Life, stranger than fictions..

Welcome to my blog! It's a pleasure to have you here reading my hyperbolic scribbles. Some are archived stuff from my other blogs (inactive ones), some are brand new ideas. My words will be too much, overrated, out of line, dysfunctional, confusing, impractical and sometime don't make any sense. But in a hand, they have released my tense.
So enjoy these imaginarium of free mind. In a case you are interested to drop a line, or jes wanna appreciate any posts, don't be hesitate. Do your deed! Release those hustle-bustle inside your brain!

Monday, January 31, 2011

[archieve] Cerita seputar selular

Siapa manusia Jakarta yang sehari-harinya tidak dilengkapi alat komunikasi yang paling mobile, selular? Selular, handphone, atau HaPe, sudah bukan barang mewah lagi. Mungkin yang bikin beda kasta cuma tipe atau kecanggihan si gadget. Sekarang ini rupa-rupa fitur dipepatkan dalam alat berdimensi sekecil itu: kalkulator, alarm, kamera, speaker stereo, perekam bunyi, pemutar musik, radio, penangkap siaran tivi, sampai koneksi internet. Semua dimaksudkan untuk memudahkan hidup sang pemilik. Itu kata pabrikan yang bikin...

Ada nih seorang teman baik yang gemar ganti-ganti HaPe. Dulu, waktu kami sering berwisata kuliner, dia merasa butuh HaPe dengan kamera beresolusi tinggi. “Untuk menangkap momen dan ambien,” katanya. Lama-lama perjalanan kita rada melambat karena isu berat badan dan penipisan isi dompet. Percakapan-percakapan panjang di tengah malam pun berkurang drastis. Maka dia membeli HaPe lain dengan bersistem CDMA. Karena tarif murah, kilahnya. Tapi kemudian dia kerepotan karena harus pegang dua HaPe. Digantilah set HaPe CDMA bawaan operator dengan sebuah HaPe yang mampu memakai dua sistem CDMA dan GSM. HaPe dengan kamera resolusi tingginya diberi nomer GSM lain. Jadi, dua HaPe masih di genggamannya. Terakhir, HaPe berkamera ditukar tambah dengan HaPe super canggih yang berparas dan berperilaku bak Blackberry. Katanya, HaPe itu bukan untuk bertelepon ria melainkan untuk koneksi internet. “Dengan begini, bisa selalu update status di fesbuk,” ujarnya. Dia tetap pegang dua HaPe lainnya.







Teman yang lain mendapat pinjaman (lungsuran) HaPe berdimensi mirip Blackberry dari kantor barunya. Satu-satunya cacat dari selular itu adalah ‘kelemotannya’: makan waktu 5-6 menit untuk mengirim 1 pesan SMS. Selama proses pengiriman tidak bisa menerima panggilan. Rencananya benda pinjaman itu akan ditarik lagi oleh pemiliknya, maka teman saya siap-siap mencari pegangan baru. Pilihan jatuh pada HaPe setipe dengan yang dimiliki teman baik saya di atas. “Gue butuh koneksi internet, Cip. Lagipula HaPe itu sudah 3.5G kan? Pasti cepat deh,” begitu dia berargumen. Tapi apa daya, ketika kita browsing ke mal, isi dompet tidak memadai. Bantuan kartu kredit saya juga tidak menolong. “Gila, mahal banget!” jeritnya. Alternatif tipe lainnya tidak dilirik sama sekali. Susah memang kalau pilihan sudah jatuh pada tipe yang paling superior. Lainnya jadi terlihat kuno sekali!

Lain lagi dengan sepupu saya yg selalu berubah HaPe setiap kali kami bertemu. “Sekeun. Beli dari tetangga. Murah mbak,” katanya. Di lain waktu, dia sudah pegang HaPe baru, “Yang ini bisa simpan MP3 sampai 100-an!” Tak lama, HaPe dia sudah lain lagi. “HaPe ini ada banyak games-nya, mbak. Lihat tuh, ada Sims. Kapasitas memorinya besar,” jelasnya. Saya tersenyum saja melihatnya.

Abang saya terkenal sangat slebor dg HaPe (dan barang-barang lainnya). Entah melayang kemana alam sadarnya, tapi HaPe dia hampir tidak pernah bertahan lebih dari sebulan. Kalau tidak tertinggal di suatu tempat, ya hilang diambil pencuri (karena tergeletak sembarangan). Pernah secara tidak sengaja saya menemukan HaPe dia di balik tumpukan majalah dan koran, dalam keadaan mati (batrenya habis). Setelah dihidupkan, ada sekitar 20-an miscall dan sejumlah SMS baru.

Ada lagi teman SD yg suka mengunduh ringtone dan gambar-gambar dari HaPe saya. Terakhir HaPe-nya malah dibeli teman sekantornya karena kontennya dinilai bagus. “Ditawar tinggi. Sebenarnya sayang, tapi kapan lagi? Keburu harganya tambah jatuh,” begitu jelasnya. Dia lalu membeli HaPe baru lainnya, yang kapasitas penyimpanannya besar. Lalu dia mulai mengunduh semua konten dari HaPe saya. “Tapi suaranya bagusan dari HaPe elu, ya?” sesalnya. HaPe sebelumnya se-merk dengan HaPe saya.



Saya sendiri sudah pegang HaPe yg sekarang selama 4 tahun lalu. Generasi pertama yang berfitur kamera dengan resolusi lumayan. Kapasitas penyimpanannya amat kecil dibanding HaPe-HaPe masa kini. Saya beli ketika baru diluncurkan, jadi terbayang harganya masih sangat tinggi. Kondisinya sudah lumayan belel. Selain sering terjatuh, pernah beberapa kali tercebur ke got tempat wudhu’ dan (maaf) kloset. Blup-blup-blup, trus mati. Saya hampir pingsan waktu pertama kali sadar HaPe masuk ke dalam kloset. Sesuai petunjuk saudara yg pernah bekerja di tempat reparasi selular, saya langsung membuka batre, sim card, dan berusaha mengeringkannya. Mulai pakai tissue, hairdryer, disinari lampu duduk, sampai dijemur di terik matahari. Tiga hari dunia sepi karena HaPe ko'it. Alhamdulillah, HaPe itu menyala lagi di hari keempat, meskipun ada bercak jalan air di display-nya. Saya berkaca-kaca sedih melihat bercak itu. Khawatir kalau tiba-tiba blep, mati. Mau dilego juga pasti harganya anjlok, atau malah tidak ada yg mau beli. Tiap malam HaPe itu saya letakkan di bawah sinar lampu duduk di samping tempat tidur. Ajaib. Sebulan kemudian bercak itu hilang!


Awal tahun lalu saya sdh ancang-ancang mau ganti HaPe. Tapi batal gara-gara musibah mobil tertabrak bus. Awal tahun ini sedikit terpikir untuk lihat-lihat HaPe baru. Tapi kok sepertinya HaPe tua saya masih bagus, ya?

Ngomong-ngomong HaPe tua, sebenarnya saya harus malu dengan teman saya yang lain lagi. Dia manajer pertunjukan sebuah teater seni yang sedang hip di Jakarta. Teman saya ini bergaul dengan berbagai kalangan, gayanya cukup trendi, dan up-to-date dengan kemajuan zaman. Pasti Anda mengira HaPe-nya semodern pemiliknya? Tidak, salah. Sure, dia pegang dua HaPe (menandakan pemiliknya sibuk), tetapi dua-duanya “busuk”! Salah satunya dari merk yang sekarang sudah tidak eksis lagi, yang kalau diaktifkan langsung memancarkan cahaya biru mesum. Belum berwarna lengkap spt HaPe-HaPe sekarang. Bentuknya mirip ulekan batu dari zaman prasejarah, lapisan luarnya kusam dan ngletek di sana-sini. HaPe satunya lagi lebih parah. Setiap kali ada panggilan, teman saya akan langsung menjawab: “Maaf, gue lagi sibuk. Kirim SMS aja, tulis urusan elu di situ. Nanti gue akan hubungi elu.” Banyak yang komplen, menduga itu voicemail. Tidak, salah lagi. Sesuai bocoran dari teman saya ini, suara lawan bicaranya konon sudah tidak bisa didengar lewat receiver HaPe itu. Makanya dia meminta lawan bicara untuk kirim SMS. La wong pas diangkat enggak terdengar suara apa-apa! He-he-he… Tapi teman saya tidak mau mengganti HaPe busuknya itu. “Buat apa? Yang penting ‘kan berfungsi. HaPe itu untuk menelepon, so far gue masih bisa pakai kok!” kilahnya. Benar juga.



"Cellular Film Grain," www.danceantonini.org




Saya jadi malu kalau tiba-tiba berhasrat ingin mengganti HaPe. Kondisinya masih baik. Lagi pula belum ada fitur tambahan yang mengakomodir kebutuhan saya: setrikaan. Jadi, bisa merapikan blus kusut sambil menjawab panggilan.

“Ring, riiing...!”
“Halo? Ouch! My ear!”

[archieve] Slumdog Millionaire: slummy face of India

Antara bangga, pedih, atau jujur? Film pemenang Golden Globe dan Oscar, "Slumdog Millionaire", berceloteh dengan gamblang tentang sisi gelap kehidupan pinggiran Kota Mumbay. Tentang kehidupan sepasang kakak-beradik warga muslim yang berubah kehidupannya setelah ibu mereka menjadi korban serangan warga Hindu. Mereka lalu dibawa oleh Maman, pemimpin sindikat pengelola anak jalanan yang kemudian mengeksploitir mereka untuk mengemis atau mengamen.

Salim & Jamal Malik, diikuti oleh seorang anak perempuan yang juga kabur dari kerusuhan antar etnis Muslim-Hindu itu mulanya bersyukur karena dibina Maman. Sampai pada suatu malam Salim melihat sendiri teman-temannya digilir di sebuah kegiatan yang disebut 'malam audisi'. Untuk menambah 'nilai jual' mereka, bagi anak-anak yang cukup 'berpotensi', sindikat itu melukai mata, memincangkan kaki, atau membuat anak-anak itu cacat permanen agar sasaran mereka bersimpati dan memberi uang lebih.

Maka, kaburlah abang-adik itu. Jamal berusaha mengajak Latika. Tapi ketika Latika berusaha menyusul mereka yang sudah di atas gerbong kereta, Salim tak menarik tangannya. Setelah itu Salim dan Jamal berkelana menjadi anak gerbong kereta, berjualan apa saja dan mencuri, sekadar untuk mnyambung hidup. Jamal sempat menjadi tur guide di Agra, sementara Salim memobilisir anak-anak lain untuk bekerja padanya. Sampai akhirnya mereka terdampar di suatu restoran di sebuah hotel. Salim yang berbakat menjadi preman dan ingin cepat mendapat uang, tidak betah di situ. Ketika mereka menemukan Latika sedang dipersiapkan menjadi 'santapan' om-om India di suatu distrik red-light, Salim menembak mati Maman dan membawa Latika ke gembong kejahatan lainnya, Javed. Ia menjadi antek Javed sementara Jamal pergi dan bekerja sebagai 'chai wallah' (anak penuang teh tarik) di sebuah kantor call center di Mumbay.

Bertahun-tahun kemudian Jamal berhasil melacak telpon Salim. Mereka bertemu lagi. Jamal yang cinta mati dengan Latika, menanyakan keberadaan belahan jiwanya itu. Latika rupanya dipelihara oleh bos gembong kejahatan tempat Salim bekerja. Jamal lalu mengajak Latika kabur dengan menemuinya di stasiun kereta esok harinya. Tapi naas, rencana mereka tercium Salim. Karena tahu Latika suka menonton kuis 'Who Wants to Be A Millionaire', Jamal berusaha menjadi peserta program tivi itu. Dia berhasil. Bahkan sampai di babak akhir yang menentukan... 







Sebenarnya film yang dipuja-puji kritikus film di seantero jagad ini diawali dari adegan Jamal yang sedang berlaga di kuis yang sudah mendunia itu. Teknik Danny Boyle 'mengocok' alur, bolak-balik dari masa kini ke masa lalu, tersulam dengan cantik melalui jawaban-jawaban Jamal yang didapat dari pengalaman-pengalaman kelamnya sebagai 'slumdog' (gembel). Jamal yang buta huruf dan hanya pernah memegang sebuah buku dongeng tentang 'the 'three musketeers' bisa mengetahui nama presiden Amerika yang wajahnya tertera di lembar seratus dollar yang ia dapat ketika menjadi tour guide di Taj Mahal, tip dari seorang turis Amerika. 6 tahun kemudian dia bertemu lagi dengan salah satu anak jalanan yang dibuat buta, lalu si buta itu mencium uang itu dan menanyakan wajah orang yg ada di uang tersebut. Setelah disebutkan deskripsinya, si buta menyebut 'Benjamin Franklin'. Itulah jawaban bernilai jutaan rupees di kuis WWTM versi India yg dipandu Anil Kapoor...

Film ini berhasil membangun visual slummy kehidupan perkotaan di India, yang konon super-kumuh dan penuh konflik, menjadi sangat nyata dan alamiah. Budaya mereka yang suka menipu turis, penyuka sinema Bollywood, tradisionalis, bangga akan Bajaj dan supernaturalis ditampilkan dengan apik, meskipun jadinya nggilani (kalau tidak miris). Konon Simon Beaufoy (penulis skenarionya) melakukan riset dengan mewawancara 3 anak jalanan dan mengaku sangat tersentuh dengan cerita mereka yang lucu, penuh petualangan, ironis, dan seringnya (terutama bagi mereka yang berasal dari negara yang sudah mapan) 'menakutkan'.

Menurut saya, film ini pantas meraih Oscar. Nilai-nilai universal tentang persahabatan, perjuangan, cinta, dan faith dikemas dengan tidak menggurui. Tidak ada jeda untuk bosan atau merasa nista. Satu hal lainnya yang saya hargai dari film yang berhasil merangkum genre suspence, komedi, romance, slasher dan action dalam satu paket ini, yakni ending-nya. Tetap, para pemainnya unjuk-gigi menari ala film Bollywood! India, India...

Sunday, January 30, 2011

[archieve] Apa benar badai pasti akan berlalu?

through all the problems and barriers, humankinds carry on their virtuous civilization to the end of time..




01
suatu malam seorang gadis pergi menembus berjuta rintangan untuk menemui belahan jiwanya. sudah lama ia menantikan momen ini. gadis itu menderita sesak karena rindu, mengkhayalkan kebahagian bila kekasih hatinya hadir di setiap gerak-hidupnya, dan sering terlelap dalam mimpi-mimpi indah bersamanya. belasan tahun berlalu. setelah rute panjang dan penuh halangan terlalui, kini karpet merah yang anggun terbentang di hadapannya. di ujungnya, sang tambatan jiwa menunggu sambil membuka kedua tangannya. tapi gadis itu tak melangkah maju. ia terdiam mematung. ia memandang sosok di hadapannya dan berharap dirinya-lah yg menghampirinya..

02
lelaki bertubuh hitam kemilau karena peluh itu mengangkut karung-karung berat berisi umbi-umbian dari sebuah truk sayur-mayur. hari ini ia ingin menyelesaikan pekerjaannya seorang diri, biar hasilnya ia saja yg menerima. sudah ditetapkan hati untuk menguras semua tenaga dan kemampuan ototnya. semua demi memperbaiki rumah gubuknya yang nyaris roboh termakan keganasan alam. tapi ia tahu usahanya akan sia-sia. tubuhnya kian lemah karena gizi yang buruk. terlalu banyak penghematan yang ia buat sehingga makan pun tak lagi terasa nikmat. dan gubuk itu pada akhirnya akan terhempas mencium landasan. namun lelaki itu terus mengangkut karung-karung berat berisi umbi-umbian tanpa hirau akan rasa ngilu di sekujur tubuhnya.

03
sepasang sahabat berlainan jenis sedang menghabiskan waktu bersama. mereka berbincang, bersenda-gurau, mengenang masa lalu yang indah. tiba-tiba ada hasrat lain yang singgah di relung jiwa yang terdalam. keduanya terkesiap, saling berpandang, menanti letupan kecil yang pasti mampu memicu leburnya pertahanan. mereka sesungguhnya sudah tak kuasa menahan lagi. tapi tak ada yg terjadi. mereka hanya terus saling memandang hingga sang surya hilang di ufuk yang berubah jingga.

04
seorang istri menatap nanar suaminya yang lagi-lagi tak mampu membuatnya bahagia. lelaki di hadapannya menutup wajah dengan kedua telapak tangan, dadanya bergetar, ada isakan suara tangis. ia berusaha menenangkan, mencabut kata-kata perpisahan yang sempat tak sengaja terlontar dari mulut laparnya. tapi tak lama ia menarik diri, kembali menatap nanar suaminya yang kini bergelung bak jabang bayi di ranjang yang ditutupi helai kain berhias benang emas. ia tak tahu apakah kesempurnaan hidup semata-mata hanya dapat terpenuhi oleh hal yang satu itu?



Tetapi jika kamu tergelincir setelah bukti-bukti yang nyata sampai kepadamu, ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana. [02:209]








Sonata di stasiun kereta [teaser part 01]

Sudah lama Soni menunggu di bangku Stasiun Kota, hampir genap dua jam. Tidak biasanya dia bisa bertahan selama itu. Sungguh sebuah dorongan moral yang kuat yang meneguhkan dirinya untuk menanti dalam ketidakpastian. Ini gila, serunya dalam hati. Mana mungkin perempuan itu memegang janjinya? Kita baru bertemu sebentar, belum banyak hal yang dia ketahui darinya. Mengapa aku bisa sebodoh ini, makinya. Kepalanya tertunduk dalam-dalam.

“Kepada para calon penumpang kereta ekspres jurusan Bogor, diharap menunggu di jalur empat.”

Itu sudah kali ketiga kereta yang harusnya dia tumpangi melintas dan menertawai kekukuhannya. Ada apa bung? Engkau pikir di zaman ini masih ada romantisme picisan macam novel-novel angkatan pujangga baru; yang memberi selembar sapu tangan (bukan terbuat dari sutra pula!) untuk mengikat janji? Aku pasti sudah usang dan kelu terhadap dunia yang selalu ku anggap munafik dan penuh tipu-daya sehingga bisa dengan mudahnya aku mempercayai kenaifan dan ketulusan yang terpancar dari sepasang mata itu. Soni merutuk sendiri.

Tapi, dia lantas terpesona pada ingatannya.

Mata itu. Aku belum pernah melihat kelembutan dan kepasrahan yang sebegitu jelasnya. Sinarnya. Ya, sinar matanya laksana lentera yang mencerahkan. Tiba-tiba kekuatan yang sempat memapar jiwanya menebal lagi. Teringat dia pada pancaran sepasang mata yang, --wah, sebenarnya tidak ada yang begitu istimewa dari mata itu, sungguh. Malah agak kuyu. Ya, begitulah. Tapi pandangannya cerdas, lembut, menenangkan. Sepertinya si pemilik sudah seringkali menjadi saksi atas bermacam tragedi sehingga tak ada lagi yang perlu dikhawatirkan dalam hidupnya.

“Gila!” seru Soni lagi sambil menepis peluh yang mengalir perlahan dari dahinya. Dia tersenyum saja melihat jarum jam tangannya bergeser pelan, mengarah ke pukul 8. “Seharusnya aku sudah di rumah!”



***



Awal ceritanya bermula ketika Soni berangkat ke kantor seperti biasanya dari Stasiun Bogor. Senin, sekitar pukul 7, jelas Soni sudah tertinggal kereta ekspres yang hari itu berangkat tepat waktu di pukul 6.40. Karena kereta selanjutnya baru muncul pukul 7.40, maka dia serta-merta menaiki kereta ekonomi pukul 7.15. Soni paham konsekuensi menumpang kereta non-ekspres; selain tidak nyaman, kereta ini patuh berhenti di setiap stasiun. Mulai dari Cilebut, Citayam, Depok, sampai stasiun-stasiun kecil seperti UI atau Cawang. Dan pemberhentiannya adalah di Stasiun Gambir, kereta ekonomi tidak diperkenankan berhenti di sana. Soni sudah mengantisipasi dengan turun di Stasiun Juanda, lantas naik ojek ke kantornya yang terletak di bilangan Thamrin. Terbayang dirinya akan mengalami hari yang panjang saat itu. Tapi, Soni tidak menyesalinya…

Setelah bergerak lamat-lamat meninggalkan Stasiun Kalibata, sekelompok orang masuk mendorong penumpang-penumpang lain yang sudah bergelantungan sejak dari Stasiun Lenteng Agung. Sesaat dia tak memperhatikan suasana di sekelilingnya dan terus mendengarkan musik yang dialunkan dari iPod-nya, namun dalam sejurus Soni mendongakkan kepala ke arah perempuan yang kini berdiri di hadapannya. Perempuan itu sedang memandang kosong ke arah pemandangan di luar jendela di depannya, sambil satu tangannya mencengkram tuas kereta dan tangan lainnya memegang sebuah tas kulit coklat. Dari pakaiannya Soni menebak dia pasti bukan orang kantoran, karena meskipun memakai atasan blus formal tetapi dipadu bawahan jins yang sudah pudar warnanya. Perempuan ini tampak tidak memakai riasan yang tipikal karyawati, ya begitulah. Hanya bedak dan, oh dia tidak memakai pewarna bibir pula. Sepatunya pun model kasual, solnya karet dan rata saja. Entah pekerja di pusat perbelanjaan, agen asuransi, atau mungkin mahasiswi sebuah perguruan tinggi.

Ketika sedang asyik memperhatikan, tiba-tiba mata Soni bersirobok dengan perempuan itu. Itulah kali pertama dia tersambar eforia yang tak dimengertinya. Tidak diduga pandangan dari perempuan itu sama sekali tidak mengintimidasinya, tidak seperti pengalaman-pengalaman lain ketika dia usil tertangkap basah sedang memperhatikan seseorang. Justru Soni merasa disapa dengan ramah dan ada aliran gelombang persahabatan yang secara elektris disalurkan dari sinar mata itu. Alih-alih mengalihkan pandangan, Soni tersenyum dan tanpa sadar mengucap “halo,” yang kemudian dibalas dengan sopan oleh perempuan itu. Dia lalu memalingkan pandangannya kembali ke pemandangan di luar sana.

Soni menunduk. Mengapa dia ingin sekali melanjutkan pembicaraan? Apa kira-kira topik yang dapat menarik minat perempuan ini?








Wednesday, January 26, 2011

Kisah Saraswati & Bima: Pertemuan [teaser 3]

(the agony ends here)



“Saras!”

Rasanya jantungku berhenti berdegup. Di musim dingin yang berkepanjangan ini suasana hatiku tidak karuan, selalu emosional. Mungkin pengaruh kedinginan, atau kebosanan akut akibat empasan badai-badai salju yang jadi menahanku berdiam di apartemen. Kedinginan yang tak hanya jasmani, juga rohani. Hans, suamiku, pun tak mampu menghangatkan jiwaku. Karena sejak aku menerima lamarannya sepuluh tahun lalu, aku sadar aku akan hidup dalam kebohongan. Dia hanya pelarianku. Pelarian dari sosok lelaki di hadapanku kini. Lelaki yang sekarang wajahnya terlihat lebih tirus, kulitnya lebih gelap, rambutnya lebih berantakan. Sebentuk tas ransel tua hinggap di punggungnya. Punggung itu, aku ingat dulu pernah merengkuhnya. Dulu sekali. Aku tak pasti, mungkin 12 tahun yang lalu. Ya, 12 tahun yang lalu.




“Aku mau bilang sesuatu.”

Tangan lelaki itu menggapaiku. Ada aliran elektrik menjangkiti kulitku yang tersentuh kulit tangannya. Ya Tuhan, aku benar-benar membeku! Tapi darahku mengalir deras, tubuhku kepanasan. Dan, oh apa ini yang membuat dadaku tiba-tiba berdebar keras? Kedua kaki ini, mengapa lemas sekali? Telapak tanganku pun mulai melembab, rasanya aku tak akan lama bertahan dalam kesadaran..





“Saras, aku.. aku..”

Aku tak tahan lagi. Mengapa harus ada penjelasan, mengapa? Tak perlu ada kata-kata, aku bahkan tak butuh apa-apa lagi. Toh jiwaku sudah hancur berantakan dihantam pukulan gulir masa dan kenangan yang kejam menertawai pertahanan lemahku. Bagai seuntai bulu aku tertiup hasratku sendiri, laju menuju pelukan lelaki itu. Dan pertemuan dua fisik ini seperti yang seharusnya; seperti kayu yang tersambar api dan mereka menyatu, dan tak mungkin terpisahkan lagi. Dan aku merasa waktu berhenti berjalan. Damai. Tiada beban keduniawian yang melelahkan. Tiada suara-suara rengekan ketiga anakku, suara dramatis penyiar televisi yang menyebar kekalutan dari setiap tragedi, suara alarm pagi yang memecahkan syaraf otakku, suara mesin kopi dan microwave laknat yang menghilangkan kenikmatan makan. Tiada apa-apa lagi. Hidupku sudah tercukupi sekarang. Aku siap mati, Sang Pencipta!





“Saras?”





“Sshh.. Bima, tak perlu. Peluk aku saja.”









Den Haag, South Holland. Mid of November 2010

Tuesday, January 25, 2011

Do you love me? [Rumi]

A lover asked his beloved,
Do you love yourself more
than you love me?

The beloved replied,
I have died to myself
and I live for you.

I’ve disappeared from myself
and my attributes.
I am present only for you. 


I have forgotten all my learning,
but from knowing you
I have become a scholar.

I have lost all my strength,
but from your power
I am able.



If I love myself
I love you.


If I love you
I love myself.








"Rumah Dara" (a.k.a Macabre, a.k.a Darah) = A Slaughter House Story

13 Nov 2009. Jumat malam. Kliwon. Hujan lebat, petir bersahut-sahutan. Pukul 9 malam. Saya dan dua teman lainnya ikut mengantre di barisan orang yang rata-rata berbaju hitam. Pintu Auditorium pun dibuka. Berbondong-bondong manusia masuk, wajah mereka mulai berubah pucat. Aliran rasa kecut di dalam hati. "Nekaaad!" lirih teman saya yang sadar dirinya terjebak ikut masuk. Akankah dia sanggup menyaksikan adegan-adegan penyiksaan bersimbah darah selama 95 menit nanti? "Bo, gue duduk di deret pinggir ya biar bisa keluar duluan?" pesan teman saya di penghujung lorong masuk.. 



Akhirnya, proyek film pendek "Dara" besutan duo sutradara 'Mo Brothers' (Kimo & Timo) jadi juga versi panjangnya. Kalau setahun lalu saya 30 menit terpana dengan suguhan kisah si misterius chef Dara yang ahli membuat steak lezat berbahan daging manusia (mengingatkan pada salah satu kisah rekaannya Alfred Hitchcock, lupa judulnya), Jumat lalu saya dibuat 'menganga' dengan suguhan pembantaian manusia yang tak habis adegan muncrat darahnya.

Secara cerita, versi panjang kali ini sudah jauh berbeda. Versi pendek dulu boleh saya bilang alirannya suspence, nggak gore amat. Ada kisah misteri yang cenderung seksi, dan adegan gorok-gorokannya masih 'cepat & bersih'. Si Dara (Danish Shareefa) juga tampil elegan, nggak banyak bicara (tapi banyak membantai, hahaha), dan gerakannya efisien. Film berdurasi 30 menit itu menjadi paket tontonan yang pas, baik dari segi cerita maupun teknik presentasi visualnya (baca: nggak lebay).

Nah, versi panjangnya memang lebay pol. Selain ceritanya banyak menyimpan PR (terutama karakter keluarga bu Dara & motif-motif pembantaian yang mereka lakukan), leleran darah manusia juga nggak habis-habis mengalir di sepanjang 3/4 film.Totally freaking gruesome! Semua jenis trik kekerasan ada di film ini; kepala copot dipotong gergaji mesin, nadi diiris pisau belati, tombak menghunus perut, tusuk kondek menancap di leher, dll. Banjir darah, deh! Definitely NOT recommended for those who failed medical schools of their phobia of blood..

Tapi ada beberapa hal yang saya apresiasi dr film ini: teknik kekerasannya cakep, seperti nyata. Saya suka dengan akting Arifin Putra yang ekspresif dan seperti sungguh-sungguh 'menghajar' korban-korbannya. Bahkan saat dia mau menghabisi Julie Estelle, nggak ada excuse korbannya itu perempuan. Equal, smuanya harus mati. Kalau aktingnya Danish, menurut saya sih lebih asik di versi pendeknya. Namun bagi yang baru lihat karakter dia di versi panjang, pasti merasa dia cocok memainkan peran itu (secara wajahnya Danish kan unik gitu). Untuk perannya kali ini, Danish diganjar penghargaan best actress di Puchon Fantastic Film Fest. Filmnya sendiri dipuja-puji penggemar genre gore/slasher di seluruh penjuru dunia (Rumah Dara udah keliling di festival-festival film fantasi). Saat ini, dengan judul "Darah", film debutan Mo Brothers ini lagi bikin heboh penggemar film di Singapura. Congrats!

Menurut info dari duo sutradara yang memberi speech di opening INAFFF 2009 lalu, film ini akan tayang di bioskop-bioskop Indonesia mulai Januari 2010. Saya nggak yakin film ini akan utuh. LSF bakal memotong abis adegan-adegan sadistisnya. Para fans film gore/slasher yang sempat ke INAFFF 2009 sangat beruntung. 



My invitation and special edition of a film magazine.


The movie was screening in a fictions and fantassy films festival in United State.