Life, stranger than fictions..

Welcome to my blog! It's a pleasure to have you here reading my hyperbolic scribbles. Some are archived stuff from my other blogs (inactive ones), some are brand new ideas. My words will be too much, overrated, out of line, dysfunctional, confusing, impractical and sometime don't make any sense. But in a hand, they have released my tense.
So enjoy these imaginarium of free mind. In a case you are interested to drop a line, or jes wanna appreciate any posts, don't be hesitate. Do your deed! Release those hustle-bustle inside your brain!

Monday, January 17, 2011

Pernah berkendara di Jakarta dan ditabrak bus kota? Saya sudah dua kali!



Insiden tidak berdarah ini terjadi tahun 2007..




Kamis sore. Akhir Januari. Seperti kesepakatan, saya pergi menjemput teman di kantornya yang terletak di Palmerah. Kami rencananya akan menuju toko buku di Matraman untuk membicarakan rencana sesi mendongeng besok minggu. Di luar kebiasaan, teman saya itu membuat saya menunggu lama di parkiran. Entah kenapa sore itu saya ingin segera meninggalkan lingkungan 'kantor' dan menuju toko buku. Karena lama, saya memutuskan parkir di area kantor pusat untuk slash kartu karyawan. Tak lama teman saya datang, dan kami segera mengarah ke Matraman.

Jalan Jakarta sore itu layaknya sore-sore lain; padat kendaraan. Karena dari Palmerah, saya terpaksa lewat Pejompongan yang minta ampun padatnya. Bukan rute pilihan. Lalu kami lurus ke arah Manggarai, sebenarnya saya lebih suka putar balik setelah Jalan Tambak dan masuk ke Berlan. Tapi saya malah belok ke Menteng, Diponegoro, dan lurus lagi ke Salemba. Ini juga bukan rute 'kesukaan' saya. 


Mungkin sudah skenario Tuhan, waktu saya belok dari lampu merah Salemba ke arah Matraman, tepatnya di depan RS Carolus, sebuah bus kota berkode P7 jurusan Senen-Blok M menghantam sukses sisi kiri Toyota Starlet 91 yang saya kendarai. Saking kerasnya, mobil kecil saya itu terseret hingga ke pembatas busway dan membuat saya panik karena khawatir kalau mobil itu terjungkal. Saya sempat egois hanya memikirkan kondisi mobil, padahal ada satu nyawa yang patut lebih diperhatikan: teman saya yang duduk di bangku kiri depan. Alhamdulillah remukan kaca jendelanya tertahan kaca film. Kalau tidak ada kaca film, bisa jadi pecahannya berhamburan ke dalam dan menancapi wajah teman saya--yang ketika itu warnanya sudah seputih pualam karena shock berat. Kondisi jalanan memang sedang penuh, sehingga bus sial itu tidak bisa melarikan diri. Saya seketika keluar dari mobil untuk meminta pertanggungjawaban sang sopir. Dia itu sempat berkelit, tapi saya didukung masyarakat. Bahkan seorang bapak sudah bersedia meng-back up saya. Saya di atas angin, saya perintahkan si sopir menepi. Dia jalan terus, saya pikir kita akan menuju kantor polisi Matraman. Tapi tidak, dia malah tancap gas belok kanan menuju Jalan Proklamasi. Ya Tuhan, menantang sekali! Timbul jiwa sembalap ala film-film aksi; saya kejar bus itu dan saya potong jalannya tepat di depan kantor Tempo. Bam! Ketangkap kamu!

Ya Tuhan, terus terang waktu itu saya sendiri bingung harus bagaimana mengatasi perkara ini. Kalau pun si sopir kooperatif, apa yang harus saya perbuat kemudian? Bagaimana kalau nanti saya malah jadi buruan dia dan teman-temannya?


Di tengah-tengah perasaan yang berkecamuk, tiba-tiba datanglah motor patroli motor. Petugasnya lalu menanyai saya tentang kejadiannya. Saya jelaskan dengan tenang dan lancar, beliau percaya pada saya. Dia lalu memerintahkan kami menuju ke posko ditlantas di daerah Lapangan Banteng untuk menyelesaikan perselisihan. Seperti dugaan saya, hasilnya buntu. Biaya perbaikan yang kami setujui dibagi dua pun tidak bisa dia penuhi malam itu. Maka bus dia ditahan di kantor polisi sampai nanti saat kami berdua yang berselisih sudah mencapai kesepakatan. Teman saya sangat mendukung, dan saya senang dia tidak berlaku berlebihan. Akhirnya saya memutuskan mengikuti kemauan si sopir--Jepli namanya, mungkin orang tuanya dulu fans Led Zeplin--untuk mencicil biaya perbaikan hingga satu bulan. Tapi tentu bus dia tetap ditahan. Itu yang bikin pria berwajah Sumut itu pusing tujuh keliling.

Sebenarnya saya tidak tega. Kenapa harus dia yang menabrak saya? Kenapa tidak bus Patas AC, atau Lorena, atau kendaraan pribadi saja? Ini sudah kali kedua saya ditabrak bus, yang pertama oleh metromini di daerah Warung Buncit. Waktu itu saya sudah pasrah menerima kejadian itu. Dan meskipun sempat keluar mobil untuk menegur si sopir, saya akhirnya kembali ke mobil dan melepas metromini sialan itu pergi.


Anyway, urusan saya dengan bus P7 berkode 5010 berlanjut ketika Jumat sore saya ditelepon oleh sopir asli bus tadi, Pak Plasidius--Pak Jepli rupanya sopir tembak. Saya sudah juga bertemu dia di kantor polisi waktu malam kejadian itu. Pria yang saya duga berasal dari NTT itu minta bertemu Sabtu lalu untuk 'menyelesaikan masalah'. Saya datang bersama paman saya yang biasa terlibat masalah-masalah seperti ini. Pak Plasidius dan Pak Jepli sudah menunggu dari pagi, kami datang sekitar pukul 10. Hadir pula Pak Ndang dari perusahaan bus tadi. Saya lalu tersadar, kasus ini seharusnya juga menjadi tanggung jawab perusahaan itu. Tapi Pak Ndang berkelit perusahaannya tidak bisa menanggung karena Pak Jepli masih terhitung 'sopir baru'. Aneh tapi nyata.


Ya begitulah, sampai satu setengah jam kemudian kami masih belum mencapai kesepakatan. Paman saya berkeras pihak mereka memenuhi kewajibannya secepatnya (which I think they MUST!) dan selalu pasang wajah angker. Saya sendiri berusaha bersikap kooperatif dan penuh empati, sesuatu yang mungkin baru saya dapatkan setelah kejadian ini. Saya berbicara dengan jelas, pelan-pelan, sopan, dan penuh senyum. Tidak konfrontatif sama sekali. Ini kualitas baru lainnya yang saya dapat.


Sungguh kejadian yang menjadi titik kulminasi yang mencerahkan. Saya tahu saya seharusnya menangis, merintih, maratap pilu melihat mobil kesayangan saya--yang saya pelihara dengan baik, sepenuh hati, dan tidak pernah saya percayakan kepada orang lain bahkan ibu saya sendiri--hancur berantakan sisi kirinya. Tapi di situlah justru mata hati saya terbuka; apakah ini nilai hidupku? Apakah tragedi ini mengakhiri kebahagian hidup saya? Apakah saya harus marah kepada Tuhan, Pak Jepli, atau siapa pun yang bisa disalahkan? Kalau ya, lantas apa yang saya dapat dari marah-marah itu? Paling-paling kerutan di dahi dan tekanan darah tinggi.
Jadi saya memutuskan untuk menikmati apa yang disebut seorang teman dalam SMS penuh simpatinya sebagai 'musibah'. Oh tidak nona, ini justru hadiah istimewa dari Tuhan untuk saya! Saya senang bisa berurusan dengan keribetan pencarian solusi masalah ini. Tiba-tiba 'wajah seram' Pak Jepli dan Pak Plasidius berubah menjadi 'wajah manusia' di mata saya. Tiba-tiba saya dalam hati berdoa semoga kehidupan mereka berdua menjadi lebih baik setelah kejadian ini. Saya ingin berteman dengan mereka. Saya bahkan menemukan Pak Plasidius mempunyai cara yang unik ketika tersenyum, dan senyumnya itu sungguh menarik..


Begitulah, ini kali kedua saya berkendara dan ditabrak bus kota. Tapi saya tidak pernah menyesalinya. Saya bersyukur di kejadian yang kedua ini teman saya selamat, hanya mobil saja yang remuk. Bisa diperbaiki. Saya juga bersyukur ternyata banyak teman yang bersimpati, saya merasa tidak sendiri. Saya juga bersyukur karena saya bisa mengistirahatkan mobil itu sejenak setelah kesetiaannya menemani saya hampir setiap hari. Begitu banyak syukur-syukur lainnya yang saya yakin akan datang bertubi-tubi setelah ini. Pada akhirnya, saya bersyukur menjadi diri saya yang seperti ini adanya, yang ternyata begitu mudah menerima pelajaran hidup dan bertekad untuk menikmati hidup.




No comments:

Post a Comment