Life, stranger than fictions..

Welcome to my blog! It's a pleasure to have you here reading my hyperbolic scribbles. Some are archived stuff from my other blogs (inactive ones), some are brand new ideas. My words will be too much, overrated, out of line, dysfunctional, confusing, impractical and sometime don't make any sense. But in a hand, they have released my tense.
So enjoy these imaginarium of free mind. In a case you are interested to drop a line, or jes wanna appreciate any posts, don't be hesitate. Do your deed! Release those hustle-bustle inside your brain!

Tuesday, April 05, 2011

Dream Home: A Story of Realistic Obsessive Mind [archieve]


21 Desember 2010, saya dan teman di redaksi sebelah diundang press-screening sebuah film slasher buatan Hongkong berjudul Dream Home. Film ini tak lain adalah 'surprise movie' festival film horror dan fantasi (INAFFF) 2010 lalu. Saya dua kali datang ke festival itu; dua-duanya enggak kebagian tiket! Salut untuk tim INAFFF 2010. Semoga tahun depan lebih sukses lagi!

Back to Dream Home. Awalnya saya (agak) under estimate film yang dibintangi oleh Josie Ho ini. Meskipun saya curiga juga, kenapa film buatan Hongkong yang penampakan posternya asosiatif sama film-film Hongkong tipikal kelas B ini bisa jadi surprise filmnya INAFFF 2010. Ketika saya baca kritiknya, film ini disebut terlalu sadistis dan penuh bumbu seks. Terbayang sudah film-film horror yang penuh cipratan darah akibat tusuk-tusukan dan "tusuk-tusukan", hehehe..

Ternyata eh ternyata, to tell you the truth, menurut saya ini film slasher yg paling touchy dan realistis yang pernah saya tonton! Okelah kalau disebut penuh bumbu seksual, tapi mungkin memang itu penggambaran yang paling nyata dari kehidupan metropolitan di kota sekelas Hongkong. Diceritakan seorang gadis telemarketing yang bekerja menawarkan produk perbankan, Cheng Lai Sheung. Ia terobsesi membeli apartemen mewah yang menghadap ke arah pelabuhan. Obsesi itu berawal dari kejadian-kejadian di masa kecilnya. Sebagai anak seorang kuli bangunan, Sheung tinggal di salah satu kompleks apartemen kumuh, yang pada tahun 90-an (pasca penyerahan administrasi pemerintahan dr Inggris ke Cina) mulai 'diteror' kaum kapitalis yang ingin membangun apartemen kelas atas. 

Sheung yang pekerjaannya punya konsekuensi dimaki dan didamprat klien-kliennya itu secara psikis sudah memendam bara api dalam dirinya. Selain beban janji membelikan apartemen yang layak (baca: mewah) sebelum sang ibu meninggal, ia juga bekerja 2 shift sebagai sales di butik kecil dan telah mati-matian menabung (ia selalu menolak tawaran hura-hura rekan-rekan kerjanya setiap kali mereka habis mendapat bonus).

Perjuangan keras Sheung hampir sampai di titik puncak ketika tabungannya mencukupi (setelah mendapat klaim asuransi jiwa dari kematian ayahnya--yang tidak ia tolong waktu terjadi serangan sesak napas) dan agen propertinya berhasil membuat kesepakatan dengan pemilik salah satu unit di apartemen dambaan. Tapi naas tak bisa ditolak. Karena datang terlambat dan isu moneter, sang pemilik unit tiba-tiba menaikkan harga. Sheung pusing 7-keliling, 8-putaran...

Sebenarnya apa yang saya ceritakan di atas tidak menggambarkan penuturan visual film ini. Alur cerita yang sesungguhnya loncat-loncat, pindah-pindah semaunya. Tapi bukannya bikin yang nonton jadi keder lantas hilang selera. Justru teknik flashbacking ini membuat seluruh tindakan kriminal Sheung dapat dipahami oleh penonton. Enggak ujug-ujug berbuat sesuatu saja, seperti kebanyakan film lainnya (enggak cuma di genre horror), yang bikin kita penonton rasanya bodooo bener. 

Saya juga sangat mengapresiasi penokohan Sheung yang dibuat begitu nyata, begitu manusiawi. Sangat berbeda dg tokoh-tokoh di film horror pada umumnya yang sepertinya super-power, dilindungi oleh dewa-dewi, selalu beruntung, dan anti-sakit meskipun kena pukul atau kejatuhan macam-macam benda tumpul atau pun tajam. Sheung beberapa kali tampak sial, salah sendiri, kesakitan, hampir celaka, dll. Dia benar-benar gambaran perempuan seperti saya, Anda, ibu Anda, teman wanita Anda, yang manusia lemah itu!

Tapi kekuatan obsesi dan tekanan hidup membuat Sheung nekad menghabisi 11 nyawa tanpa ampun. Dia membawa peralatan bangunan peninggalan ayahnya, yang terdiri dari palu besar, golok dan pahat, menyerusuk masuk ke unit tepat di samping unit yang ia ingin beli. Saat itu ada 2 wanita di dalamnya; majikan yang sedang hamil tua, dan pembantu RT dari Indonesia. (Iya, beneran! Dia digambarkan lagi merapikan bed cover sambil telpon-telponan dengan pembokat Indo lain. Btw, si embak ini montogggh. Tipikal korban-korban di film-film horror Indonesia jadul, hehe). Mau tau gimana mereka dihabisi Sheung? Si embak dipukul pakai palu sampai matanya copot (dan kelak, mata itu tak sengaja terinjak tuannya!), sementara si nyonya perdarahan hebat setelah disengkat dan terjatuh ke arah depan. Lalu, kepalanya dimasukin ke kantong plastik dan dihisap pakai vacuum cleaner... 

Sembilan korban lainnya tewas dengan cara yang lebih kacau lagi. Tapi kematian mereka sebenarnya enggak sengaja, jauh dari rencana Sheung, dan cara-cara menghabiskan nyawanya seperti pembantaian yang membabi-buta (a.k.a blind pig, hehe). Well, namanya juga kepepet. Jadinya emang sadis banget. Asli sadis. Tonton saja kalau enggak percaya.

Film ini mungkin enggak akan membuat Anda ketakutan pergi ke kamar kecil sendirian, atau jadi mikir 1000 kali utk beli unit apartemen. Malahan, membuat kita kontemplasi tentang dampak sosial hidup di kota yang penuh tuntutan dan minim nilai-nilai religi; apakah kita mau (siap) diperbudak nafsu dan menghalalkan segala cara untuk memiliki yang sesuatu yang superfisial?



No comments:

Post a Comment