku lepas, dia tak akan bisa mengunci pintu. Aku sudah menyiapkan ember penuh air dan gayung di dekatnya. Dia akan menggunakannya untuk menutup pintu sementara hasrat buang air besarnya tak tertahankan lagi. Pasti ketika ide cemerlang itu terlintas, dia merasa sejenius McGyver. Saat itulah aku menerobos masuk…


Ini saatnya. Kau tak perlu takut, dia adalah penghalang kebahagiaan hidupmu. Hidup semua orang di divisi ini. Kau akan menjadi pahlawan, kau membebaskan beban berat yang dirasakan teman-temanmu. Kecemasan, ketakutan, depresi akut akibat dianiaya secara mental. Kau bisa melanjutkan hidupmu, kesenanganmu bekerja. Kau berhak atas itu. 



Kau berhak, Tini…


courtesy of www.executivecoachingforbusinesssuccess.com

Pernah berkendara di Jakarta dan ditabrak bus kota? Saya sudah dua kali!



Insiden tidak berdarah ini terjadi tahun 2007..




Kamis sore. Akhir Januari. Seperti kesepakatan, saya pergi menjemput teman di kantornya yang terletak di Palmerah. Kami rencananya akan menuju toko buku di Matraman untuk membicarakan rencana sesi mendongeng besok minggu. Di luar kebiasaan, teman saya itu membuat saya menunggu lama di parkiran. Entah kenapa sore itu saya ingin segera meninggalkan lingkungan 'kantor' dan menuju toko buku. Karena lama, saya memutuskan parkir di area kantor pusat untuk slash kartu karyawan. Tak lama teman saya datang, dan kami segera mengarah ke Matraman.

Jalan Jakarta sore itu layaknya sore-sore lain; padat kendaraan. Karena dari Palmerah, saya terpaksa lewat Pejompongan yang minta ampun padatnya. Bukan rute pilihan. Lalu kami lurus ke arah Manggarai, sebenarnya saya lebih suka putar balik setelah Jalan Tambak dan masuk ke Berlan. Tapi saya malah belok ke Menteng, Diponegoro, dan lurus lagi ke Salemba. Ini juga bukan rute 'kesukaan' saya. 


Mungkin sudah skenario Tuhan, waktu saya belok dari lampu merah Salemba ke arah Matraman, tepatnya di depan RS Carolus, sebuah bus kota berkode P7 jurusan Senen-Blok M menghantam sukses sisi kiri Toyota Starlet 91 yang saya kendarai. Saking kerasnya, mobil kecil saya itu terseret hingga ke pembatas busway dan membuat saya panik karena khawatir kalau mobil itu terjungkal. Saya sempat egois hanya memikirkan kondisi mobil, padahal ada satu nyawa yang patut lebih diperhatikan: teman saya yang duduk di bangku kiri depan. Alhamdulillah remukan kaca jendelanya tertahan kaca film. Kalau tidak ada kaca film, bisa jadi pecahannya berhamburan ke dalam dan menancapi wajah teman saya--yang ketika itu warnanya sudah seputih pualam karena shock berat. Kondisi jalanan memang sedang penuh, sehingga bus sial itu tidak bisa melarikan diri. Saya seketika keluar dari mobil untuk meminta pertanggungjawaban sang sopir. Dia itu sempat berkelit, tapi saya didukung masyarakat. Bahkan seorang bapak sudah bersedia meng-back up saya. Saya di atas angin, saya perintahkan si sopir menepi. Dia jalan terus, saya pikir kita akan menuju kantor polisi Matraman. Tapi tidak, dia malah tancap gas belok kanan menuju Jalan Proklamasi. Ya Tuhan, menantang sekali! Timbul jiwa sembalap ala film-film aksi; saya kejar bus itu dan saya potong jalannya tepat di depan kantor Tempo. Bam! Ketangkap kamu!

Ya Tuhan, terus terang waktu itu saya sendiri bingung harus bagaimana mengatasi perkara ini. Kalau pun si sopir kooperatif, apa yang harus saya perbuat kemudian? Bagaimana kalau nanti saya malah jadi buruan dia dan teman-temannya?


Di tengah-tengah perasaan yang berkecamuk, tiba-tiba datanglah motor patroli motor. Petugasnya lalu menanyai saya tentang kejadiannya. Saya jelaskan dengan tenang dan lancar, beliau percaya pada saya. Dia lalu memerintahkan kami menuju ke posko ditlantas di daerah Lapangan Banteng untuk menyelesaikan perselisihan. Seperti dugaan saya, hasilnya buntu. Biaya perbaikan yang kami setujui dibagi dua pun tidak bisa dia penuhi malam itu. Maka bus dia ditahan di kantor polisi sampai nanti saat kami berdua yang berselisih sudah mencapai kesepakatan. Teman saya sangat mendukung, dan saya senang dia tidak berlaku berlebihan. Akhirnya saya memutuskan mengikuti kemauan si sopir--Jepli namanya, mungkin orang tuanya dulu fans Led Zeplin--untuk mencicil biaya perbaikan hingga satu bulan. Tapi tentu bus dia tetap ditahan. Itu yang bikin pria berwajah Sumut itu pusing tujuh keliling.

Sebenarnya saya tidak tega. Kenapa harus dia yang menabrak saya? Kenapa tidak bus Patas AC, atau Lorena, atau kendaraan pribadi saja? Ini sudah kali kedua saya ditabrak bus, yang pertama oleh metromini di daerah Warung Buncit. Waktu itu saya sudah pasrah menerima kejadian itu. Dan meskipun sempat keluar mobil untuk menegur si sopir, saya akhirnya kembali ke mobil dan melepas metromini sialan itu pergi.


Anyway, urusan saya dengan bus P7 berkode 5010 berlanjut ketika Jumat sore saya ditelepon oleh sopir asli bus tadi, Pak Plasidius--Pak Jepli rupanya sopir tembak. Saya sudah juga bertemu dia di kantor polisi waktu malam kejadian itu. Pria yang saya duga berasal dari NTT itu minta bertemu Sabtu lalu untuk 'menyelesaikan masalah'. Saya datang bersama paman saya yang biasa terlibat masalah-masalah seperti ini. Pak Plasidius dan Pak Jepli sudah menunggu dari pagi, kami datang sekitar pukul 10. Hadir pula Pak Ndang dari perusahaan bus tadi. Saya lalu tersadar, kasus ini seharusnya juga menjadi tanggung jawab perusahaan itu. Tapi Pak Ndang berkelit perusahaannya tidak bisa menanggung karena Pak Jepli masih terhitung 'sopir baru'. Aneh tapi nyata.


Ya begitulah, sampai satu setengah jam kemudian kami masih belum mencapai kesepakatan. Paman saya berkeras pihak mereka memenuhi kewajibannya secepatnya (which I think they MUST!) dan selalu pasang wajah angker. Saya sendiri berusaha bersikap kooperatif dan penuh empati, sesuatu yang mungkin baru saya dapatkan setelah kejadian ini. Saya berbicara dengan jelas, pelan-pelan, sopan, dan penuh senyum. Tidak konfrontatif sama sekali. Ini kualitas baru lainnya yang saya dapat.


Sungguh kejadian yang menjadi titik kulminasi yang mencerahkan. Saya tahu saya seharusnya menangis, merintih, maratap pilu melihat mobil kesayangan saya--yang saya pelihara dengan baik, sepenuh hati, dan tidak pernah saya percayakan kepada orang lain bahkan ibu saya sendiri--hancur berantakan sisi kirinya. Tapi di situlah justru mata hati saya terbuka; apakah ini nilai hidupku? Apakah tragedi ini mengakhiri kebahagian hidup saya? Apakah saya harus marah kepada Tuhan, Pak Jepli, atau siapa pun yang bisa disalahkan? Kalau ya, lantas apa yang saya dapat dari marah-marah itu? Paling-paling kerutan di dahi dan tekanan darah tinggi.
Jadi saya memutuskan untuk menikmati apa yang disebut seorang teman dalam SMS penuh simpatinya sebagai 'musibah'. Oh tidak nona, ini justru hadiah istimewa dari Tuhan untuk saya! Saya senang bisa berurusan dengan keribetan pencarian solusi masalah ini. Tiba-tiba 'wajah seram' Pak Jepli dan Pak Plasidius berubah menjadi 'wajah manusia' di mata saya. Tiba-tiba saya dalam hati berdoa semoga kehidupan mereka berdua menjadi lebih baik setelah kejadian ini. Saya ingin berteman dengan mereka. Saya bahkan menemukan Pak Plasidius mempunyai cara yang unik ketika tersenyum, dan senyumnya itu sungguh menarik..


Begitulah, ini kali kedua saya berkendara dan ditabrak bus kota. Tapi saya tidak pernah menyesalinya. Saya bersyukur di kejadian yang kedua ini teman saya selamat, hanya mobil saja yang remuk. Bisa diperbaiki. Saya juga bersyukur ternyata banyak teman yang bersimpati, saya merasa tidak sendiri. Saya juga bersyukur karena saya bisa mengistirahatkan mobil itu sejenak setelah kesetiaannya menemani saya hampir setiap hari. Begitu banyak syukur-syukur lainnya yang saya yakin akan datang bertubi-tubi setelah ini. Pada akhirnya, saya bersyukur menjadi diri saya yang seperti ini adanya, yang ternyata begitu mudah menerima pelajaran hidup dan bertekad untuk menikmati hidup.




Saturday, January 15, 2011

The end of the affair: Ketika cinta berakhir, dimana Tuhan berada?

“Kau tak perlu takut. Cinta tidak berakhir, hanya karena kita tidak saling bertemu. Bukankah orang tetap mencintai Tuhan, meski seumur hidup mereka tak pernah bertemu denganNya?”
“Bukan seperti itu cinta kita.”
“Kadang-kadang aku tak percaya ada cinta yang lain dari itu.”
 

Itulah sepenggal percakapan antara Maurice Bendrix, seorang novelis, dan Sarah Miles, istri sahabatnya, yang menjalin cinta rahasia dengan latar perang dunia kedua di London. Kisah fiksi dramatis mereka—dikarang oleh Graham Greene di buku “The End of The Affair”—baru selesai saya baca. Novel setebal 370-an halaman ini punya multitasking content dan memiliki semua aspek yang saya cari di sebuah fiksi: drama, misteri, intrik percintaan, pencarian atas makna kehidupan, dan ironi. Dialog-dialog setiap karakter (baik di antara mereka atau dengan diri sendiri) terasa begitu dalam, bersayap, dan menyentuh perasaan. Di luar intrik perselingkuhan cinta yang penuh hasrat dan mengalami pasang-surut sesuai kepingan fakta yang satu per satu tersusun hingga akhir cerita, esensi novel ini tak lain mempertanyakan keberadaan Tuhan: apakah Dia selalu membuat penderitaan bagi manusia sebagai ‘tanda’ bahwa mereka masih hidup? 

Begini kisah percintaan terlarang Bendrix dan Sarah dimulai: Maurice Bendrix hendak menulis novel yang salah satu karakternya berprofesi sebagai pegawai pemerintah. Untuk menghidupkan karakternya, Bendrix berkenalan dan berteman dengan Henry Miles, pegawai di sebuah departemen. Henry tak menyadari dirinya dijadikan obyek sampai novel Bendrix akhirnya diluncurkan. Dalam proses penulisan, Bendrix banyak berinteraksi dengan istri Henry, Sarah. Sarah adalah wanita yang cantik, anggun, dan tampak percaya diri. Ketika mereka terjerumus ke perselingkuhan, banyak hal yang sedikit demi sedikit mereka padu dari masing-masing kelemahan. Dan selalu menjadi ironi dari hubungan yang tidak wajar; mereka rupanya malah saling menemukan dan tak punya apa-apa lagi untuk dibagi, selain saling menyakiti! 



Mereka lalu menjaga jarak. Bendrix pergi dan menghindari Sarah. Karena kelihatannya tak ada usaha Sarah untuk menghubunginya, Bendrix terperangkap dalam rasa dendam dan kebencian—terutama kepada Tuhan, sampai suatu saat ia bertemu lagi dengan Henry. Keinginan Bendrix untuk mengetahui kabar Sarah menggelora. Mereka pun bertemu lagi, kali ini Bendrix berusaha menutupi kerinduannya dan tampil sebagai seseorang yang kuat. Tapi Sarah malah mengajaknya makan siang di tempat kenangan mereka, dan pertautan terjalin kembali. Lalu perasaan cinta tumbuh dengan subur. 

Tapi cinta kemudian menjadi sebuah keadaan yang membingungkan. Ketika Bendrix yang tak percaya Tuhan dan selalu meragu, dan Sarah yang terlihat tegar namun rapuh di dalamnya, menyadari bahwa mereka sudah menguras habis cinta mereka dan tak ada lagi yang tersisa untuk orang lain, mereka malah harus menghadapi musuh terbesar kehidupan: kematian. Saat tidak ada lagi cara untuk menemukan kebahagiaan bagi satu karakter karena karakter pasangannya sudah tiada, apakah ada cara lain untuk membuat kehidupan jadi bermakna saat obyek kasih sayang direnggut kematian? 



Saya penggemar berat Romo Mangun’s ‘Burung-burung Manyar’, dan novel ini mampu mengembalikan keasikan yang sama. Setiap kalimatnya menghidupkan imajinasi tentang kehidupan gloomy ala London pra-perang dunia kedua, pertemuan-pertemuan rahasia Bendrix dan Sarah, bom-bom yang meledakkan sebagian gedung-gedung di London, dan tingkah-polah mr. Parkis dan anaknya ketika sedang menguntit mrs. Miles. Dan tidak heran kalau Graham Greene piawai benar menggambarkan ambient di cerita ini, karena cerita ini konon pernah dialami sendiri oleh mantan jurnalis di The Times - London, agen rahasia di Sierra Leone, pengelana yang pernah berkeliling dunia dan saksi dari beragam insiden penindasan kelompok minoritas di dunia ini. 



Kisah Saraswati & Bima [teaser 1]



sejenak cerita ttg agoni..


di suatu masa, tersebutlah seorang pria bernama BIMA yang lebih nyaman dengan dirinya sendiri. dia pikir hidupnya sudah cukup, tak perlu kemewahan untuk didampingi lawan jenis yang tentu tak mungkin akan memenuhi semua kriteria dari seseorang yang dianggapnya sempurna. 

tapi Pemilik Hidup memberinya kejutan. tiba-tiba, perempuan itu berwujud, solid berada di depan batang hidungnya: SARASWATI!

memang, tak ada sisi fisik yang menarik hasrat untnk dekat dengan dia; wajahnya biasa, tubuhnya biasa, rambutnya biasa, hidungnya tak bangir, kulitnya pun coklat biasa. itu tadi kalau tak mau kasar menyebut kekurangan fisik si perempuan yang bentuk tubuhnya tak proporsional di segala sudut. ya, gambaran perempuan biasa saja yang di keramaian begitu membaur, kecuali dia memakai baju berwarna seronok..

tapi Bima tak perlu sulit-sulit mencari wajah perempuan itu di benaknya. kenangan tentang Saraswati tak pernah lekang dari alam pikiran Bima. bukan, bukan wajah bulat berdahi lebarnya yang di beberapa tempat ditumbuhi jerawat itu yang membuat Bima kadang tersenyum sendiri. bukan pula bibir tebal kecoklatan atau dada ratanya, atau selera buruk berpakaian perempuan itu. bukan. masih ada 1001 perempuan lain yang lebih indah untuk diingat penampilannya oleh Bima, percayalah.

sesuatu lainnya yang membuat Bima tak henti ingin selalu meluangkan waktu dengan Saras: kegembiraan saat mereka menghabiskan waktu mendiskusikan hal-hal yang terkadang dipikir Bima hanya dia saja yg menyukai dan mengetahui; kenyamanan saat suara perempuan itu mengagumi dan mengapresiasi fakta atau informasi baru yang dia berikan (sejak dia kenal Saraswati, Bima tak kenal waktu menggali segala hal yang disukai Saraswati); dan yang lebih membingungkan namun dirindukannya adalah sensasi yang menyeruak di bawah kulitnya hingga sekonyong-konyong darah di nadinya memburu--seolah-olah ingin pecah--setiap saat mereka sedang berdekatan!

apa yang terjadi padaku? tanya si pria. tak ada yang istimewa dari Saraswati, pikir Bima. tak ada. kecuali ketulusannya memperhatikan kesehatan dirinya yang gemar merokok dan tidur hingga larut malam. hanya itu. dan mungkin kesediaannya mendengar keluh-kesah di saat dia terperangkap masalah pekerjaan. ditambah, kata-katanya yg entah bagaimana dapat mendamaikan jiwa. itu saja, ya. ah, satu lagi. kepeduliannya terhadap sesama, termasuk kepada binatang-binatang telantar yang dengan suka-cita dipelihara di rumahnya yang sudah penuh sesak dengan binatang. dan tentu, kesukaannya membawa hasil masakan eksperimental, yang tak jarang rasanya luar biasa tidak enak!

dan sekarang Saraswati seakan berada di benua yang lain, dengan teman-teman barunya. perempuan itu bagai burung yang terbang lepas di angkasa, sulit utk dijerat kembali ke penangkaran hati Bima. dia sudah melupakanku, pikir Bima. pasti karena kata-kataku yang menyakiti hatinya. kata-kataku menyakiti hatinya, iya, mungkin begitu. "Aku terlalu sibuk dengan diriku dan pekerjaanku. Aku dapat apa? Aku kehilangan Saraswati." Bima menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.

Bima merasakan bagaimana hari demi hari berlalu dengan hampa. ada yang hilang dan meninggalkan celah kosong di hatinya. lubang itu menganga, namun tiada yang mampu menutupnya. tak juga kesibukan kerja atau wajah-wajah perempuan cantik yang setiap hari ditemui dan dicoba untuk diakrabinya. tetap tak bisa.

di relung hatinya bersemayam pertanyaan yang tak kunjung dicarikan jawabnya: akhir apa yang kau kehendaki, Bima?



"Women Sadness" by Keti Haliori [visit her at www.keti-haliori.com]

My very subjective, selfish recommendation of 2009-2010 movies selection in diff'rent mood



mood: happy.
target: stay happy.
best choice: Alvin & The Chipmunks 2 - The Squeakquel
other: The Proposal, Fame, Cloudy With A Chance of Meatballs

mood: challenging.
target: pengen liat yang aneh-aneh; serem banget, misterius banget, atau tolol banget.
best choice: The Avatar
other: Shutter Island (serem banget), Sherlock Holmes (misterius banget), New Moon (ehm, tolol banget)

mood: need therapy to carry on life.
target: turun dr tempat tidur setelah berjam-jam/berhari-hari diam di situ.
best choice: Precious
other: Love Happens, Up In The Air, Penelope 

mood: plainly playful.
target: ngakak tak terkira, seru-seruan.
best choice: Spy Next Door
other: Did You Hear About The Morgans?, Princess & The Frog, Air Terjun Pengantin, Iron Man 2

mood: seeking inspiration.
target: begin a new career, or mendaftar kursus bahasa/jahit/hairstyle/driving, yang sudah lama didamba.
best choice: Wonderful Life
other: Blind Side, Fame, Invictus, Julie & Julia

mood: lusty-love.
target: pengen liat adegan lelaki-pere bergairah ke arah "anu-anu" (baik dlm koridor romantisme dan seni visual yg cantik atau buruk).
best choice: Nine
other: It's Complicated, The Rebound, Suster Keramas

mood: romantic love
target: geli-geli basah (?).
best choice: Leap Year
other: Post Grad, 500 Days of Summer, Love Happens, When In Rome, Valentine's Day

mood: revenge, hatred, crazy-madness-bloody violence desire.
target: paling tidak rasa ingin menonjok seseorang yang sedang mengganggu pikiran bisa tersalurkan.
best choice: Inglorious Basterds
other: Rumah Dara, Not Forgotten, Ninja Assassin

mood: melancholy
target: menangis meraung, merintih, banjir air mata
best choice: Benjamin Button
other: Lovely Bones, Astro Boy, Brothers

mood: sleepy (1).
target: melek.
best choice: Rumah Dara
other: Paranormal Activity, Spy Next Door

mood: sleepy (2).
target: immediately lose grip on conscious.
best choice: Veronica Decides To Die
other: Last Legion, Precious, Wonderful World, Sang Pemimpi